BETUUUL, ...! Setiap BANGSA didunia ini, bahkan setiap suku-bangsa
disetiap negara hendaknya bisa mempertahankan BUDAYA nya sendiri, jangan
dibiarkan HILANG tertelan budaya asing darimanapun itu, ...
-------- Forwarded Message --------
Subject: [GELORA45] ImamBesar Istiqlal: Jadi Muslim Terbaik Tak Mesti
Seperti Arab
Date: Wed, 1 Jan 2020 13:02:53 +0100
From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>
Memakai cadar, niqap, jilbab memang perlu di wilayaah gurun karena kalau
datang angin maka debu pasir pun tersebar masuk hiung, telinga, mata,
mulut dan melekat di rambut. Untuk membersihkan membutuh banyak air yang
di gurun air sangata terbatas, jadi harus hemat pemakaian air.
https://news.detik.com/berita/d-4842304/imam-besar-istiqlal-jadi-muslim-terbaik-tak-mesti-seperti-arab?banner_campaign=promokonten&banner_platform=desktop&banner_medium=skinnernews&banner_kanal=detikcom&banner_term=blak2annassarudin
*Imam Besar Istiqlal: Jadi Muslim Terbaik Tak Mesti Seperti Arab*
Hanif Mustafad - detikNews
Rabu, 01
SHARE URL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-4842304/imam-besar-istiqlal-jadi-muslim-terbaik-tak-mesti-seperti-arab?banner_campaign=promokonten&banner_platform=desktop&banner_medium=skinnernews&banner_kanal=detikcom&banner_term=blak2annassarudin>
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar (Foto: Screenshoot
20detik)Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar (Foto:
Screenshoot 20detik)
**Jakarta** -
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar tidak mempermasalahkan
penggunaan cadar, dan celana cingkrang di kalangan umat muslim.
Sepanjang dilakukan dengan penuh kesadaran hal tersebut merupakan hak
asasi seseorang untuk menggunakan simbol-simbol tertentu.
"Yang salah kalau orang yang pakai cadar dan celana cingkrang itu
mengharamkan, menajiskan kelompok yang tidak pakai cadar dan celana
cingkrang. Sepanjang tidak saling menyalahkan, monggo," kata dia kepada
Tim Blak-blakan detik.com <https://detik.com/> di masjid Baitut
Tholibin Kemendikbud, Selasa (31/12/2019).
*Baca juga:**Cerita Menag Fachrul Razi di Balik Gaduh Cadar dan Celana
Cingkrang*
<http://news.detik.com/read/2019/11/21/134108/4793143/475/cerita-menag-fachrul-razi-di-balik-gaduh-cadar-dan-celana-cingkrang>
Hanya saja bila dikaitkan dengan kearifan lokal serta memiliki
pengetahuan yang luas dan mendalam dalam memahami substansi Al-Quran dan
Hadits, akan memahami bahwa hal semacam itu adalah cuma atribut Arab.
Nasaruddin yang pernah menetap di Timur Tengah berpendapat penggunaan
cadar bagi wanita maupun sorban untuk pria merupakan bagian dari hak
kultural (/culture right) /masyarakat di Timur Tengah. Sebab di sana
memiliki cuacalebih panas daripada di tanah air.Sebaliknya saat tinggal
di Kanada pada 1993-1994, Nasaruddin melihat banyak perempuan di negara
itu juga mengenakan pakaian serba tertutup di saat musim dingin yang
ekstrem padahal mereka bukan muslimah.
"Kalau pakai cadar itu wajib, mengapa Rasulullah mengatakan tidak sah
haji-nya orang yang pakai cadar. Maka tidak ada satupun orang di Padang
Arafah pakai cadar. Harus buka cadar semuanya, karena kalau tidak itu
batal haji-nya," ujar Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah itu.
*Baca juga:**Video: Sri Mulyani Cerita Eselon 2 Kemenkeu Terpapar
Radikalisme*
<https://tv.detik.com/readvideo/2019/12/19/165723/191219068/160106442/sri-mulyani-cerita-eselon-2-di-kemenkeu-terpapar-radikalisme-->
Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran itu juga menegaskan Islam
merupakan agama yang terbuka dan memandang kearifan lokal juga bisa
menjadi sumber hukum. Tiap orang, kata dia, akan semakin memiliki diri
sendiri jika memahami substansi agama dan mengakui adanya hak kultural
dari tiap individu. "Tidak perlu menjadi orang Arab untuk menjadi /the
best moslem/," tegas Nasaruddin.
Dalam berdakwah, ia melanjutkan, Nabi Muhammad SAW pun tidak melakukan
semuanya dari awal. Sebab Nabi diutus untuk menyempurnakan, bukan
memulai dari nol. "Jadi apa yang sudah eksis di masyarakat sepanjang
tidak bertentangan dengan ajaran islam, /go ahead/," ujarnya.
Karena itu tidak perlu mengidentifikasikan diri dengan negeri tertentu
untuk menjadi seorang muslim. Ia mencontohkan bagaimana Nabi Muhammad
menggunakan tiga jari untuk makan karena makanan pokoknya adalah roti,
sementara masyarakat Indonesia yang mengonsumsi nasi menggunakan lima jari.
*Baca juga:**Menag Fachrul Razi: Saya Pencinta Celana Cingkrang, di
Rumah Saya Pakai*
<https://news.detik.com/read/2019/11/19/232149/4791112/10/menag-fachrul-razi-saya-pencinta-celana-cingkrang-di-rumah-saya-pakai>
"Kalau kita makan tiga jari kapan kenyangnya kan. Jadi tidak semua
perkataan, perbuatan nabi harus diikuti. Jadi kapasitas nabi sebagai
makhluk pribadi yang makannya tiga jari juga tidak harus ditiru oleh
orang Jepang yang menggunakan sumpit,"ujarnya.
Pada bagian lain, Nasaruddin bicara soal optimismenya terhadap umat
muslim Indonesia yang semakin cerdas dan tidak mudah terprovokasi oleh
ujaran kebencian dan tindakan intoleransi. Ia berharap para
cerdik-pandai dari masyarakat muslim mainstream aktif dalam melakukan
kontra narasi terhadap ujaran kebencian di berbagai media.
Simak selengkapnya dalam Blak-blakan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof
Nasaruddin Umar "Jadi Muslim Terbaik Tak Mesti Seperti Arab"di detik.com
<https://detik.com/>, rabu (1/1/2020).