Wabah Virus Corona, KBRI Terus Pantau 7 WNI yang Batal Dievakuasi

Reporter:


       Dewi Nurita

Editor:


       Endri Kurniawati

Senin, 3 Februari 2020 10:09 WIB

Petugas kesehatan menangani pasien dengan potensi terinfeksi coronavirus di Wuhan, Tiongkok. Per 1 Februari 2020, virus tersebut telah menginfeksi 11.949 orang di seluruh dunia dan menewaskan 259 jiwa.

Petugas kesehatan menangani pasien dengan potensi terinfeksi coronavirus di Wuhan, Tiongkok. Per 1 Februari 2020, virus tersebut telah menginfeksi 11.949 orang di seluruh dunia dan menewaskan 259 jiwa.

*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Pemerintah RI terus memantau kondisi tujuh WNI yang masih berada di Hubei, Cina, setelah 238 WNI yang tinggal di provinsi itu dievakuasi ke Tanah Air, Ahad, 2 Februari 2020 sehubungan dengan ancamanvirus Corona <https://www.tempo.co/tag/virus-corona>. “Tujuh WNI yang tetap berada di Hubei akan terus dipantau dan berhubungan dengan KBRI, kita harapkan mereka juga bisa melewati masa-masa sulit ini,” kata juru bicara Istana, Fadjroel Rachman, lewat keterangan tertulis pada Senin, 3 Februari 2020.

Semula, WNI yang bakal dipulangkan dari Cina karena wabah virus Corona berjumlah 245 orang. Namun 7 orang batal berangkat. Dari keterangan resmi Kementerian Luar Negeri, empat orang di antaranya memilih tetap tinggal di Cina karena alasan keluarga. Sedangkan tiga WNI lainnya tak memenuhi syarat kesehatan untuk terbang.

Duta Besar Indonesia untuk Cina Djauhari Oratmangun mengatakan pihak KBRI sudah berkomunikasi dengan ketiga WNI yang merupakan mahasiswa di Wuhan, Cina, kawasan yang pertama kali diketahui terjangkitvirus Corona <https://nasional.tempo.co/read/1302751/jokowi-instruksikan-menteri-kesehatan-terawan-berkantor-di-natuna>. Namun, ia enggan mengungkapkan sakit yang diderita mereka.

Djauhari menuturkan KBRI sudah mengontak pihak terkait, termasuk pihak kampus untuk menangani mereka. "Yang jelas, KBRI akan melindungi dan melakukan yang terbaik kepada mereka sebagaimana yang telah dilakukan selama ini," kata Djauhari melalui pesan teks kepada Tempo, Ahad, 2 Februari 2020.

ADVERTISEMENT

Pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri Faizasyah menambahkan bahwa KBRI akan membantu kebutuhan logistik ketiga WNI itu.

DEWI NURITA | FRISKI RIANA



 Bandara Bandung Siapkan Brankar Khusus Pasien Virus Corona

Reporter:


       Ahmad Fikri (Kontributor)

Editor:


       Zacharias Wuragil

Senin, 3 Februari 2020 09:39 WIB

Penumpang memakai topeng saat mereka berjalan melewati mesin pemindai yang memantau suhu orang-orang setelah menyebarnya virus Corona di Cina, di Bandara Internasional Bandaranaike di Katunayake, Sri Lanka, 24 Januari 2020. Virus Corona berasal dari kota Wuhan di Hubei pada bulan Desember. REUTERS/Dinuka LiyanawattePenumpang memakai topeng saat mereka berjalan melewati mesin pemindai yang memantau suhu orang-orang setelah menyebarnya virus Corona di Cina, di Bandara Internasional Bandaranaike di Katunayake, Sri Lanka, 24 Januari 2020. Virus Corona berasal dari kota Wuhan di Hubei pada bulan Desember. REUTERS/Dinuka Liyanawatte

*TEMPO.CO*,*Bandung* - Sebuah brankar atau tandu di mana seseorang berbaring di atasnya disiapkan secara khusus untuk antisipasi pasien infeksivirus corona <https://www.tempo.co/tag/virus-corona>mematikan. Persiapan ini dilakukan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung.

Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah di kantor itu, Medi Nursasih, menerangkan, brankar itu berfungsi sebagai ruang isolasi karena dilengkapi penutup dari kaca. Tujuannya, mencegah virus menyebar. “Brankar khusus untuk yang benar-benar terduga untuk membawa ke rumah sakit,” kata dia di Bandung, Jumat, 31 Januari 2020.

Medi mengatakan, KKP Bandung juga bekerja sama dengan pengelola Bandara Husein Sastranegara menyiapkan Thermal Scanner untuk memindai suhu tubuh penumpang pesawat yang tiba di terminal internasional. Thermal Scanner yang sama juga sudah dipasang KKP Bandung di Bandara Kertajati di Majalengka, kendati tidak melayani penumpang internasional.

“Sedang di Husein Sastranegara ada 7 flight setiap hari dari Singapura dan Kuala Lumpur,” kata dia.

Medi menerangkan, penumpang yang baru tiba di bandara dan mendapat hasil pindaian suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius, langsung dibawa ke ruang observasi. Di sana akan berlaku prosedur investigasi riwayat perjalanan dan lainnya.

"Begitu masuk pintu bandara, itu langsung terlihat suhunya. Jadi tidak semuanya, yang lebih dari 38 derajat Celcius yang kami pilih,” katanya.

KKP Bandung juga bekerja-sama dengan Kantor Imigrasi di bandara untuk menjaring penumpang yang datang dari luar negeri dengan riwayat perjalanan melintasi negara-negara yang sudah terkonfirmasi kasus virus corona. Jika tidak menunjukkan gejala demam, penumpang akan dibekali kartu Health Alert Card yang wajib diisi dan disarankan untuk selalu memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat.

Informasi perjalanan akan dipasok dari Imigrasi. "Nanti kami langsung tarik orang itu untuk masuk ruang isolasi. Walaupun masih belum menunjukkan gejala, tapi takutnya nanti muncul,” kata Medi.

ADVERTISEMENT

Bagi penumpang dengan riwayat perjalanan ke negara yang positif virus corona dan terdeteksi demam dengan suhu tubuh 38 derajat Celcius ih atau lebakan diberikan masker khusus dan dilarikan ke rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Umum Pendidikan dr Hasan Sadikin (RSHS). Di sinilah peran brankar khusus itu.

Medi mengatakan, prosedur sama berlaku untuk penumpang kapal laut yang baru tiba dari luar negeri. Di Jawa Barat, pelabuhan yang mendapat pengawasan KKP tersebut ada di Cirebon, Indramayu, Balongan, dan Pelabuhan Ratu.

"Pemeriksaan penumpang kapal dilakukan manual dengan menggunakan Termo Head. Satu per satu diperiksa,” kata dia sambil menambahkan belum ada perubahan prosedur kendati WHO telah menyatakan status wabahvirus corona <https://tekno.tempo.co/read/1302612/laboratorium-dunia-saling-berlomba-meneliti-sampel-virus-corona>sebagai darurat internasional.


Kirim email ke