-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1886-saksama-tangani-nduga

Saksama Tangani Nduga

Penulis: Media Indonesia Pada: Jumat 27 Desember 2019, 05:05 WIB Editorial MI
 

PENDEKATAN kesejahteraan bagi Papua sudah tidak bisa ditawar lagi. Semua 
sepakat bahwa kesenjangan pembangunan selama ini juga menjadi faktor pemantik 
munculnya aksi-aksi perlawanan dari sebagian rakyat di sana.

Menyejahterakan rakyat Papua itulah yang kini terus diupayakan pemerintahan 
Presiden Joko Widodo sejak periode pertamanya. Pemerintah terus berupaya 
memastikan warga di bagian paling timur Indonesia itu menikmati kue pembangunan 
yang sama dengan warga negara lainnya. Setara baik dari sisi ekonomi, sosial, 
maupun akses terhadap pendidikan.

Sejumlah upaya telah dilakukan, seperti pembangunan infrastruktur dan kebijakan 
bahan bakar minyak (BBM) satu harga. Selain itu, upaya untuk menggerakkan 
perekonomian, membuka ketertutupan, dan ujungnya menciptakan kesejahteraan.

Namun, ketika berbagai upaya telah dilakukan, tetapi masih saja organ-organ 
separatisme bergentayangan, tentu pemerintah perlu bertindak tegas. Konstitusi 
bangsa ini jelas tidak membuka ruang terhadap para pengancam kedaulatan Negara 
Kesatuan Republik Indonesia.

Aksi-aksi yang dilakukan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) yang 
berafiliasi kepada Organisasi Papua Merdeka masih kerap terjadi. Tidak hanya 
melakukan rentetan penyerangan terhadap aparat, mereka juga berupaya 
menggagalkan upaya pembangunan.

Hal itulah yang seharusnya juga dipahami seluruh elemen pemerintahan, termasuk 
di daerah. Komitmen pemerintah pusat untuk mengedepankan pendekatan 
kesejahteraan dengan tetap menjaga keamanan dalam konteks antisipasi 
separatisme semestinya didukung penuh elemen pemerintahan di Papua.

Patut disesalkan jika ada pejabat daerah justru memilih mengundurkan diri, 
seperti Wakil Bupati Nduga Wentius Nimiangge, karena kebijakan semacam ini. 
Apalagi meminta aparat TNI dan Polri untuk ditarik. Padahal, ancaman keamanan 
itu masih ada di depan mata.

Pejabat daerah seperti Wentius mestinya berada di barisan paling depan untuk 
memastikan rakyatnya menikmati akses-akses terhadap kesejahteraan. Menjadi 
jembatan antara masyarakat Nduga dan pemerintah pusat serta pemerintah provinsi.

Mestinya Wentius sadar, posisinya sebagai wakil bupati bisa untuk 
memperjuangkan rakyat Nduga menikmati benefit pembangunan, mencapai 
kesejahteraan.

Termasuk juga terkait dengan klaim banyaknya masyarakat sipil yang menjadi 
korban penembakan oleh aparat keamanan, Wentius bisa memperjuangkannya lewat 
jalur hukum atau ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Artinya, posisi Wentius 
akan lebih menguntungkan bagi masyarakat Nduga jika tetap menjadi wakil bupati.

Bagi pemerintah pusat, langkah pengunduran diri Wentius yang dibarengi dengan 
isu kekerasan aparat ini tentu mesti direspons dengan bijak. Terjunkan tim 
investigasi, usut secara transparan, benarkah warga sipil atau memang oknum 
yang terafiliasi dengan KKSB. Dengan begitu, tidak muncul polemik di ranah 
publik.

Respons Menko Polhukam Mahfud MD bahwa sikap Wentius sebagai manuver politik 
praktis demi kepentingan pilkada jelas terlihat menyepelekan fakta bahwa memang 
ada warga Nduga menjadi korban penembakan aparat. Mestinya Menko Polhukam 
ataupun melalui Mendagri memanggil Wentius sebelum membuat deduksi.

Jangan sampai hanya karena sikap ketidakhati-hatian pemerintah pusat merespons 
persoalan ini justru memantik aksi-aksi perlawanan. Nduga kini sedang terluka, 
jangan sampai menjadi tambah parah.
 





Kirim email ke