Mereka semua sudah mengorbankan jiwanya demi cita-cita mulianya. Jangan pernah lupa siapa, musuh kelas, yang membunuh para pahlawan rakyat itu!!! Kebenaran di pihak Rakyat Pekerja. Tak perduli ocehan para renegad...Dendam kelas tak akan pernah dilupakan! Gelombang surut perjuangan tak berarti api perlawanan mati....
19 Desember 1948: Amir Sjarifuddin DitembakMati “...Senin Pahing, 19 Desember 1948. Umur saya (waktu itu) 18 tahun. Jam 10 malamsekelompok tentara datang ke sini. Menyuruh bayan mengumpulkan warga. Katanya,mau menggali lubang buat menguburkan kerbau. (warga) Yang terkumpul kira-kira 20 orang. Sebagian disuruh membuat obor. Yanglain membawa cangkul. Pertama-tama digali lubang di Ngaliyan sini. Belumselesai digali, diminta pindah. Katanya, terlalu dekat jalan raya. Lalu pindahke Kepuh. Sempat digali di Kepuh. Disuruh pindah lagi. Alasannya terlalu gelapdan jauh. Pindah ke Karang. Sama juga, di Karang terlalu gelap dan jauh.Akhirnya kembali ke sini. Tengahmalamnya, kelompok tentara yang lain datang. Bawa rombongan bapak-bapak orangpemerintahan. Sebelas orang. Ada Bapak Amir, ada Bapak Maruto Darusman, BapakSuripno. Ada lagi Bapak Den Mangku, orang Solo. Tukang gali disuruh cepat-cepatpergi sama tentara. Saya penasaran, kok tukang gali disuruh pergi? Saya sembunyi di baliksemak-semak, mengintip apa yang akan terjadi. Saya lihat Bapak Amir dankawan-kawannya berbaris di pinggir lubang yang baru digali. Mereka menyanyikanLagu Indonesia Raya dan satu lagu perjuangan yang saya tidak tahu judulnya. Didepan mereka tentara berbaris sambil mengangkat bedil. Begitu lagu keduaselesai (dinyanyikan), tentara menembak Bapak Amir dan kawan-kawan. (mereka)Jatuh ke dalam lubang yang katanya mau dipakai buat menguburkan kerbau.”(Toekiran Hs, 17 April 2011.) Tengahmalam peralihan tanggal 19-20 Desember 1948, Amir Sjarifuddin bersama 10 orangkawannya ditembak mati di desa Ngaliyan, Karanganyar. Mereka tidak pernahdiadili atas tuduhan memimpin pemberontakan PKI di Madiun, 19 September 1948. AmirSjarifuddin merupakan tokoh penting di masa Revolusi Kemerdekaan. MantanMenteri Pertahanan dan Perdana Menteri RI ini berperan besar dalam prosespembentukan Tentara Nasional Indonesia. Sayangnya, sejarahnya sebagai pendiriTNI digelapkan. Sebab pemikiran kemiliteran yang dimilikinya bertentangandengan kepentingan “Negara Dalam Negara” yang masih dipertahankan oleh TNI.Mengungkap sejarah Amir sama artinya mengungkap sisi kelam sejarah sebagiantokoh TNI yang sudah diangkat sebagai pahlawan. Tanggal14 November 1945 Amir ditunjuk sebagai Menteri Keamanan Rakyat Kabinet SjahrirI. Di awal tugasnya mengurus pertahanan, Amir melihat laskar-laskar dan tentarareguler muncul dengan latar-belakang pembentukan yang berbeda-beda.Laskar-laskar berafiliasi pada partai-partai politik tertentu dan berbedapandangan politik satu-sama lain. Diantaralaskar sering terjadi “koboi-koboian” saling merebut pengaruh, unjuk kekuatanbahkan sampai insiden bersenjata. Tentarareguler kebanyakan berasal dari bekas KNIL dan PETA yang membentukkesatuan-kesatuan dalam TKR. Nasionalisme sebagian besar perwiranya diragukansebab pernah menjadi tentara penjajah dan mudah diperalat oleh kekuasaan yangmenindas. “Koboi-koboian” antara sesama tentara reguler, juga antara laskardengan tentara reguler, sering terjadi. (Soemarsono, 11 Juli 2013.) MenurutAmir, tentara harus memiliki satu persepsi perjuangan, tidak terkotak-kotakoleh kepentingan politik dan tidak mengabdi kepada kekuasaan yang menindasrakyat. Tentara harus mengabdi kepada revolusi, tunduk kepada otoritas sipil,hidup dan berjuang bersama rakyat ibarat ikan dengan air, bukan sebagai alatpenjaga kapitalis-imperialis dan kaum feodal. (Koran Kedaulatan Rakyat, 4 Juli1946.) Langkahpertama yang dilakukan Amir mengurus pertahanan adalah menyeragamkan persepsiperjuangan diantara laskar dan tentara reguler. Tanggal24 Januari 1946, Amir membentuk Biro Pendidikan Politik Tentara (Pepolit).Badan ini bertugas memberikan pendidikan ideologi anti-imperialisme kepadalaskar-laskar dan tentara reguler, sekaligus untuk menghilangkan pengaruh burukyang didatangkan oleh imperialis Belanda dan fasis Jepang. Materi yangdiajarkan didalamnya; politik, agama, kejiwaan, sosial dan pengetahuan umumsebagai tuntunan perjuangan. Setiap divisi didampingi oleh seorang Staf Pepolitberpangkat jenderal mayor, yang dibantu oleh 5 Opsir Pepolit berpangkat letnankolonel untuk setiap resimen. Staf Pepolit berjumlah 7 orang, antara lain:Sukono Djojopratikno, Anwar Tjokroaminoto, Wijono, Mustopo, Farid Ma’roef,Hadji Abdul Mukti, Soemarsono. (Koran Kedaulatan Rakyat, 20 Februari 1946.) Amirberusaha menyatukan laskar-laskar dan tentara reguler dalam satu payungbersama. Tanggal 25 Mei 1946, Amir membentuk Biro Perjuangan, yang menampunglaskar-laskar yang tunduk kepada Panglima Besar, yang berkedudukan dibawahKementerian Pertahanan. Amir mendorong laskar-laskar dan tentara reguler supayaterintegrasi dengan lembaga-lembaga pemerintah yang berkaitan dengan aspekpertahanan. Usaha ini berhasil dengan terbentuknya Dewan Pertahanan Negara(DPN), yang terdiri dari Perdana Menteri, Kementerian Pertahanan, KementerianDalam Negeri, Kementerian Kemakmuran, Kementerian Perhubungan, KementerianKeuangan, Panglima Besar, perwakilan laskar dari golongan Sosialis, Nasionalisdan Islam. Badan-badan yang tergabung di DPN memiliki wewenang melakukantindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan negara dari keadaan bahaya.”(de Madioen Affair, hlm. 11.) AkhirMei 1947, Amir memimpin rapat DPN. Dalam rapat mengenai perubahan nama danformasi TRI itu dicapai kesepakatan penyatuan laskar-laskar dengan tentarareguler. Soemarsono, yang mewakili Laskar Pesindo mengusulkan supaya namaTentara Republik Indonesia diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia, dengansingkatan “T.N.I”. Usulan ini diterima. Tanggal 3 Juni 1947, Tentara NasionalIndonesia diresmikan. Keanggotaannya terdiri dari tentara reguler danTNI-Masyarakat. Pucuk pimpinan TNI dipegang oleh; Jenderal Sudirman sebagaiPanglima Besar, Letjen Urip Sumohardjo sebagai Kepala Staf, Jenderal MayorDjokosujono sebagai Panglima TNI-Masyarakat, Laksamana Muda M. Nazir sebagaiKSAL dan Komodor Suryadarma sebagai KSAU. Ditetapkan pula bahwa TNI tunduk padaotoritas Menteri Pertahanan. (Soemarsono, 12 Agustus 2013..) TNI-Masyarakatberasal dari laskar-laskar, sebagian besar dari Pesindo. Jumlahnya sekitar100.000 personil dan memiliki persenjataan lebih lengkap dari tentara reguler.Oleh Amir, TNI-Masyarakat dijadikan sebagai jembatan persatuan antara tentaradengan rakyat dan diwajibkan memberi pendidikan kepada tentara supaya berjuanguntuk rakyat. UsahaAmir mengorganisir tentara mendapat tantangan dari sejumlah perwira tinggi yangtidak menghendaki otoritas sipil atas militer. Tantangan paling keras datangdari Jenderal Mayor A.H Nasution dan Jenderal Mayor Gatot Subroto.. Keduanyamenuding Amir dan golongan komunis ingin menguasai tentara melaluiTNI-Masyarakat dan Pepolit. Nasution dan Gatot Subroto melarang Staf dan OpsirPepolit mengadakan pendidikan di divisi yang mereka pimpin. Kebijakanpembangunan militer model Amir merupakan salah satu faktor bagi lawan-lawannyauntuk berkomplot menjatuhkan Amir dari pemerintahan. Tanggal 23 Januari 1948pemerintahan Amir jatuh, dia dituduh sebagai penyebab kegagalan RI dalamPerundingan Renville. Hattayang didukung oleh PNI dan Masyumi tampil sebagai Perdana Menteri menggantikanAmir. Kabinetnya bekerja atas dasar Putusan Renville. Amir merasa kecewamelihat sikap PNI dan Masyumi karena sebelumnya mendorong Amir supaya menekenPutusan Renville, tapi setelah putusan itu diteken, menyalahkan Amir sebagaipenyebab kegagalan RI dalam Perundingan Renville. Tanggal26 Februari 1948, Amir bersama Sayap Kiri membentuk oposisi FDR. Sesuaikepentingan politiknya, Hatta merubah secara radikal organisasi tentara yangdibangun oleh Amir sebelumnya. Tanggal 27 Februari 1948, Hatta mengeluarkanDekrit Reorganisasi-Rasionalisasi Tentara (Re-Ra). Dengan dalih jumlah tentara sekitar 400.000 personil terlalu besar, tidakprofesional dan menghabiskan anggaran besar, maka diadakan pengurangan hinggamencapai 57.000 personil, untuk dilatih dan dipersenjatai secara profesional.(Setiadi Reksoprodjo dalam Seminar Mengenang Amir Sjarifuddin 101 Tahun.) Celakanya,saat Re-Ra dijalankan, jumlah tentara Belanda di Indonesia sudah mencapai240.000 personil. (Suryana, Sekitar Kedatangan Musso, hlm. 35.) Dekrit Re-Ra diikuti dengan penurunan pangkat-pangkat perwira. Pangkat jenderalmayor, diturunkan menjadi kolonel, kolonel diturunkan menjadi letnan kolonel.Tanggal 15 Mei 1948, Hatta membubarkan TNI-Masyarakat, Tentara Laut RepublikIndonesia, Dewan Kelasykaran Seberang dan Pepolit. (Koran Berita Indonesia, 16Mei 1948.) Jumlahdivisi yang sebelumnya tujuh, dikurangi menjadi satu, sejumlah perwira yangmenduduki jabatan penting diberhentikan dari jabatannya lalu diangkat sebagaiperwira cadangan. Divisi Siliwangi dijadikan sebagai pasukan inti. Terkaitalasan dikeluarkannya Re-Ra, dalam wawancara Daniel Schorr, wartawan ChristianScience Monitoring dengan Hatta pada tanggal 16 Mei 1948, Hatta menjawab: ”…Tentara Republik akan dikurangi dari 460.000 menjadi 50.000 sampai 60.000personel dan akan ditempatkan dibawah Komando Gabungan Tertinggi denganAngkatan Bersenjata Belanda.” Di berbagai tempat terjadi penolakan terhadap Re-Ra. Tanggal 20 Mei 1948Kolonel Sutarto, Panglima Divisi Panembahan Senopati memimpin anak-buahnya berdemonstrasimenolak pembubaran pasukannya. Sutarto lalu mereorganisir Divisi PanembahanSenopati menjadi Komando Pertempuran Panembahan Senopati (KPPS). DiKediri, Panglima Divisi Narotama Kolonel Sungkono, memimpin pasukannyaberdemonstrasi menolak Re-Ra karena divisi yang dipimpinnya bersama DivisiRonggolawe dan Suropati akan dilebur menjadi satu resimen. Demonstrasi ini jugadiikuti oleh 20.000 pemuda. Tanggal1 Juni 1948, 30 komandan batalyon menemui Presiden menuntut pencabutan DekritRe-Ra. Di Markas Besar Tentara, muncul sikap pro-kontra atas keluarnya DekritRe-Ra. Menanggapi situasi, Panglima Besar mengeluarkan edaran kepada semuapanglima, memerintahkan untuk menghentikan rasionalisasi, berhubung denganmeningkatnya ancaman dari pihak Belanda.(Anthony Reid, Annemarie Jubb, J.Jahmin, Indonesian Serials in 1942-1950 in Yogyakarta Libraries, hlm.. 135.) Tanggal2 Juli 1948, Kolonel Sutarto ditembak mati didepan rumahnya di Solo. Antaratanggal 1 sampai 10 September 1948, dua kader PKI Solo, lima komandan batalyondan dua perwira menengah KPPS diculik oleh Siliwangi. Rangkaian penculikan inimemuncak menjadi pertempuran terbuka antara KPPS dengan Siliwangi di Solo padatanggal 13 September 1948. Pertempuran ini sebenarnya sudah dilerai olehPanglima Besar yang dilanjutkan dengan perintah menarik seluruh pasukanSiliwangi dari kota Solo dan seluruh Keresidenan Surakarta secara bersama-samadan meninggalkan KPPS yang akan bertanggung-jawab secara penuh atas penegakanhukum dan ketertiban di Solo. (David Charles Anderson, Peristiwa Madiun 1948:Kudeta Atau Konflik Internal Tentara?, hlm. 35.) TapiHatta memerintahkan Siliwangi menyerbu dan melucuti KPPS dengan alasanmembangkang terhadap Re-Ra. GRR, Barisan Banteng (BB) dan Hisbullah bergabungdengan Siliwangi menyerbu KPPS. Amirberada di Cepu pada tanggal 16 September 1948. Mendengar Siliwangi menyerangbalik KPPS, Amir menginstruksikan Sakirman supaya pasukan-pasukan pendukung PKImelokalisir pertempuran di Solo. Tapi aksi pasukan pendukung pemerintah menyasarke luar Solo. Sesudah mengobrak-abrik Kantor Pusat Pesindo, gabungan Siliwangi,GRR, BB dan Hisbullah menuju Madiun dan melakukan teror terhadap anggotaSerikat Buruh Kereta Api Madiun. Detasemen Letkol Suhud dari Sub-TeritoriumKediri menyerang dan melucuti Batalyon TLRI Munadji di Nganjuk. Di Blitar,satuan Mobrig yang dipimpin Kolonel M. Jasin dan sepasukan tentara dibawahpimpinan Letkol Rivai (dalam Clash II Rivai membelot ke pihak Belanda)menyerang dan melucuti Batalyon Mustoffa dari Brigade 29 TNI-Masyarakat.Komandannya Mayor Mustoffa meloloskan diri, bergabung dengan induk brigadenyadi Madiun. Pagihari tanggal 18 September 1948 pasukan tak dikenal berseragam hitam-hitam,berikat kepala merah dan berlogo tengkorak melakukan tindakan yang mengancamkeselamatan Brigade 29 di Madiun. Merasa keselamatannya terancam, setelahberkonsultasi dan mendapat persetujuan dari pimpinan PKI yang sedang berada diKediri, Brigade 29 bergerak melucuti pasukan tak dikenal ini. Sesudah dilucuti,mereka dilepaskan. Belakangan diketahui pasukan gelap ini gabungan dariSiliwangi, Mobrig, GRR dan BB. Kejadian ini kemudian dituduhkan oleh Hattasebagai pemberontakan PKI yang dipimpin oleh Musso dan Amir Sjarifuddin.. Tanggal1 Desember 1948 Amir ditangkap oleh tentara. Nasibnya sempat dibahas dalamrapat darurat kabinet yang dipimpin oleh Hatta, menjelang jatuhnya kotaYogyakarta ke tangan tentara Belanda. Dalam rapat tersebut, dari 12 menteriyang hadir, empat orang mendesak supaya Amir dan kawan-kawan ditembak mati, empatorang menyatakan menolak, sedangkan empat orang lagi menyatakan abstain.Mengetahui kebuntuan ini, Presiden Soekarno mengeluarkan veto; menolak hukumanmati bagi Amir dan kawan-kawan. Namun veto Presiden Soekarno tidak diindahkan.Hatta memberikan perintah kepada Gatot Subroto untuk mengeksekusi mati Amir dankawan-kawan. Di dalam pelaksanaan di lapangan, eksekusi ini dilakukan oleh regutembak yang dipimpin oleh Letnan Klas I (CPM) Mulia Nasution. (S. Kardiman, 21Maret 2011.)
