-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://news.detik.com/kolom/d-4905746/momentum-pembenahan-total-bumn?tag_from=wp_cb_kolom_list


 Momentum Pembenahan Total BUMN

Marwan Jafar - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 15:42 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Anggota Komisi VI DPR RI PKB Marwan Jafar ingin BUMN menjadi lokomotif baru 
ekonomi nasional yakni dengan modernisasi BUMN jangka pendek dan jangka panjang.
Marwan Jafar (Foto: dok. Komisi VI DPR)
Jakarta -

Era pembenahan total Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya belum pernah 
mendapatkan momentum semeriah seperti sekarang. Maksudnya, untuk merevolusi 
institusi bisnis sekaligus memiliki kepedulian sosial tinggi ini pilihan yang 
tersedia: harus sekarang juga, atau tidak sama sekali.

Secara historis untuk menelusuri titik tolak sebelum menjelma menjadi BUMN 
seperti sekarang, institusi tersebut secara budaya adalah sesuatu yang "asing". 
Hal ini terutama karena BUMN sejatinya berasal dari korporasi perkebunan (yang 
kemudian melebar ke pertambangan) ciptaan Belanda dalam wujud organisasi 
ekonomi modern di pertengahan akhir abad ke-19.

Sampai pertengahan 1957, keterasingan budaya atas perusahaan-perusahaan itu 
masih berlanjut. Baru pada akhir 1957 dan awal 1958, jalan sejarah 
politik-ekonomi Indonesia segera berubah melalui aksi politik nasionalisasi 
perusahaan asing. Aksi politik ini sangat menjadi penentu sekaligus bersejarah, 
karena pada saat itulah, sejak 1870, Indonesia bisa mengontrol kekayaan 
ekonominya sendiri.

Seperti ditulis Ahmad Habir dalam State Enterprises: Reform and Policy Issues 
(1990), melalui aksi itu negara mengambil alih 600 perusahaan Belanda, 300 di 
antaranya perusahaan perkebunan dan lebih dari 100 perusahaan lain yang 
bergerak dalam ekspor dan pertambangan. Selebihnya perusahaan perdagangan, 
keuangan, komunikasi, gas dan listrik, serta konstruksi.

Melihat luasnya cakupan bidang ekonomi yang diperankan perusahaan yang 
dinasionalisasi, pada esensinya sejak 1958 Indonesia berhasil mencapai 
"kemerdekaan ekonomi" --melengkapi kemerdekaan politik sebelumnya. 
Perusahaan-perusahaan Belanda dan asing lain yang dinasionalisasi itulah yang 
sekarang ini kita kenal sebagai BUMN.

Kita juga mencatat, perkembangan menentukan terjadi pada 1998 ketika kabinet 
era Orde Baru memerintahkan pembentukan Kementerian BUMN yang menoreh sejarah 
konsolidasi kekayaan negara di bawah satu payung.

Namun demikian, nilai-nilai kejatidirian bangsa --sebagaimana diamanahkan atau 
dituntut UUD 1945-- khususnya terkait tugas sosial BUMN, jangan pula sampai 
terlupakan atau diabaikan. Artinya, BUMN juga wajib tetap nasionalis dan pro 
kerakyatan serta berkontribusi besar mengurangi kesenjangan ekonomi dan 
kemiskinan di tengah masyarakat yang masih cukup lebar.

Persoalan menyangkut kemiskinan tersebut saat ini sudah jadi masalah global dan 
bukan hanya melanda Indonesia. Buktinya, penghargaan Nobel Ekonomi tahun 2019 
lalu yang diraih Abhijit Banerjee, ekonom Amerika yang lahir di India dan istri 
yang berkebangsaan Prancis-Amerika Esther Duflo, serta ekonom Michael Kremer, 
karya-karyanya dinilai solutif mengatasi kemiskinan.

Para juri Panitia Nobel Swedia menyatakan, para pemenang tersebut telah 
memperkenalkan pendekatan baru untuk menemukan jawaban yang dapat diandalkan 
tentang cara terbaik buat memerangi kemiskinan global. Ketiganya menemukan cara 
baru yang lebih efisien untuk memerangi kemiskinan dengan memecahkan persoalan 
sulit menjadi lebih sederhana dan relatif lebih mudah ditangani.

Komite Hadiah Nobel menjelaskan, ketiga ekonom tersebut menginisiasi sebuah 
pendekatan untuk mengurangi kemiskinan yang berbasis pada sebuah desain 
eksperimen yang sangat hati-hati. Desain eksperimen tersebut nantinya akan 
menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan-pertanyaan terkait kebijakan tertentu.

Salah satu dari pemenang Hadiah Nobel tersebut, Esther Duflo, adalah penerima 
termuda yang dianugerahi Hadiah Nobel Ekonomi. Dia adalah seorang profesor di 
Massachusetts Institute of Technology. Duflo (46 tahun) meneliti kebijakan SD 
Inpres yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia pada era 1973 hingga 1978. 
Penelitian tersebut diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul Schooling and 
Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an 
Unusual Policy Experiment.

Ia menganalisis dampak dari program pemerintah tersebut terhadap pendidikan dan 
tingkat upah penduduk Indonesia kala itu. Caranya, dengan menggabungkan 
perbedaan jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antar-kelompok 
yang disebabkan oleh waktu program. Penelitian tersebut berbasis pada realitas 
ketika pemerintah Indonesia melalui kementerian yang terkait dan berwenang 
membangun lebih dari 61.000 SD.

Terkait keberhasilan pemerintah melalui kinerja kementerian terkait tersebut 
bukan tidak mungkin setelah BUMN bertransformasi menjadi lokomotif ekonomi baru 
--dengan kedua sayap utama bisnis dan sosial-- serta menggunakan pendekatan 
pengembangan keunggulan mutakhir kecerdasan berbisnis, kecerdasan buatan, dan 
big data akan lebih mampu berkontribusi secara nyata, baik secara kuantitatif 
maupun kualitatif khususnya dalam konteks mengurangi kemiskinan dan 
menyejahterakan warga masyarakat.

Salah satunya, melalui maksimalisasi program tanggung jawab sosial perusahaan 
(corporate social responsibility) secara terukur, masif, dan berkelanjutan 
maupun berbagai bentuk kreasi pemberdayaan sosial lain maupun inisiatif baru 
terkait masalah besar mengurangi kemiskinan di Indonesia secara lebih 
signifikan.

Marwan Jafar anggota Komisi VI DPR, mantan Menteri Desa-PDTT

(mmu/mmu)
bumn






Kirim email ke