-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4872017/menjaga-pertumbuhan-ekonomi-di-tengah-tekanan?tag_from=wp_cb_kolom_list


Menjaga Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tekanan

Azhar Syahida - detikNews

Jumat, 24 Jan 2020 15:44 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Foto: Pradita Utama
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Mengawali tahun 2020, Indonesia harus menghadapi tekanan global yang makin 
tidak menentu. Terlihat, awan ketegangan masih menyelimuti perang dagang antara 
AS dan Tiongkok, meski Presiden Donald Trump dan Wakil Perdana Menteri Liu He 
telah menandatangani pakta fase pertama negosiasi. Keputusan Brexit, 
demonstrasi Hong Kong, konflik geopolitik Timur Tengah, dan sejumlah lainnya 
juga telah memicu kenaikan indeks ketidakpastian global.

Melihat situasi global seperti itu, International Monetary Fund (IMF) dan World 
Bank sepakat memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat. IMF mencatat 
pertumbuhan global 2020 menyentuh 3,4%, sementara World Bank lebih rendah lagi 
(2,7%). Angka tersebut telah mengalami beberapa kali koreksi, yang menandakan 
peningkatan risiko. Bahkan, beberapa negara diprediksi mengalami resesi, 
termasuk Amerika Serikat.

Sementara itu, dari sisi domestik terdapat beberapa kondisi yang memberikan 
sinyal bahaya terhadap perekonomian. Kinerja manufaktur Indonesia terus 
merosot, ditunjukkan oleh data Purchasing Manager Index (PMI) yang sudah 
terkontraksi sejak Juli—Desember 2019; Desember 2019 mencapai 49,5. Kontraksi, 
yang artinya nilai PMI di bawah 50, disebabkan oleh keputusan para produsen 
yang menahan produksi karena serapan barang oleh konsumen melemah.

Di sisi lain, kenaikan inflasi harga yang diatur pemerintah, seperti naiknya 
iuran BPJS Kesehatan, pemangkasan subsidi solar dan kenaikan cukai rokok 
sebesar 23% berpotensi mengerek biaya hidup dan menekan konsumsi masyarakat. 
Padahal, konsumsi berperan 56% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Maknanya, 
jika terjadi guncangan pada daya beli masyarakat, setengah roda ekonomi kita 
akan berhenti.

Apalagi, pada Maret 2019, meski data kemiskinan menurun 0,15% dari September 
2018, nyatanya terdapat peningkatan jumlah penduduk hampir miskin dan rentan 
miskin sebesar 3,9%, atau kini mencapai 66,7 juta jiwa (BPS, 2019). Sebetulnya 
kelompok penduduk inilah yang cukup berisiko jika tidak dijaga. Sebab, bila 
terjadi guncangan sedikit saja pada pendapatan, kelompok masyarakat tersebut 
akan jatuh ke dalam lubang kemiskinan.

Kondisi di atas menggambarkan seolah ekonomi Indonesia sedang mendayung biduk 
di antara dua ombak besar, tekanan global dan domestik. Sudah barang tentu agar 
selamat dari gelombang besar tersebut, pemerintah perlu menyiasati dengan 
kebijakan strategis.

Kebijakan Kontra Siklus

Menapaki bulan pertama 2020 adalah saat yang tepat bagi pemerintah untuk 
mengonsolidasikan berbagai strategi. Usaha ini dapat disusun melalui kebijakan 
kontra siklus di tengah situasi ekonomi yang serba tidak pasti.

Pertama, menjaga daya beli domestik. Untuk melakukan ini, mau tidak mau 
pemerintah harus menerapkan kebijakan fiskal ekspansif, yakni meningkatkan 
belanja pemerintah guna menstimulasi konsumsi masyarakat. Bantuan sosial kepada 
40% masyarakat terbawah tetap harus menjadi prioritas, sembari tetap menjaga 
daya beli golongan menengah ke atas.

Kedua, menjaga kebijakan moneter agar tetap longgar. Langkah pemangkasan suku 
bunga acuan 100 bps selama 2019 adalah keputusan yang tepat. Sekarang, 
pekerjaan rumah selanjutnya adalah bagaimana pemangkasan tersebut dapat diikuti 
oleh penurunan suku bunga kredit perbankan. Memang, saat ini industri perbankan 
tengah menghadapi pengetatan likuiditas. Dalam kondisi demikian, pemerintah 
jangan sampai melakukan blunder dengan menerbitkan surat berharga yang lebih 
besar, yang dapat memicu perebutan likuiditas antara pemerintah dan swasta 
(crowding out effect).

Ketiga, dari sisi penawaran, pemerintah hendaknya menjaga daya saing industri 
manufaktur yang menyerap banyak tenaga kerja, termasuk industri yang berbasis 
usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Caranya, pemerintah perlu 
memprioritaskan kesehatan industri padat karya sembari terus meningkatkan 
produktivitas tenaga kerja. Penguatan industri padat karya melalui ragam 
insentif fiskal, diharapkan akan menjaga serapan tenaga kerja, yang dari sisi 
konsumsi artinya mempertahankan daya beli.

Prospek 2020

Kajian yang dilakukan oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia 
menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 berada di kisaran 
4,9—5,1%. Angka pertumbuhan ini lebih rendah dari prediksi pemerintah sebesar 
5,3%.

Pertumbuhan di bawah lima persen dimungkinkan terjadi bila pemerintah tidak 
banyak memberikan paket stimulus terhadap perekonomian. Kebijakan lebih banyak 
bersifat kontraproduktif seperti pengetatan fiskal dengan mengurangi belanja 
dan inkonsistensi regulasi yang memperburuk iklim investasi.

Sementara itu, pertumbuhan di atas lima persen akan tercapai jika pemerintah 
melakukan kebijakan kontra siklus yang betul-betul mendorong konsumsi 
masyarakat dan memperbaiki iklim investasi. Sebab, dua hal tersebut berperan 
sebesar 88% terhadap PDB.

Meski gejolak global tak kunjung membaik, tahun 2020 harus dijadikan sebagai 
titik pijak lompatan ekonomi Indonesia, yakni menggenjot pertumbuhan sembari 
memangkas ketimpangan. Sebab, tahun 2020 adalah pangkal periode kedua 
pemerintahan terpilih. Lebih-lebih periode sekarang memiliki potensi yang 
sangat besar dengan 70% anggota parlemen dikuasai oleh koalisi pemerintah. 
Inilah kesempatan emas bagi pemerintahan terpilih untuk mengambil langkah 
kebijakan yang tepat.

Kuncinya ada di political will: apakah pemerintah berkenan atau tidak untuk 
memperhatikan beberapa hal penting tersebut. Tahun 2020 memang dianggap sebagai 
tahun kelesuan ekonomi. Namun, kita masih punya harapan besar dari sisi 
domestik untuk menjaga pertumbuhan di tengah tekanan.

Azhar Syahida peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia

(mmu/mmu)





Kirim email ke