-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4909953/badai-phk-melanda-ada-apa-dengan-ekonomi-ri?tag_from=wp_b


Sabtu, 22 Feb 2020 14:00 WIB

Terpopuler Sepekan

Badai PHK Melanda, Ada Apa Dengan Ekonomi RI?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Share 0
Tweet 0
Share 0
38 komentar
Ilustrasi PHK   Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melanda Indonesia dalam satu tahun 
terakhir ini. Mulai dari perusahaan baja, manufaktur, telekomunikasi hingga 
startup yang sudah menjadi unicorn.

Sebut saja PT Indosat Tbk yang baru saja melakukan PHK terhadap 677 karyawan. 
Lalu, Bukalapak perusahaan yang sudah menjadi unicorn juga melakukan PHK. 
Begitu juga dengan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang melakukan PHK dalam rangka 
restrukturisasi.

Hingga saat ini, sebanyak 2.683 karyawan kontrak dari 9 vendor di lingkungan 
Krakatau Steel setuju untuk diberhentikan.

Menanggapi fenomena itu, Peneliti senior Institute for Development of Economics 
and Finance (INDEF) Fadhil Hasan menuturkan, dalam satu tahun terakhir ini 
memang perekonomian Indonesia turut tertekan dengan adanya faktor global. 
Begitu juga dengan indikator pertumbuhan ekonomi seperti investasi, daya beli, 
ekspor-impor yang memang tertekan.

"Setahun terakhir ini perekonomian menghadapi tantangan besar, berat. Kita 
lihat berbagai indikator pertumbuhan ekonomi kita juga tidak menggembirakan. 
Salah satunya itu terkait dengan daya beli masyarakat, kemudian dari sisi 
permintaan juga melemah, ekspor dan seterusnya. Sehingga banyak perusahaan yang 
mengalami kesulitan," kata Fadhil kepada detikcom, Senin (17/2/2020).
Baca juga: Masa-masa Indah Kerja di Startup Mulai Berakhir?

Selain itu, perubahan model bisnis di pesatnya perkembangan digital juga 
menjadi faktor banyaknya perusahaan yang melakukan PHK demi menjaga 
keseimbangan perusahaan.

"Perusahaan di berbagai bidang saya kira mengalami persoalan yang sama. 
Permintaan melambat, persaingan ketat, pergeseran bisnis seperti online 
transaction," papar Fadhil.

Namun, menurutnya ada faktor internal yakni melihat persoalan yang terjadi di 
setiap perusahaan, tak semuanya sama.

"Ada sifatnya kasus per kasus misalnya KS itu kan memang melakukan 
restrukturisasi besar-besaran sehingga harus melakukan rasionalisasi 
karyawannya. Kedua kalau misalnya Indosat sudah lama mengalami persoalan karena 
persaingan ketat, fundamental perusahaan tidak terlalu bagus sehingga me-lay 
off," terang dia.

Sependapat dengan Fadhil, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) 
Piter Abdullah Redjalam mengatakan, beberapa perusahaan yang melakukan PHK 
memang punya persoalan internal.

"PHK itu terjadinya di perusahaan yang memang kinerjanya tidak cukup baik 
bahkan untuk KS bisa dikatakan sedang bermasalah. Jadi kejadian PHK itu bukan 
gambaran kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Tapi lebih bersifat 
individual," ujar Piter ketika dihubungi detikcom secara terpisah.
Baca juga: Mohon Ikhlas, Era Bakar Duit Startup Sudah Berakhir

Namun, ia berpendapat, pemerintah harus tetap menciptakan dan menjaga iklim 
usaha yang kondusif. Sehingga, baik persoalan internal maupun tekanan global 
tak semakin membuka kesempatan PHK ini.

Kembali ke Fadhil, ia berpesan agar pemerintah tak menambah beban yang 
ditanggung dunia usaha dengan mempermudah masuknya investasi, terutama ke 
industri manufaktur.


Simak Video "PHK Ratusan Karyawan, Indosat Goyang?"

(das/hns)





Kirim email ke