-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1758-aceh-islam-indonesia



Sabtu 22 Februari 2020, 05:30 WIB

Aceh, Islam, Indonesia

Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group | podium
 
Aceh, Islam, Indonesia

MI/Ebet
Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group

"DEMI Allah! Polim masih hidup! Bait hidup! Imam Longbata hidup! Sultan Daud 
Hidup! Tuanku Hasyim hidup! Menantuku, Teuku Majet di Tiro masih hidup! Anakku 
Cut Gambang masih hidup! Ulama Tanah Abee hidup! Pang La'ot hidup! Kita semua 
masih hidup! Belum ada yang kalah! Umar memang telah syahid! Marilah kita 
meneruskan pekerjaannya! Untuk agama! Untuk kemerdekaan bangsa kita! Untuk 
Aceh! Allahu Akbar!"

Begitu Cut Nyak Dien menggelorakan semangat rakyat Aceh untuk terus menghunus 
rencong melawan Belanda meski Teuku Umar telah gugur. Namun, Cut Nyak akhirnya 
menyerah kepada Belanda pada 1900-an awal. Saat itulah Aceh baru benar-benar 
jatuh ke tangan Belanda.

Aceh menjadi wilayah Nusantara terakhir yang jatuh ke tangan penjajah. Bila 
dikatakan Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun, Aceh secara utuh dijajah 
Belanda kurang dari 50 tahun. Bila di buku-buku pelajaran sejarah dikatakan 
Indonesia dijajah selama 350 tahun, orang Aceh akan berkata, "Oh itu Jawa, 
bukan Aceh."

Kita semua termasuk anak-anak sekolahan tahu dan hafal Perang Jawa atau Perang 
Diponegoro terjadi selepas Magrib, pukul 18.25-18.30, plesetan dari tahun 
1825-1830. Akan tetapi, mungkin cuma segelintir yang paham Perang Jawa itu 
perang antara penguasa dan pemberontak. Belanda penguasa dan Diponegoro 
pemberontak. Perang Aceh perang dua negara berdaulat, yakni negara Aceh dan 
negara Belanda.

Bila kita saksikan bagaimana Cut Nyak Dien menggelorakan perlawanan rakyatnya 
kepada Belanda, jelas semangat keacehan dan keislaman yang menjadikan Aceh 
bertahan begitu lama dari upaya penaklukkan oleh penjajah.

Keacehan dan keislaman dalam fase sejarah berikutnya disertai semangat 
keindonesiaan, kebangsaan, dan nasionalisme. Bireuen, Aceh, pernah menjadi ibu 
kota negara pada 1948 selama sepekan. Pun orang Aceh patungan, mengumpulkan 
uang secara bersama-sama, untuk membeli pesawat pertama Republik.

Justru pemerintah pusat pada satu masa mengabaikan Aceh. Pada 1950-an Aceh 
turun status dari provinsi menjadi keresidenan bagian provinsi Sumatra Utara. 
Inilah yang membuat Daud Beureueh memberontak. Pemberontakan 'diteruskan' 
Gerakan Aceh Merdeka dan berlangsung hingga masa reformasi.

Pemberontakan membuat Aceh mendapat perlakuan khusus secara politik dan 
militer. Pun secara ekonomi, terutama semasa Orde Baru, rakyat Aceh merasa 
terdiskriminasikan. Aceh begitu kaya alamnya, tetapi miskin rakyatnya.

Saat menjadi presiden, Gus Dur mengintroduksi syariat Islam di Aceh. Ganjil bin 
ajaib tokoh pluralisme sekaliber Gus Dur mengizinkan penerapan syariat Islam.

Zaini Abdullah, tokoh GAM, waktu itu mengatakan Gus Dur melakukan itu untuk 
meredam perlawanan GAM. Padahal, GAM gerakan etnonasionalisme yang 
memperjuangkan keacehan atau nasionalisme Aceh, bukan keislaman.

Toh, syariat Islam akhirnya berlaku di Aceh dan semakin luas penerapannya. Yang 
penting, jangan sampai penerapan syariat Islam menjadikan Aceh terasing dari 
keacehannya sendiri dan keindonesiaan.

Tsunami 2004 membuka jalan bagi perdamaian di Aceh. GAM menjadi partai lokal. 
Beberapa partai lokal lain lahir. Ini model Inggris dalam menyelesaikan upaya 
memisahkan diri. Di Inggris Irish Republican Army (IRA, Tentara Pembebasan 
Irlandia Utara) bermetamorfosis menjadi Partai Sinn Fein. Upaya memisahkan diri 
bergeser dari perjuangan bersenjata menjadi perjuangan politik.

Perdamaian di Aceh mestinya membuka jalan bagi pembangunan dan pemberdayaan 
Aceh. Aceh sejak zaman Samudera Pasai hingga awal kemerdekaan dikenal makmur. 
Aceh mengekspor beras ke Sumatra Timur. Kalau tidak makmur, mana bisa rakyat 
Aceh mengumpulkan duit untuk beli pesawat.

Namun, kemakmuran belum mau mampir lagi ke Aceh. Meski kemiskinan berkurang 
dari tahun ke tahun, Tim Aceh bertahan di posisi buncit dalam klasemen Grup 
Sumatra Kualifikasi Piala Kemakmuran.

Dulu muncul anggapan salah satu pangkal kemiskinan Aceh ialah diskriminasi dan 
pengabaian oleh pemerintah pusat. Akan tetapi, kini pemerintahan Jokowi sangat 
peduli kepada Aceh meski Jokowi kalah tipis pada Pilpres 2014 dan kalah telak 
pada Pilpres 2019.

Aceh termasuk provinsi yang paling sering dikunjungi Jokowi. Hari ini, Sabtu, 
22 Februari 2019, Jokowi kembali bertandang ke Aceh untuk merayakan Kenduri 
Kebangsaan yang diselenggarakan Media Group, Yayasan Sukma, serta Forum Bersama 
Anggota DPR dan DPD RI. Penyelenggaraan acara ini diharapkan dapat 'menginikan' 
sejarah keacehan, keislaman, dan keindonesian demi kemajuan Aceh.
 






Kirim email ke