https://www.suara.com/wawancara/2019/12/24/225914/mariana-amiruddin- <https://www.suara.com/wawancara/2019/12/24/225914/mariana-amiruddin-kesempatan-perempuan-banyak-tapi-patriarki-masih-kuat>
It s a man's world . https://www.youtube.com/watch?v=GaB9F3R9cIY Kesempatan-perempuan-banyak-tapi-patriarki-masih-kuat <https://www.suara.com/wawancara/2019/12/24/225914/mariana-amiruddin-kesempatan-perempuan-banyak-tapi-patriarki-masih-kuat> *Mariana Amiruddin: Kesempatan Perempuan Banyak, Tapi Patriarki Masih Kuat* Arsito Hidayatullah | Erick Tanjung Selasa, 24 Desember 2019 | 22:59 WIB [image: Mariana Amiruddin: Kesempatan Perempuan Banyak, Tapi Patriarki Masih Kuat]Mariana Amiruddin. [Akun Twitter Mariana Amiruddin/captured] *Sebagai refleksi Hari Ibu 22 Desember yang kembali diperingati, Mariana Amiruddin bicara mulai dari sejarah, makna, hingga tujuan sebenarnya momen tersebut bagi perempuan.* *Suara.com - *Tepatnya Minggu, *22 Desember* <https://www.suara.com/tag/22-desember> 2019, Indonesia kembali memperingati apa yang dikenal sebagai *Hari Ibu* <https://www.suara.com/tag/hari-ibu>. Sebagaimana tahun-tahun terdahulu, masih banyak yang mengira atau malah --termasuk lewat kampanye berbagai lembaga atau institusi-- mengidentikkan peringatan ini sebagaimana Mothers Day, atau harinya para ibu atau bunda/mama. Padahal jika menilik sejarah, bukan itu makna dan tujuan lahirnya Hari Ibu tersebut sebenarnya di Indonesia. Salah satu yang sudah cukup lama berusaha mengoreksi dan mengampanyekan hal tersebut adalah *Mariana Amiruddin* <https://www.suara.com/tag/mariana-amiruddin>, sosok yang kini menjabat sebagai salah seorang Komisioner Komnas Perempuan. Aktivis kelahiran 14 Maret 1976 yang pernah menjabat Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan sekaligus Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan, juga dikenal telah menulis beberapa buku, termasuk novel terkait perempuan, antara lain "Kesehatan Hak Reproduksi Perempuan: Panduan untuk Jurnalis" (2003), "Perempuan Menolak Tabu; Hermeneutika, Feminisme, Sastra, dan Seks" (2005), dan "Tuan dan Nona Kosong" (2006, novel bersama Hudan Hidayat). ADVERTISING Sehubungan momentum Hari Ibu kali ini, *Suara.com* pun berkesempatan melakukan *wawancara* <https://www.suara.com/tag/wawancara> dengan Mariana Amiruddin, tidak saja seputar peringatan hari besar nasional tersebut namun juga terkait perempuan Indonesia secara umum. Berikut petikannya: *Ada yang mengatakan Hari Ibu 22 Desember itu bukan Mothers Day. Maksudnya bagaimana? Dan posisi Anda sendiri seperti apa?* Iya, betul bahwa Hari Ibu itu bukan Mothers Day. Jadi, sejarahnya berkaitan dengan sejarah di negara lain ya, ada Mothers Day dan Fathers Day. Tetapi kalau di Indonesia itu, Hari Ibu itu awalnya dari gerakan perempuan pada 1928, bersamaan dengan jelang Sumpah Pemuda, di mana para perempuan untuk kemerdekaan bangsanya berkumpul dari berbagai wilayah, ada Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes dan sebagainya. *Oke. Bisa beri penjelasan sejarah singkat tentang Hari Ibu ini? Karena banyak yang belum tahu.* Ya. Kemudian ada Kongres Perempuan pada 1928 di Yogyakarta. Mereka berkumpul untuk membicarakan soal kemerdekaan. Isu yang mereka bahas dalam Kongres Perempuan (pertama di Indonesia) ketika itu di antaranya adalah perkawinan anak, di mana para perempuan dipaksa menikah (di) usia dini. Kemudian poligami --banyak perempuan dimadu waktu itu, masalah pendidikan, dan masalah-masalah perempuan lainnya. Waktu itu banyak perempuan dari berbagai wilayah yang aktif berorganisasi, memikirkan pentingnya hak-hak perempuan menjadi bagian dari masalah bangsa, masalah kemerdekaan.
