-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4858801/memahami-islam-secara-benar?tag_from=wp_cb_kolom_list


Meluruskan Makna Jihad (9)

Memahami Islam Secara Benar

Nasaruddin Umar - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 16:50 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (ILustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA (ILustrasi: M. Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta - Banyak orang merasa memperjuangkan "Islam", tetapi sesungguhnya 
memperjuangkan budaya dalam mana Islam mewujudkan dirinya, bukan Islamnya itu 
sendiri. Masih banyak umat Islam belum bisa membedakan antara ajaran Islam dan 
budaya Arab, sebuah budaya yang pertama kali mengusung ajaran Islam. Menjadi 
the best muslim tidak mesti harus menyerupakan diri dengan orang Arab, orang 
Mesir, orang Yaman, atau orang Persia. Kita bisa tetap sebagai orang yang 
berkebudayaan Indonesia dengan berbagai atributnya, tetapi pada saat bersamaan 
tetap menjadi the best muslim. Bahkan mungkin tidak kalah dengan muslim Arab.

Kata Islam tersusun dari huruf sin, lam, mim (salima), sebuah akar kata yang 
membentuk kata salam (damai), islam (kedamaian), istislam (pembawa kedamaian), 
dan taslim (ketundukan, kepasrahan, ketenangan). Salam adalah kedamaian dan 
kepasrahan dalam pengertian lebih umum. Islam adalah kedamaian dan kepasrahan 
dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan 
norma. Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, 
rigit, dan sempurna. Allah memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad 
dengan agama Islam. Bukan agama Salam (kepasrahan tanpa konsep). Bukan juga 
agama Istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan 
dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan.

Kata islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). Di 
dalam Al-Quran disebutkan: Inna al-dina 'inda Allah al-islam (Sesungguhnya 
agama di sisi Allah hanyalah Islam/Q.S. Ali Imran/3:19), man yabtagi gair 
al-islam dinan falan yuqbala minhu (Barangsiapa mencari agama selain agama 
Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/Q.S. Ali 
Imran/3:19).

Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-islam, 
dengan menggunakan alif ma'rifah (al), bukan islam dalam bentuk nakirah, bukan 
juga salam atau istislam. Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja 
al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat, dan sudah barang 
tentu menolak kekerasan dan keonaran. Seharusnya seorang muslim (orang yang 
beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan, dan pada 
akhirnya merasakan ketenangan lahir batin.

Agaknya kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang 
menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan. Apalagi jika (atas nama) 
Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa; sangat 
tidak sepadan dengan kata islam itu sendiri. Kelompok minoritas liberal muslim 
memaknai Islam dengan konteks salam yang lebih bersifat inklusif-substantif, 
sementara kelompok minoritas radikal muslim lebih memaknai Islam dengan konteks 
istislam yang menuntut adanya intensitas dan semangat progresif di dalam 
mewujudkan nilai dan norma Islam. Kelompok mainstream muslim memaknainya 
sebagai islam, sebuah sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka dan 
moderat.

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

(mmu/mmu)
jihad





Kirim email ke