-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/288737-merdeka-belajar


Minggu 09 Februari 2020, 00:30 WIB

Merdeka Belajar

Wartawan Media Indonesia Ono Sarwono | Weekend
 
Merdeka Belajar

Ebet
Wartawan Media Indonesia Ono Sarwono

PROGRAM Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka dalam proses pendidikan yang 
diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim baru-baru ini 
banyak mendapat tanggapan positif. Kebijakan ini dinilai revolusioner dan 
sesuai dengan tuntutan dalam persaingan global.

‘Roh’ konsep pendidikan ini ialah kemerdekaaan berpikir. “Esensi kemerdekaan 
berpikir ini harus ada pada guru dulu. Tanpa terjadi pada guru, tidak mungkin 
bisa terjadi pada murid,” kata Nadiem.

Dalam kisah wayang, kebijakan Merdeka Belajar ini pernah terjadi di Padepokan 
Sokalima yang dipimpin Begawan Durna. Itu terjadi ketika ia memiliki siswa 
bernama Raden Ekalaya dari Negara Paranggelung.

Guru Pandawa dan Kurawa

Alkisah, paranpara Negara Astina Resi Bhisma, ahli waris sejati takhta Astina, 
mengontrak Bambang Kumbayana menjadi guru Pandawa dan Kurawa. Harapannya, para 
pangeran generasi penerus itu menjadi kesatria dan pemimpin yang mampu membawa 
kejayaan paripurna Astina pada masa depan.

Bhisma memerintahkan Kumbayana, yang di kelak kemudian hari kondang bernama 
Durna, menjadi guru khusus untuk para keturunan Pandudewanata dan Drestarastra 
tersebut. Mereka ialah para cucu mantan raja Astina karismatik berwatak resi 
Prabu Kresnadwipayana alias Abiyasa.

Pandawa terdiri atas lima laki-laki bersaudara, yaitu Puntadewa, Bratasena, 
Permadi, Tangsen, dan Pinten. Sementara itu, Kurawa terdiri atas seratus orang, 
sulungnya bernama Kurupati alias Duryudana.  

Durna dikenal sakti, pemanah ulung dan ahli dalam ilmu perang. Namanya terkenal 
hingga mancanegara. Oleh karenanya, tidak aneh bila banyak pemuda dari negara 
lain yang kepincut menjadi muridnya. Satu di antara anak yang bernafsu ngangsu 
kawruh (menimba ilmu) dari Durna ialah Ekalaya, putra Raja Negara Paranggelung 
Prabu Hiranyadanu.

Suatu hari, Ekalaya datang ke Sokalima untuk mendaftarkan diri menjadi siswa di 
padepokan tersebut. Ketika akan memasuki pekarangan, ia melihat ada seorang 
pemuda berjalan gontai meninggalkan padepokan. Pemuda tampan yang belakangan ia 
ketahui bernama Radeya alias Karna itu juga ingin menjadi murid Durna. Namun, 
ia ditolak Durna karena bukan anggota keluarga Pandawa atau Kurawa.  

Ekalaya menjadi gamang karenanya. Namun, karena sudah datang jauh-jauh dari 
negaranya, ia memberanikan diri menghadap Durna. Ia berterus terang ingin 
menjadi siswa di Sokalima. Namun, seperti yang ia khawatirkan, ia akhirnya juga 
ditolak. Durna menegaskan bahwa sesuai dengan kontraknya dengan Bhisma, dirinya 
hanya diperintahkan menjadi guru para pangeran Astina.

Ekalaya kembali ke negaranya dengan gundah gulana. Namun, bayangan Durna yang 
ia kagumi tidak bisa hilang dari pikirannya. Bahkan, Durna kerap hadir dalam 
mimpi-mimpinya. Inilah yang membuatnya tidak bisa melupakan Durna. Keinginannya 
menjadi murid tidak tertahankan lagi.

Ekalaya berpikir dan merenung. Lalu munculah ide membuat patung Durna. 
Hari-hari berikutnya ia membuat patung Durna dari batu. Meski hanya berdasarkan 
ingatan saat bertemu dengan sang guru yang hanya sekali itu, ia mampu membuat 
patung yang sangat mirip Durna.

Patung Durna itu kemudian diletakkan di suatu tempat di belakang istana yang 
lapang nan indah. Di depan patung Durna itulah, Ekalaya berlatih memanah dan 
olah keprajuritan setiap hari. Kala berlatih itu, ia selalu merasa ada getaran 
arahan dan didikan dari Durna.

Keberadaan patung Durna itu pun membuat Ekalaya gentur berlatih. Tidak mengenal 
lelah. Ia seperti tidak ingin mengecewakan sang guru. Ia senantiasa ingin 
menunjukkan prestasinya yang terus meningkat dari waktu ke waktu di depan sang 
guru.

Palguna-Palgunadi

Pada suatu ketika, Ekalaya berada di tengah hutan. Ia mendengar serigala yang 
terus-menerus mengaung menggiriskan. Meski tidak melihat langsung keberadaan 
serigala itu, Ekalaya bisa menyumpal mulut binatang buas tersebut dengan 
sejumlah anak panah yang melesat dari busurnya tanpa menyakiti.

Arjuna bersama Durna yang kebetulan saat itu juga berada di hutan tersebut, 
tertegun melihat kepiawaian seorang pemuda membungkam serigala tanpa 
mencederai. Serigala liar dan galak itu dibuatnya tidak berkutik tanpa 
menderita luka sedikit pun.

Mereka kemudian mendatangi pemuda yang tidak lain ialah Ekalaya. Melihat sang 
guru menghampiri, Ekalaya langsung menyembah. Belum sampai Durna berucap, 
Ekalaya memperkenalkan bahwa dirinya ialah murid dari Paranggelung, yang dulu 
ditolak. Durna meluruskan bahwa dirinya tidak menolak, tetapi karena patuh 
terhadap perintah Bhisma.

Durna bertanya dari mana Ekalaya mendapatkan kemahiran memanah yang luar biasa 
itu. Ekalaya mengungkapkan bahwa kepintarannya memanah berkah dan tuah dari 
patung Durna yang dibuatnya. Setiap berlatih ia berimajinasi dirinya dididik 
sang guru yang ia kagumi itu.

Durna terkekeh mendengarnya. Ia lalu menegaskan dirinya tidak keberatan Ekalaya 
berguru pada patung Durna. Ia memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada 
Ekalaya untuk terus berlatih dan mengembangkan bakatnya memanah.

Melihat kehebatan memanah Ekalaya yang tidak jauh berbeda dengan kemahiran 
Arjuna, Durna berinisiatif menjadikan keduanya saudara seperguruan. Karena 
Arjuna memiliki nama lain Palguna, Durna memberikan Ekalaya nama Palgunadi dan 
diposisikan sebagai adik.

Dalam perkembangannya, Ekalaya lebih unggul daripada Arjuna dalam kelihaian 
memanah. Padahal, Ekalaya tidak belajar langsung dari Durna, sedangkan Arjuna 
setiap hari ditangani Durna. Inilah yang membuat Arjuna iri. Ia meminta 
keadilan sang guru serta demi menjaga harkat dan martabat Durna sendiri.

Minat dan gairah

Pada suatu hari, Durna memanggil Palgunadi. Ia bertanya, sebagai murid apa yang 
bisa dipersembahkan kepada guru yang telah membuatnya pintar. Palgunadi 
menyatakan apa pun perintah atau yang diminta sang guru akan dilaksanakan atau 
diserahkan dengan ikhlas.

Durna berprinsip Arjuna yang sangat ia sayangi, harus lebih baik daripada 
Palgunadi. Maka, ia meminta jempol tangan kanan Palgunadi. Ini semata-mata agar 
kehebatan menjemparingnya berkurang.

Namun, ternyata Arjuna tidak berkenan dengan cara Durna yang ia nilai tidak 
kesatria. Durna akhirnya memberikan ganti jempol Palgunadi dengan pusaka berupa 
cincin bernama Sesotya manik ampal yang dikenakan di jari kelingkingnya.

Dari kisah singkat ini menggambarkan bahwa Ekalaya yang belajar hanya dari 
patung, tetapi justru lebih hebat daripada Arjuna yang dilatih langsung oleh 
Durna. Kenapa demikian? Ekalaya memiliki kemerdekaan berpikir dan berimajinasi 
serta kebebasan mengembangkan bakat dan kemampuannya (skill) sesuai dengan 
minat dan gairah (passion)nya. (M-2)
 





Kirim email ke