Li Keqing Pimpin Sidang Tim Pimpinan Pusat Pengontrolan Wabah Virus
Corona Tipe Baru
http://indonesian.cri.cn/20200218/c92839bd-1d86-5f56-202c-94a0d402589f.html
2020-02-18 11:36:28
Sidang Tim Pimpinan Pusat Pengontrolan Wabah Virus Corona COVID-19
yang dipimpin Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang digelar hari Senin
kemarin (17/2). Sidang berpendapat bahwa situasi wabah seluruh Tiongkok
menbaik. Pusat wabah dewasa ini tetap ada di kota Wuhan dan Provinsi
Hubei, keadaan perubahan wabah tetap amat rumit, dan pekerjaan
pencegahan dan pengontrolan di berbagai tempat sama sekali tak boleh
kendur. Sementara itu, sidang menunjukkan , harus menyelaraskan hubungan
pencegahan, dan pengontrolan dengan perkembangan ekonomi dan sosial.
Sidang menandaskan bahwa Kota Wuhan dan Provinsi Hubei harus terus
meningkatkan upaya pengecekan, memperluas suplai tempat tidur pasien.
Menurut keperluan pertolongan, lebih banyak tenaga medis akan
dikerahkan, dan memusatkan para ahli untuk meningkatkan pertolongan
kepada pasien parah. Perlindungan dan jaminan kehidupan para tenaga
medis harus diadakan dengan baik, lebih lanjut menjamin tersediaannya
bahan pencegahan dan pengontrolan wabah dan perlengkapan pertolongan
kepada pasien parah di Kota Wuhan dan Provinsi Hubei.
Sidang menunjukkan bahwa berbagai tempat harus terus melaksanakan
tindakan pencegahan wabah dalam trasportasi, melaksanakan rancangan
kembalinya pekerja migran secara bertertib. Berdasarkan keadaan
perubahan wabah, mengatur dimulainya kuliah di perguruan tinggi dan
pemulihan produksi perusahaan secara bertertib sementara meningkatkan
pencegahan dan pengontrolan wabah.
Apa yang Lebih Menakutkan dari pada Virus?
http://indonesian.cri.cn/20200218/68255003-8970-5253-c2bb-4ebcc305f6cd.html
2020-02-18 10:54:16
Sejak terjadinya wabah COVID-19 di Tiongkok, segenap rakyat Tiongkok
dengan keberanian dan ketetapan hati luar biasa berjuang melawan
epidemi. Upaya dan hasil Tiongkok boleh dikatakan sebagai percontohan
mengontrolan wabah internasional.
Akan tetap, beberapa negara Barat selalu menuduh Tiongkok tidak mampu
menangani wabah, menutup-nutupi informasi, bahkan ada media Barat
merilis sejumlah berita dan video yang tidak benar, mereka malah
melakukan serangan politik terhadap Tiongkok melalui insiden keamanan
kesehatan kali ini dan mencoba menjelekkan sistem politik Tiongkok. Ada
media besar bahkan menyebut virus ini “Made in China” dan secara terbuka
menerapkan “diskriminasi ras”. Opini tersebut tidak hanya melukai
rakyat Tiongkok, tapi juga mendampak rakyat keturunan Asia, dan
kesombongan dan prasangka itu mungkin lebih menakutkan dari pada virus
itu sendiri.
Ketua Komisi Perdagangan Nasional AS Peter Navarro menyebutkan Tiongkok
sebagai “inkubator virus”. Kata-kata tersebut bahkan diprotes oleh istri
Perdana Menteri Singapura. Ia bertanya: “kalau begitu, apa itu kasus
meninggalnya influenza tipe B yang tengah terjadi di AS?”. Menteri
Perdagangan AS menyebut, wabah di Tiongkok membantu AS karena kesempatan
kerja bisa kembali ke AS dari Tiongkok. Dalam liputan tentang rumah
sakit “Huoshenshan” dan “Leishenshan” yang baru dibangun Tiongkok, Voice
of Amerika (VOA) tidak melaporkan fungsinya rumah sakit itu, sedang
mengkhawatirkan apakah ada nilai jangka panjang kedua rumah sakit
sementara itu. Terkait bantuan Vietnam kepada Tiongkok, VoA dengan
sengaja memutarbalikkan kenyataan dan memprovokasi hubungan
Tiongkok-Vietnam dengan mengatakan bahwa Tiongkok tidak berterima kasih
kepada Vietnam, perbuatan AS itu bahkan diprotes oleh warganet Vietnam
di bawah laporan VoA itu.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia WHO Tedros Adhanom
Ghebreyesus memuji upaya-upaya Tiongkok berdasarkan informasi yang
diperoleh diri sendirinya. Namun pujian tersebut pun dicurigai oleh
media Barat. Justru seperti dikatakan oleh Tedros, di depan epidemi,
komunitas internasional harus pula berjuang melaawn informasi palsu dan
kabar bohong. Daripada COVID-19, prasangka dan diskrimasi antar manusia
lebih-lebih berbahaya bagi manusia.