Memakai cadar, niqap, jilbab memang perlu di wilayaah gurun karena kalau
datang angin maka debu pasir pun tersebar masuk hiung, telinga, mata, mulut
dan melekat di rambut. Untuk membersihkan membutuh banyak air yang di gurun
air sangata terbatas, jadi harus hemat pemakaian air.



https://news.detik.com/berita/d-4842304/imam-besar-istiqlal-jadi-muslim-terbaik-tak-mesti-seperti-arab?banner_campaign=promokonten&banner_platform=desktop&banner_medium=skinnernews&banner_kanal=detikcom&banner_term=blak2annassarudin



*Imam Besar Istiqlal: Jadi Muslim Terbaik Tak Mesti Seperti Arab*

Hanif Mustafad - detikNews

Rabu, 01

SHARE   URL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-4842304/imam-besar-istiqlal-jadi-muslim-terbaik-tak-mesti-seperti-arab?banner_campaign=promokonten&banner_platform=desktop&banner_medium=skinnernews&banner_kanal=detikcom&banner_term=blak2annassarudin>

[image: Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar (Foto: Screenshoot
20detik)]Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar (Foto: Screenshoot
20detik)

*Jakarta* -

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar tidak mempermasalahkan
penggunaan cadar, dan celana cingkrang di kalangan umat muslim. Sepanjang
dilakukan dengan penuh kesadaran hal tersebut merupakan hak asasi seseorang
untuk menggunakan simbol-simbol tertentu.

"Yang salah kalau orang yang pakai cadar dan celana cingkrang itu
mengharamkan, menajiskan kelompok yang tidak pakai cadar dan celana
cingkrang. Sepanjang tidak saling menyalahkan, monggo," kata dia kepada Tim
Blak-blakan detik.com di masjid Baitut Tholibin Kemendikbud, Selasa
(31/12/2019).

*Baca juga:**Cerita Menag Fachrul Razi di Balik Gaduh Cadar dan Celana
Cingkrang*
<http://news.detik.com/read/2019/11/21/134108/4793143/475/cerita-menag-fachrul-razi-di-balik-gaduh-cadar-dan-celana-cingkrang>


Hanya saja bila dikaitkan dengan kearifan lokal serta memiliki pengetahuan
yang luas dan mendalam dalam memahami substansi Al-Quran dan Hadits, akan
memahami bahwa hal semacam itu adalah cuma atribut Arab. Nasaruddin yang
pernah menetap di Timur Tengah berpendapat penggunaan cadar bagi wanita
maupun sorban untuk pria merupakan bagian dari hak kultural (*culture
right) *masyarakat di Timur Tengah. Sebab di sana memiliki cuaca lebih
panas daripada di tanah air. Sebaliknya saat tinggal di Kanada pada
1993-1994, Nasaruddin melihat banyak perempuan di negara itu juga
mengenakan pakaian serba tertutup di saat musim dingin yang ekstrem padahal
mereka bukan muslimah.

"Kalau pakai cadar itu wajib, mengapa Rasulullah mengatakan tidak sah
haji-nya orang yang pakai cadar. Maka tidak ada satupun orang di Padang
Arafah pakai cadar. Harus buka cadar semuanya, karena kalau tidak itu batal
haji-nya," ujar Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah itu.

*Baca juga:**Video: Sri Mulyani Cerita Eselon 2 Kemenkeu Terpapar
Radikalisme*
<https://tv.detik.com/readvideo/2019/12/19/165723/191219068/160106442/sri-mulyani-cerita-eselon-2-di-kemenkeu-terpapar-radikalisme-->

Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran itu juga menegaskan Islam
merupakan agama yang terbuka dan memandang kearifan lokal juga bisa menjadi
sumber hukum. Tiap orang, kata dia, akan semakin memiliki diri sendiri jika
memahami substansi agama dan mengakui adanya hak kultural dari tiap
individu. "Tidak perlu menjadi orang Arab untuk menjadi *the best moslem*,"
tegas Nasaruddin.

Dalam berdakwah, ia melanjutkan, Nabi Muhammad SAW pun tidak melakukan
semuanya dari awal. Sebab Nabi diutus untuk menyempurnakan, bukan memulai
dari nol. "Jadi apa yang sudah eksis di masyarakat sepanjang tidak
bertentangan dengan ajaran islam, *go ahead*," ujarnya.

Karena itu tidak perlu mengidentifikasikan diri dengan negeri tertentu
untuk menjadi seorang muslim. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad
menggunakan tiga jari untuk makan karena makanan pokoknya adalah roti,
sementara masyarakat Indonesia yang mengonsumsi nasi menggunakan lima jari.



*Baca juga:**Menag Fachrul Razi: Saya Pencinta Celana Cingkrang, di Rumah
Saya Pakai*
<https://news.detik.com/read/2019/11/19/232149/4791112/10/menag-fachrul-razi-saya-pencinta-celana-cingkrang-di-rumah-saya-pakai>


"Kalau kita makan tiga jari kapan kenyangnya kan. Jadi tidak semua
perkataan, perbuatan nabi harus diikuti. Jadi kapasitas nabi sebagai
makhluk pribadi yang makannya tiga jari juga tidak harus ditiru oleh orang
Jepang yang menggunakan sumpit,"ujarnya.

Pada bagian lain, Nasaruddin bicara soal optimismenya terhadap umat muslim
Indonesia yang semakin cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh ujaran
kebencian dan tindakan intoleransi. Ia berharap para cerdik-pandai dari
masyarakat muslim mainstream aktif dalam melakukan kontra narasi terhadap
ujaran kebencian di berbagai media.

Simak selengkapnya dalam Blak-blakan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof
Nasaruddin Umar "Jadi Muslim Terbaik Tak Mesti Seperti Arab" di detik.com,
rabu (1/1/2020).

Kirim email ke