*Zaman industri sekarang mau pun di hari depan tidak membutuhkan banyak
tenaga kerja manusia, ditambah dengan pesat pertumbuhan jumlah penduduk,
maka jangan didongengkan adanya lapangan kerja baru yang bertumpuk-tumpuk
diciptakan.*

https://sp.beritasatu.com/ekonomi/dampak-posetif-industri-40-10-juta-jenis-pekerja-baru-tumbuh-di-indonesia/592967/



*Dampak Posetif Industri 4.0, 10 Juta Jenis Pekerja Baru Tumbuh di
Indonesia* *Suara Pembaruan*
<https://sp.beritasatu.com/ekonomi/dampak-posetif-industri-40-10-juta-jenis-pekerja-baru-tumbuh-di-indonesia/592967/#>

Senin, 30 Desember 2019 - 17:31
<https://sp.beritasatu.com/ekonomi/dampak-posetif-industri-40-10-juta-jenis-pekerja-baru-tumbuh-di-indonesia/592967/#>

[image: ...]

*Acara tanya jawab dalam acara “Rembuk Nasional Balai Latikan Kerja (BLK)
Komunitas di Indonesia” di Kendal, Jawa Tengah, Senin (30/12/2019).*

Kendal, Beritasatu.com - Menghadapi era revolusi industri 4.0 terdapat 23
juta jenis pekerjaan di Indonesia yang terdampak oleh otomatisasi. Namun di
satu sisi terdapat 27–46 juta jenis pekerjaan baru di Indonesia berpeluang
tercipta sampai dengan tahun 2030, dimana 10 juta jenis pekerjaan di
antaranya adalah jenis pekerjaan yang belum pernah ada sebelumnya.

Selain itu diproyeksikan 6 juta sampai dengan 29 juta orang di Indonesia
harus mengikuti pelatihan lagi untuk jenis pekerjaan yang baru (
*re-skilling* dan *up-skillin*g).

Hal itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziay, dalam
sambutannya pada acara “Rembuk Nasional Balai Latikan Kerja (BLK) Komunitas
di Indonesia” di Kendal, Jawa Tengah, Senin (30/12/2019).

Ida mengatakan, kondisi ketenagakerjaan Indonesia berdasarkan data yang
dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), periode bulan Agustus 2019
menggambarkan jumlah angkatan kerja Indonesia sebesar 133,56 juta orang.

Dari data tersebut, kata dia, jumlah angkatan kerja yang bekerja adalah
sebesar 126,51 juta orang (94,72%) dan angkatan kerja yang masuk dalam
kategori pengangguran sebesar 7,05 juta orang (5,28%).

Jika dibandingkan tahun 2018, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di
Indonesia menurun 0,06%. “Namun demikian 57,54% pekerja kita masih lulusan
SD/SMP kebawah. 55,72% pekerja kita adalah pekerja informal,” kata Ida.

Berdasarkan penelitian McKinsey (September 2019), 23 juta pekerjaan di
Indonesia akan terdampak otomatisasi, dan rata-rata terdapat 248.00 pekerja
ter-PHK/tahun (BPJS TK, 2016-2018).

Salah satu penyebab pengangguran yang ada di Indonesia adalah
ketidakseimbangan antara pekerjaan dengan jumlah tenaga kerja, kemajuan
teknologi, serta kurangnya pendidikan ataupun keterampilan.

Menurut Ida, untuk transisi menuju Indonesia 4.0. dibutuhkan,
*pertama,* investasi
berkelanjutan. *Kedua*, pengembangan model pelatihan baru untuk pekerjaan
baru. *Ketiga,* program-program untuk memudahkan transisi pekerja seperti
pemagangan, *re-skilling*, dan *up-skilling*.

*Keempat,* dukungan dalam hal pendapatan melalui program-program jaminan
sosial yang lebih inovatif. Kelima, kolaborasi antara publik dan swasta.
Antisipasi terhadap pekerjaan-pekerjaan yang tumbuh di berbagai sektor,
seperti kesehatan, konstruksi, manufaktur, dan retail akan sangat
dibutuhkan.

Ida mengatakan, pemerintah saat ini berfokus kepada peningkatan kompetensi
tenaga kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. “Dan untuk jangka
pendek, pelatihan vokasi akan berperan sentral karena dampaknya yang
relatif lebih cepat bisa dirasakan oleh masyarakat dibanding pendidikan
vokasi,” kata dia.

Untuk itu kebijakan pelatihan vokasi *triple skilling* ke depan, akan
berfokus kepada tiga sasaran utama, *pertama,* *skilling* : penganggur,
khususnya penganggur muda agar siap kerja. *Kedua*, *re-skilling* : pekerja
ter-PHK, sebagai safety net tenaga kerja. Keti*ga, up-skilling* : pekerja,
khususnya untuk UKM lokal dan industri pionir/terdepan (frontier), untuk
meningkatkan daya saing nasional.

Pemerintah, dengan kebijakan *triple skilling* ini berupaya untuk, *pertama*,
mendorong para pencari kerja agar lebih mudah mendapat pekerjaan. (skilling
dan re-skilling).

*Kedua,* mendorong agar pekerja dan perusahaan semakin berdaya saing.
(up-skilling). *Ketiga,* mendorong pemenuhan kebutuhan produk dan jasa di
dalam negeri dan berdaya saing global.

Oleh karena itu, kata dia, pelatihan vokasi kedepan harus semakin
terintegrasi dengan: Informasi Pasar Kerja, Pelayanan Penempatan Tenaga
Kerja, Sistem Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

Selaras dengan kebijakan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan tahun 2019
dan seterusnya sebagai tahun pengembangan SDM, Kemnaker telah melakukan
berbagai upaya konkrit dalam pengembangan kompetensi Sumber Daya Manusia
(SDM) Indonesia.

Pemerintah memfasilitasi masyarakat Indonesia yang ingin mendapatkan
keterampilan (*skilling*), alih keterampilan *(re-skilling)* maupun
menambah keterampilan (up-skilling) di instasi pelatihan vokasi, yakni: 305
BLK Pemerintah, 5.020 LPKS, 109 Lembaga Pelatihan K/L lain, 1.799 TC
Industri serta 1.113 BLK Komunitas.

Menuru Ida, masyarakat Indonesia dapat mengakses pelatihan vokasi
(keterampilan) secara gratis di BLK) milik pemerintah, dan Balai Latihan
Kerja Komunitas di wilayah pondok pesantren.

Program pengembangan BLK Komunitas merupakan terobosan dari Presiden Joko
Widodo dalam peningkatan kompetensi SDM Indonesia untuk melengkapi soft
skill dan pendidikan karakter yang telah diberikan pada lembaga pendidikan
keagamaan dengan tambahan keterampilan atau *hard skill.*

Harapannya dengan hadirnya BLK Komunitas di lembaga pendidikan keagamaan
maka santri atau siswa dari lembaga pendidikan keagamaan tersebut serta
masyarakat di sekitarnya memiliki akses untuk mendapatkan pelatihan
keterampilan kerja 10 yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja lokal.

Kirim email ke