-- j.gedearka <[email protected]>
https://mediaindonesia.com/read/detail/290631-as-ancam-sekutunya-yang-masih-berbisnis-dengan-huawei Selasa 18 Februari 2020, 02:00 WIB AS Ancam Sekutunya yang masih Berbisnis dengan Huawei AFP/Nur/X-11 | Internasional AS Ancam Sekutunya yang masih Berbisnis dengan Huawei THOMAS KIENZLE / AFP Dubes Amerika Serikat untuk Jerman, Richard Grenell, mengatakan Presiden Donald Trump mengintruksikan untuk tidak berbisnis dengan Huawei. DUTA Besar Amerika Serikat untuk Jerman, Richard Grenell, mengatakan bahwa Presiden Donald Trump mengancam akan memutus sistem pembagian informasi intelijen terhadap negara-negara yang masih berurusan bisnis dengan perusahaan teknologi Tiongkok, Huawei. Washington sebelumnya telah mendesak sekutu-sekutunya untuk tidak berbisnis dengan Huawei, salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia. AS beralasan bisnis dengan Huawei akan berisiko bagi keamanan. “Trump menginstruksikan saya untuk menjelaskan bahwa setiap negara, yang memilih untuk menggunakan vendor 5G yang tidak dapat dipercaya, akan membahayakan kemampuan mereka untuk berbagi informasi dan intelijen di tingkat tertinggi,” kata Grenell, Minggu (16/2). Melalui akun Twitter-nya, Grenell mengatakan bahwa presiden telah meneleponnya dari pesawat kepresidenan, Air Force One, terkait dengan pesan tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan pada Konferensi Keamanan Munich beberapa waktu lalu bahwa Huawei ialah ‘kuda Troya untuk intelijen Tiongkok’. Pada pekan lalu, AS juga sudah mengajukan lebih banyak tuduhan pidana terhadap Huawei terkait dengan dugaan pencurian kekayaan intelektual. Itu menambah tuduhan sebelumnya bahwa perusahaan tersebut mencuri rahasia dagang dari operator Amerika, T-Mobile. Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, malah menyatakan bahwa Huawei ialah bagian dari strategi jahat Tiongkok untuk menginfiltrasi dan mendominasi infrastruktur penting di dunia Barat. “Kalau kita membiarkan ancaman tersebut, pada akhirnya yang dirugikan ialah NATO sendiri,” tegas Esper. Huawei telah membantah dengan keras tuduhan AS tersebut. Beijing pun menyebut perlakuan tersebut sebagai ‘intimidasi ekonomi’. Menlu Tiongkok, Wang Yi, meminta adanya keadilan dalam bisnis tersebut. Sejumlah sekutu AS kali ini juga tidak sejalan dengan Washington. Inggris dan Prancis, misalnya, mengatakan tidak akan melarang Huawei membangun jaringan 5G. Akan tetapi, mereka akan memberlakukan pembatasan. Saat ini, Huawei merupakan perusahaan nomor satu untuk pengembangan jaringan 5G. Pesaingnya dari Eropa antara lain Nokia dan Ericsson. (AFP/Nur/X-11)
