Coronavirus: Perhitungan Tiongkok dan Dunia
Oleh :
Karim Raslan
<https://kolom.tempo.co/read/1302693/coronavirus-perhitungan-tiongkok-dan-dunia/full&view=ok#>
Senin, 3 Februari 2020 07:05 WIB
https://kolom.tempo.co/read/1302693/coronavirus-perhitungan-tiongkok-dan-dunia/full&view=ok
Coronavirus yang baru ini (dinamakan 2019-nCoV oleh WHO) memiliki
kesamaan hingga 87% dengan rantai genetika dengan dua coronavirus yang
ditemukan pada kelelawar. Namun, muasal dari 2019-nCoV belum
diketahuiCoronavirus yang baru ini (dinamakan 2019-nCoV oleh WHO)
memiliki kesamaan hingga 87% dengan rantai genetika dengan dua
coronavirus yang ditemukan pada kelelawar. Namun, muasal dari 2019-nCoV
belum diketahui
*Virus Corona Kedua - Variasi Kebodohan*
Saya punya berita untuk anda. Tapi, duduklah sebentar. Saya tidak mau
Anda pingsan. Ada dua macam virus corona di luar sana. Dua, bukan satu:
dan yang kedua, bisa membuat orang dewasa menjadi bodoh mari kita sebut
dia sebagai "variasi kebodohan."
Yang pertama adalah flu itu sendiri, yang dikenal dengan "virus corona
novel", pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, dan berakibat fatal
untuk beberapa orang kurang lebih 2% dari mereka yang terinfeksi ketika
tulisan ini dibuat. Sejauh yang saya pahami, gejalanya mirip dengan flu
biasa: demam, batuk, dan sesak napas. Namun, dalam skenario terburuk,
gejala tersebut bisa berubah menjadi pneumonia dan gangguan pernapasan akut.
Pada 31 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi
mendeklarasikan flu di Wuhan sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat
Internasional (PHEIC)
Sebaliknya, apa yang saya sebut dengan "variasi kebodohan" telah membuat
kepanikan global yang didorong oleh media sosial. Ini bagaikan sejuta
zombi yang memegang telepon genggam, sedang menularkan penyakitnya ke
banyak orang dalam waktu yang sangat cepat.
Mutasi ini terbukti lebih buruk daripada virus aslinya. Hal ini juga
jutaan kali lebih sulit untuk ditangani pemerintah.
Orang dewasa yang pintar kerapkali hanya sekilas melihat pesan-pean di
Facebook, Twitter, dan Whatsapp, lalu menekan tombol "suka", "retweet",
dan "bagikan" tanpa tedeng aling-aling.
Hal yang sama terjadi dengan Line, WeChat, Telegram, dan TikTok.
Perhatikan ya, karena saya juga yakin Anda sekalian melakukan hal yang
serupa!
Patut diingat bahwa pada tahun 2002-2003, wabah Severe Acute Respiratory
Syndrome atau SARS (yang juga dimulai di Asia) terjadi sebelum masa
media sosial. Informasi yang kita terima tentang SARS umumnya datang
dari media arus utama yang konvensional.
Petugas kesehatan menangani pasien dengan potensi terinfeksi coronavirus
di Wuhan, Tiongkok. Per 1 Februari 2020, virus tersebut telah
menginfeksi 11.949 orang di seluruh dunia dan menewaskan 259 jiwa.
Dulu, negara-negara harus berurusan dengan krisis, lalu mengatur
kekacauan politik, ekonomi, dan reputasi.
Belakangan, ada juga kepentingan untuk menghajar virus kedua yang sudah
bermutasi waktu terbuang percuma hanya demi membuktikan bahwa berita
bohong yang berkaitan dengan kejadian-kejadian global adalah sesuatu
yang tidak benar.
Percayalah, banyak sekali hal-hal seperti itu yang berkenaan dengan
virus corona orang-orang Asia membuktikan bahwa mereka juga sama
lemahnya terhadap virus kebodohan seperti orang Amerika dan Eropa.
Ada beberapa tulisan di media sosial yang menuduh bahwa warga Tiongkok
yang kabur dari virus Corona, diam-diam bersembunyi di Thailand. Menteri
Kesehatan Malaysia sampai harus mencuitkan tweet yang isinya membantah
kalau penderita virus corona berlaku seperti zombi.
Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-o-cha mengunjungi titik pengecekan
di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Hingga 1 Februari 2020, terdapat 19
kasus 2019-nCov yang terkonfirmasi di Thailand, kedua terbanyak setelah
Tiongkok
Ada juga video viral yang digambarkan di Tiongkok, di mana seorang
wanita sedang memakan sup kelelawar (yang sering dijadikan biang kerok
sebagai penyebar virus), padahal video itu diambil beberapa tahun yang
lalu (pada 2016) dan tidak terjadi di Tiongkok.
Namun, tulisan-tulisan yang gila dan tidak bertanggung jawab seperti itu
justru disebarkan beribu kali.
Beberapa di antaranya bahkan rasis secara blak-blakan (kerapkali
anti-Tionghoa).
Mengapa sih tulisan seperti itu cepat sekali menyebar, dan orang-orang
juga dapat dengan mudahnya percaya?
Mungkin karena tulisan-tulisan tersebut kerap menggarisbawahi dan
memperkuat kegelisahan yang ada di masyarakat.
Thailand, Filipina, dan Malaysia memiliki hubungan yang dekat namun
rumit dengan Tiongkok. Terlebih minoritas etnis Tionghoa domestik juga
menghadapi tantangannya sendiri. Virus corona memang sedang ngetran,
tapi itu juga mendistorsi kekhawatiran seperti ini.
Medium yang digunakan juga ada pengaruhnya.
Dengan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, sekarang Anda bisa
berbagi apapun, secara instan, dan ke manapun, kepada siapapun bahkan
dengan menggunakan materi yang menarik perhatian seperti gambar, suara,
dan video.
Siapa sih yang punya waktu dan akal sehat belakangan ini untuk memeriksa
sumber-sumber dari pesan-pesan ini?
Bagaimana dengan media arus utama? Apakah mereka punya peran?
Di masa lalu, surat kabar nasional, televisi, dan stasiun radio bisa
mengendalikan narasi. Namun, berita yang diriset dengan baik, juga
dengan pemeriksaan fakta yang akurat, harganya mahal. Hal itu
membutuhkan ruang berita yang diisi oleh jurnalis dan editor yang terlatih.
Sedihnya, media arus utama juga terluka parah dengan kemajuan media
sosial yang tidak terbendung. Berita tentang organisasi berita yang
bangkrut atau potong jumlah karyawan, kerap terdengar tiap minggu.
Oleh karena itulah, omong kosong yang konyol dan tidak masuk akal justru
mendapatkan banyak retweet dan tersebar.
Berbagai berita bohong menyebabkan Kementerian Kesehatan Malaysia sampai
harus mem-posting tweet yang secara spesifik menyatakan virus tersebut
tidak menyebabkan efek seperti zombie pada mereka yang terinfeksi
Terkadang, laporan yang serius dan bertanggung jawab memang bisa menjadi
viral. Namun, kerapkali mereka kalah seksi dibandingkan gambar di
Facebook atau video di YouTube.
Kita seringkali menggunakan potongan berita ini untuk mengkonfirmasi
atau menyanggah konten viral yang dibagikan oleh teman maupun anggota
keluarga.
Mungkin begitulah masa depan media arus utama: bermain bertahan. Jauh
sekali dari masa ketika surat kabar berperan besar dalam membentuk
pemikiran masyarakat.
Beberapa bagian dari pers bahkan malah ikut-ikutan ke dalam iklim
ketakutan: membuat tajuk atau kutipan yang bersifat clickbait.
Berbeda dengan bagaimana SARS diliput dua dekade yang lalu, di awal
kepanikan akibat virus corona belakangan ini, hanya sedikit laporan
berita yang baik dan dapat diakses masyarakat tentang apa itu virus
corona, dan bagaimana caranya agar orang-orang tetap sehat.
Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang mewabah pada tahun 2003
disebabkan oleh jenis virus yang berbeda dibanding coronavirus (SARS-CoV)
ADVERTISEMENT
Yang banyak justru berita menyeramkan tentang bagaimana sepatutnya kita
ketakutan. Kebayang kan kenapa banyak orang jadi lebih suka media sosial?
Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk maju ke depan?
Sensor kerapkali tidak berguna. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik
saja, justru akan menjadi senjata makan tuan bayangkan bagaimana
marahnya warga Wuhan yang merasa dibohongi sejak awal.
Sekelompok turis China mengenakan masker wajah di Kuil Erawan, sebuah
lokasi turisme populer di Bangkok pada 27 Januari 2020
Pendidikan dapat membantu: orang-orang dari segala usia harus lebih bisa
mencerna berita dan informasi. Bagaimana informasi itu dibentuk,
digunakan, dan dieksploitasi.
Tapi seringnya, ini adalah masalah energi.
Orang-orang yang peduli dengan kebenaran harus lebih proaktif dalam
berbagi berita akurat, sama aktifnya dengan mereka yang menebar
rumor-rumor dan ketakutan secara daring.
Konten seperti itu juga harus tepat waktu dan juga harus siap untuk
menjadi viral.
Melelahkan memang, namun inilah awal perjuangan ini adalah realitas di
mana kita hidup.
Pembuat kebijakan dan pembentuk opini, baik itu publik maupun korporat,
harus sadar bahwa krisis pada saat ini harus diatasi secara asimetris.
Dulu manusia berperang merebutkan wilayah. Namun pada saat ini, kita
bertarung demi atensi.
Screencapture dari situs Departemen Kesehatan Filipina yang meminta
masyarakat untuk hanya menggunakan informasi yang bersumber dari
pemerintah- metode ini telah diikuti oleh berbagai pemerintah lain untuk
menangkal berita bohong
"Perang Sosial Media" adalah salah satu front yang harus diperjuangkan.
Ia akan menjadi dan mungkin malah sudah menjadi sebuah penentu, "situasi
harus menang".
Saya yakin, corona virus yang asli akan dapat ditangani dalam waktu
dekat. Namun, menyembuhkan "variasi kebodohan" akan makan waktu lama dan
usaha yang lebih banyak.