https://www.jawapos.com/nasional/hukum-kriminal/10/02/2020/kasus-penculikan-anak-marak-lagi-modusnya-pura-pura-tanya-alamat/



*Kasus Penculikan Anak Marak Lagi, Modusnya Pura-Pura Tanya Alamat*

KASUISTIKA <https://www.jawapos.com/nasional/hukum-kriminal/>

10 Februari 2020, 15:49:13 WIB

[image: Kasus Penculikan Anak Marak Lagi, Modusnya Pura-Pura Tanya Alamat]
*B**URU KOMPLOTAN: Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo menunjukkan terduga
penculik bernama Achmad Muzzaki Maulana di Mapolres Gresik. (CHUSNUL
CAHYADI/JAWA POS)*

Teror penculikan anak kembali muncul di berbagai daerah, termasuk Jawa
Timur. Para pelaku bahkan tak segan membunuh korbannya. Saatnya para orang
tua meningkatkan pengawasan terhadap anak.

—

*KOMISI* Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima banyak laporan tentang
kasus dugaan penculikan dan perdagangan orang, khususnya anak-anak. Jika
dirunut ke belakang, pengaduan yang menyangkut korban anak memang tidak
sedikit.

Sepanjang tahun 2019 tercatat 244 kasus dengan jumlah tertinggi adalah anak
korban eksploitasi seksual komersial (71 kasus). Lalu, anak korban
prostitusi (64 kasus), anak korban perdagangan (56 kasus), dan anak korban
pekerja (53 kasus).

Ketua KPAI Susanto mengingatkan para orang tua bahwa modus penculikan kini
semakin beragam. ’’Orang tua, guru, dan masyarakat harus peka dengan
gerak-gerik orang di sekitar,’’ katanya kemarin (9/2).

Dia menjelaskan, penculikan kerap terjadi di lingkungan yang memungkinkan.
Misalnya, kondisi yang sepi atau lingkungan yang tidak memperhatikan anak.
Pelaku biasanya mempelajari kondisi lingkungan sasaran. ’’Orang terdekat
dengan anak harus hati-hati,’’ ucapnya.

Selain itu, anak-anak harus diajari cara memproteksi agar tidak terjadi
penculikan. Misalnya, anak diberi tahu agar berhati-hati dengan orang baru
yang tidak dikenal. Jangan mengikuti orang baru meski mendapat imbalan.

Anak juga bisa diajari agar selalu pamit kepada orang dewasa di sekitarnya
ketika akan bermain. Orang tua juga bisa mengetahui dengan siapa dan di
mana anak bermain. Keterbukaan antara anak dan orang tua dapat meminimalkan
penculikan. ’’Berikan literasi kepada anak agar mereka tidak rentan jadi
korban,’’ tuturnya.

Komisioner KPAI Bidang Trafficking Ai Maryati Solihah mengatakan, awal
tahun ini memang banyak pengaduan anak hilang. Dia mencontohkan kasus
percobaan penculikan anak di Gresik. Namun, Ai belum mendalami kasus
tersebut secara spesifik.

Berdasar catatan *Jawa Pos*, kasus di Gresik yang dimaksud Ai adalah
percobaan penculikan yang menimpa Lia (nama samaran). Saat itu, siswi kelas
V SDN itu hendak membeli camilan di toko kelontong dekat rumahnya di Desa
Ngabetan, Cerme. Malam itu suasana desa sedang sepi dan gerimis.

Seorang driver taksi online bernama Achmad Muzzaki Maulana baru menurunkan
penumpang di desa tersebut. Melihat Lia sendirian, pikiran jahat Zaki
–apaan Achmad Muzzaki Maulana– muncul. Dia memaksa Lia masuk ke dalam
mobilnya. Lia duduk di kursi dekat Zaki.

Warga Desa Banjarsari itu langsung memacu mobilnya keluar desa. Lia,
rupanya, bukan anak perempuan penakut. Dia sadar Zaki hendak berbuat jahat.
Bocah perempuan berambut sebahu itu dengan berani membuka paksa pintu
mobil. Dia lalu melompat ke luar. Berguling-guling di jalan, lalu berteriak
histeris.

Kampung yang semula sepi langsung riuh. Massa berhasil membekuk Zaki yang
berusaha kabur. Pria 25 tahun bertubuh gempal itu nyaris tewas karena
dihajar massa. Dalam pemeriksaan di kepolisian, Zaki mengaku diiming-imingi
Rp 30 juta oleh seorang perempuan jika bisa menculik anak berumur 1–10
tahun. Polisi kini memburu perempuan yang disebutkan Zaki tersebut.

Kasus itu bukan satu-satunya di Gresik. Selama tiga tahun terakhir, ada
empat kali kasus serupa. Tiga korban anak dan satu korban dewasa. Motif
penculikan bermacam-macam. Mulai berebut hak asuh hingga faktor ekonomi.

Dugaan penculikan juga terjadi di Mojokerto. Kasus tersebut berakhir tragis
dengan meninggalnya korban. Dari laporan *Jawa Pos Radar Mojokerto*, korban
bernama Ardiyo Wiliam Oktaviano, siswa kelas IV SDN Ketamasdungus. Ardiyo
ditemukan tewas di bawah Jembatan Gumul. Polisi menduga dia korban
penculikan orang tak dikenal (OTK).

Menurut informasi, penculikan itu berawal saat Ardiyo didatangi seorang
pria tak dikenal. Pria itu meminta diantar ke alamat rumah seseorang.
Pelaku mengendarai motor. Ardiyo mau saja diajak pria tersebut naik
motornya. Sejak itulah Ardiyo hilang. Pencarian pun dilakukan. Hasilnya,
jasad Ardiyo ditemukan di bawah jembatan di hutan jati. Hingga kini polisi
masih mengusut kasus tersebut.

Di Sidoarjo, percobaan penculikan anak juga sempat meresahkan para orang
tua. Hingga kini ada empat kejadian. Awal September tahun lalu siswi kelas
II MI nyaris diculik. Bocah 7 tahun itu didekati pengendara motor saat baru
berjalan kaki pulang sekolah. AW, inisial bocah tersebut, dibujuk agar
bersedia diantar hingga rumahnya.

Untung, aksi itu diketahui Rere Setya, salah seorang wali murid. Kecurigaan
Rere makin menjadi lantaran pengendara terus mendesak AW agar mau
diboncengkan. Seketika Rere berteriak memanggil AW. AW lari ke arah Rere.
Pelaku kabur.

Kejadian serupa berulang pada 16 September 2019. Seorang siswa kelas IV
Madrasah Ibtidaiyah NU (Minu) Wedoro, Waru, berinisial FS hampir diculik.
Modus penculikan sama. Berpura-pura menjemput siswa. Namun, kali ini
pelakunya menyaru sebagai driver ojek online. Awalnya korban berjalan kaki
pulang dari sekolah. Jarak rumahnya tak jauh. Nah, saat melintas di depan
TK Muslimat Waru, seorang pengendara ojol mendekat. Pengendara itu mengaku
sudah diorder orang tua korban. Namun, bocah 10 tahun tersebut tak percaya.
Dia malah ketakutan. FS berlari menuju Balai Desa Wedoro.

Maraknya kasus penculikan anak membuat jajaran Polrestabes Surabaya
meningkatkan kewaspadaan. Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran
menjelaskan, kasus penculikan pernah terjadi pada 2018. Tidak
tanggung-tanggung, Polrestabes Surabaya disibukkan oleh dua kasus
penculikan anak pada Januari. ’’Beriringan kasusnya,’’ ucap polisi dengan
dua melati di pundak itu.

Kasus pertama terjadi pada 16 Januari. Shakila, bocah 5 tahun, dilaporkan
ibunya telah dibawa lari orang asing di Jalan dr Soetomo. Ahmad Wahyudi,
pelaku yang akhirnya tertangkap dua hari berselang, mengaku ingin
menjadikan korban sebagai anaknya.

Laporan penculikan anak selanjutnya terjadi pada 23 Januari. Korban bernama
Vanessa yang berusia 9 tahun. Kejadian berawal dari kecelakaan saat Vanessa
berboncengan motor dengan sang ibu di Jalan Nginden Intan. Astuti, sang
ibu, baru sadar Vanessa hilang ketika sampai di rumah sakit. Siswa SD
Muhammadiyah 4 Pucang itu tidak ada.

Lima jam setelah dikabarkan hilang, Vanessa ditemukan. Dia berada di SPBU
Raci, Pasuruan. Bocah itu diduga sengaja ditinggalkan pelaku penculikan
yang takut lantaran kabar penculikan viral di media sosial.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : yad/jun/edi/aph/c10/c5/oni

Kirim email ke