-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://bali.antaranews.com/berita/179530/kerajinan-pelepah-pisang-bali-diekspor-ke-spanyol


Kerajinan pelepah pisang Bali diekspor ke Spanyol

Minggu, 9 Februari 2020 20:31 WIB

Pengrajin dari Desa Adat Sangket, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, 
Putu Lila (46), yang memanfaatkan pelepah pisang yang tidak berguna menjadi 
kerajinan yang bernilai tinggi, saat usahanya dikunjungi oleh ibu-ibu dari 
Dekranasda Buleleng bersama Dekranasda Belitung Timur. (ANTARA/Made 
Adnyana/2020)
Singaraja (ANTARA) - Pengrajin dari Desa Adat Sangket, Kecamatan Sukasada, 
Kabupaten Buleleng, Bali, Putu Lila (46), mampu menjadikan pelepah pisang yang 
tidak berguna menjadi kerajinan yang bernilai tinggi, sehingga menembus pasar 
ekspor ke Maldives dan Spanyol dengan omzet Rp15 juta per bulan.

Putu Lila memulai usahanya sebagai pengrajin pelepah pisang dari tahun 2004.. 
Selama kurang lebih 16 tahun tersebut, Putu Lila sudah mengalami pasang surut 
usaha seperti halnya yang juga pernah dirasakan pengusaha atau pengrajin 
lainnya.

"Ketika menghadapi masa surut, saya tetap bersabar dan terus menjalani usaha 
rumahan ini," kata Putu Lila yang usahanya sempat dikunjungi oleh ibu-ibu dari 
Dekranasda Buleleng bersama Dekranasda Belitung Timur.

Saat itu, Putu Lila menampilkan berbagai kerajinan seperti frame foto dan 
lukisan pasir yang dibingkai dengan pelepah pisang. Selain itu, ia menampilkan 
proses dari melukis pasir tersebut.

"Ini berawal dari hobi, pak. Namun terus berkembang hingga kami sekarang sudah 
melakukan ekspor ke dua negara yaitu Maldives dan juga Spanyol," ujar Putu Lila 
yang punya hobi melukis itu.

Produk-produk yang dihasilkan antara lain frame foto, asbak, hiasan berbentuk 
botol dan lukisan pasir. Semuanya memiliki seni yang memiliki nilai jual 
ekspor. Dua negara sudah dituju untuk ekspor yaitu Maldives dan juga Spanyol.

Pada awalnya, Putu Lila menjual hasil kerajinan pelepah pisang tersebut ke "art 
shop" di wilayah Buleleng dan juga luar Buleleng. Setelah itu, Putu Lila 
memiliki jaringan sehingga bisa mengundang "travel agent" untuk membawa 
wisatawan ke tempat produksi.

Baca juga: Industri batok kelapa wakili Klungkung ke tingkat nasional

Dari kedatangan wisatawan tersebut, dirinya mendapatkan pesanan dari Maldives 
dan juga Spanyol. "Kami kirim lewat kargo. Ada teman saya yang bekerja di kargo 
sehingga bisa mengirim ke dua negara itu," ungkapnya.

Sampai saat ini, ia hanya memanfaatkan anggota keluarganya untuk menjalankan 
usaha ini. Total ada enam orang pekerja yang membuat kerajinan mulai dari 
memilah pelepah pisang sampai pada mewarnai lukisan dengan pasir.

Seluruh kerajinan ini bisa menghasilkan omzet sampai Rp15 juta sebulan. "Untuk 
omzet, naik turun. Paling banyak Rp15 juta," kata ayah tiga anak ini.

Di tengah berkembangnya usaha kerajinan pelepah pisang ini, ada hambatan yang 
mempengaruhi jalannya usaha. Hambatan tersebut adalah peralatan atau mesin. 
Putu Lila mengakui selama ini seluruh proses produksi dilakukan dengan cara 
manual.

"Saya sangat mengharapkan bantuan peralatan mesin sehingga pekerjaan bisa 
dilakukan lebih cepat," katanya saat menerima kunjungan dari Dekranasda 
Belitung Timur.

Baca juga: Pameran kerajinan Jembrana catat transaksi Rp1 miliar

Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM 
(Disdagprinkop UKM) Buleleng, Drs. Dewa Made Sudiarta, yang mendampingi tamu 
dari Belitung Timur itu mengakui bahwa Putu Lila merupakan salah satu pengrajin 
potensial di Buleleng.

"Usahanya mengembangkan kerajinan dan juga ekspor ke luar negeri menjadi contoh 
bagi pengrajin lainnya. Hasil kerajinan dari pelepah pisang sudah sering 
diikutkan dalam pameran sebagai sarana promosi. Kami ikut sertakan di pameran 
baik daerah, provinsi maupun pusat," ucapnya.

Berbagai upaya pun dilakukan untuk terus memberdayakan pengrajin seperti Putu 
Lila ini. Jumlah pengrajin atau pelaku UKM yang terdata adalah 35.555 orang. 
Dari jumlah tersebut, yang potensial adalah 50 persen dan bergerak di sektor 
produksi.

"Ini menunjukkan potensi yang sangat besar pada bidang UKM di Kabupaten 
Buleleng. Kita harus terus mendorong dan mendukung keberadaan dari para 
pengrajin atau pelaku UKM ini," kata Dewa Made Sudiarta.

Dari jumlah tersebut, upaya pengembangan yang dilakukan Pemkab Buleleng, Dewa 
Made Sudiarta menegaskan selain peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) adalah 
pendampingan seperti pengembangan sentra-sentra UKM. Selama ini, sentra UKM ini 
sebenarnya sudah berkembang seperti di Desa Tigawasa.

"Pendampingan itu penting. Bagaimana pengrajin atau pelaku UKM berkelompok 
untuk menguatkan lembaganya, kemudian bisa bersatu menguatkan diri dan 
menguatkan pasar, termasuk kita lakukan pendampingan bagaimana agar inovasi 
dilakukan oleh para pengrajin atau pelaku UKM," tegasnya.

 
Pewarta : Made Adnyana
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA





Kirim email ke