-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1922-kelola-dampak-ekonomi-korona



Kelola Dampak Ekonomi Korona

Penulis: Media Indonesia Pada: Kamis 06 Februari 2020, 05:05 WIB Editorial MI
 

VIRUS korona bisa dijinakkan. Fakta banyak orang yang terpapar 2019-nCoV bisa 
sembuh ialah bukti bahwa virus itu dapat dilumpuhkan. Bahkan, sampai hari ini, 
jumlah orang yang sembuh lebih banyak daripada yang meninggal. Pasien-pasien 
itu sembuh karena self limiting disease atau sembuh dengan sendirinya.

Novel coronavirus juga diyakini tidak seganas SARS ataupun MERS, dua wabah 
virus jenis korona lain yang sudah lebih dulu menginvasi dunia. Narasi-narasi 
seperti itu yang mestinya digaungkan terus-menerus. Tidak untuk menganggap 
enteng, tetapi demi mengerem kepanikan, ketakutan, dan kecurigaan yang 
berlebihan di masyarakat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) boleh saja beberapa hari lalu mengumumkan 
status darurat global akibat virus korona. Itu protokol yang memang mesti 
dilakukan WHO atas dasar penyebaran virus korona di luar Tiongkok kala itu 
sudah mencapai 98 orang. Itu pun tujuannya agar semua negara meningkatkan 
kewaspadaan, bukan untuk menyebar kecemasan yang berlebihan.

Mengapa kita mesti mengulang-ulang terus narasi melawan ketakutan itu? Karena 
tanpa respons yang berlebihan pun, sejatinya virus korona sudah menginfeksi ke 
bidang-bidang lain di luar isu kesehatan. Yang paling telak ialah dampaknya ke 
ekonomi. Tak hanya ekonomi Tiongkok, tapi juga global. Apalagi, ekonomi global 
masih diselimuti ketidakpastian.

Skala ekonomi Tiongkok beberapa tahun terakhir, yang terus membesar dan menjadi 
salah satu yang paling berpengaruh di dunia, tentu akan memunculkan konsekuensi 
amat besar terhadap perekonomian global ketika dia berjalan limbung. Goyangnya 
ekonomi Tiongkok saat ini jelas akan berbeda level dan dampaknya ketimbang 
guncangan yang diakibatkan wabah SARS pada hampir dua dekade lalu.

Dalam waktu singkat, bursa berjatuhan, pariwisata terkulai, industri pun 
mandek. Perusahaan-perusahaan manufaktur di Tiongkok juga mulai meliburkan 
operasi dan menyetop produksi. Jadi, tak perlu kaget bila dalam waktu dekat 
imbas serangan korona bakal menyerang berbagai sektor ekonomi, terutama 
perdagangan barang dan jasa, serta investasi.

Potensi melemahnya ekonomi Tiongkok, dan selanjutnya perekonomian global, tentu 
harus diantisipasi cepat oleh Indonesia. Tiongkok ialah salah satu mitra dagang 
dan mitra investasi paling penting bagi Indonesia. Setidaknya 16% dari total 
investasi asing yang masuk ke Tanah Air berasal dari Tiongkok. Dari sisi 
pariwisata pun sama, Tiongkok ialah negara kedua terbanyak yang mengirim turis 
ke Indonesia.

Secara umum, gara-gara korona, ekonomi Tiongkok tahun ini diperkirakan melambat 
1%-2%. Jika ditarik ke Indonesia, itu bakal menyurutkan pertumbuhan ekonomi 
kita sekitar 0,3%. Di tengah pelemahan ekonomi global yang menekan banyak 
negara berkembang, termasuk Indonesia, fakta lunglainya perekonomian Tiongkok 
akibat korona menjadi alarm kuat agar negara lebih sigap menguatkan antisipasi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani, kemarin, mengatakan negeri ini tak boleh 
kehabisan amunisi dan strategi untuk menghadapi perlambatan ekonomi global. 
Ditambah dengan musuh baru bernama korona. Artinya, amunisi strategi yang 
disiapkan pemerintah dalam jangka pendek ini haruslah juga betul-betul mumpuni. 
Bukan amunisi kosong yang hanya nyaring dibunyikan, tetapi nihil eksekusi.

Strategi yang jitu akan menghindarkan pemerintah merespons korona dengan 
kebijakan-kebijakan yang mencerminkan kepanikan. Bagaimanapun negara mestinya 
memberi contoh agar masyarakat tidak menghadapi korona dengan ketakutan dan 
kecemasan yang berlebihan. Selama ketakutan bisa dijinakkan, efek virus korona 
bisa dilumpuhkan.
 






Kirim email ke