-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/290336-mbok-cikrak-tempat-sampah-para-tki


Minggu 16 Februari 2020, 02:50 WIB

Mbok Cikrak, Tempat Sampah para TKI

MI/RAMDANI | Weekend
 
Mbok Cikrak, Tempat Sampah para TKI

MI/RAMDANI
Mbok Cikrak, Tempat Sampah para TKI

DI tengah keramaian Bandara Taoyuan, Taiwan, sosok perempuan itu duduk di 
troli. Ia sibuk memainkan ponsel pintarnya sambil sesekali memandang keluar 
menanti orang-orang yang ingin ditemuinya.

Kedatangannya ke bandara internasional bukan untuk menjemput orang terkasih 
melainkan melepas pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan kembali ke Tanah Air 
dan rutin dilakukan setiap hari.

Pada hari itu sekitar 20-30 orang ia hantarkan memasuki bandara untuk berkumpul 
dengan keluarga di Indonesia.

Mbok Cikrak, begitu ia dipanggil. Sosok paling kondang saat ini di kalangan 
buruh migran Indonesia yang bekerja di Taiwan. Dia dikenal hampir 250 ribu 
buruh migran Indonesia yang bekerja di berbagai sektor informal di negeri itu. 
Kini ia sudah menetap selama 20 tahun di Taiwan. Bahkan sudah beralih 
kewarganegaraan.

Berdasarkan artinya, Cikrak berarti tempat menampung sampah. Di mata para PMI, 
Mbok Cikrak Merupakan tempat mereka berkeluh kesah dan mencari bantuan. 
Perempuan yang sempat bekerja sebagai PMI mengurus lansia pada tahun 2000 dan 
agen tiket penerbangan itu awalnya prihatin dengan kondisi PMI yang kerap 
mendapatkan tindakan yang tidak menyenangkan.

Hatinya pun tergerak untuk membantu para rekannya. Ia pun membantu mereka yang 
ingin kembali ke Indonesia, bahkan mengunjungi para pahlawan devisa Indonesia 
yang berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan akibat berbagai penyakit 
yang diderita dan mungkin kabur akibat kekerasan dari majikan.

Lebih dari satu dekade, Mbok Cikrak dengan tanpa lelah membantu teman-temannya 
yang dalam kesulitan di Taiwan. Mbok Cikrak pun sampai memiliki rumah sewaan 
yang kerap disebut 'Rumah Harmoni' untuk mereka yang memerlukan bantuan Mbok 
Cikrak.

Di rumah itu, PMI biasa mencari bantuan hukum untuk menyelesaikan masalah, 
seperti penyalahgunaan kontrak kesepakatan. Untuk membela para PMI, Mbok Cikrak 
bahkan tidak takut menjadi penjamin para PMI yang sedang terkendala proses 
kembali pulang.

Di balik sosoknya yang tegar, ada kesedihan ketika ia melepas para PMI kembali 
ke Indonesia. Sedih bukan karena kehilangan teman, tapi karena belum bisa 
bertemu dengan keluarga di Tanah Air.

Kini di balik kesuksesannya, ia rindu akan kehangatan keluarga. Dalam 
perantauan Mbok Cikrak di negeri orang selama 20 tahun, tumbuh kerinduan yang 
sangat dalam.

"Saya ingin berkumpul dengan bapak, ibu, dan saudara di Indonesia. Di sini 
capek sendiri, hampa sendiri. Kalau ada masalah, larinya ke siapa? Kalau di 
rumah bisa kumpul sama keluarga. Kalau di sini?" ujarnya dengan suara yang 
bergetar.

"Walaupun setiap hari saya senang, bahagia, tetap masih ada yang ingin 
dicurahkan dengan keluarga. Saya ingin kehangatan keluarga di Indonesia. Hidup 
di Indonesia seperti ada artinya. Jiwa saya, hati saya tetap mencintai 
Indonesia. Saya ingin pulang. Saya ingin pulang. Saya rindu mendengar setiap 
saat azan berkumandang," pungkasnya. (M-1)





Kirim email ke