-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4920563/tak-ada-yang-lebih-tabah-dari-warga-enam-dua?tag_from=wp_cb_kolom_list


Jeda

Tak Ada yang Lebih Tabah dari Warga "Enam Dua"

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 01 Mar 2020 12:06 WIB
7 komentar
SHARE URL telah disalin
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Tak ada yang lebih tabah dari warga "enam dua". Hujan bulan Juni saja mungkin 
kalah. Hari-hari ini ketabahan manusia Indonesia yang sudah lama dikenal di 
segala penjuru angin dan seantero jagad raya untuk kesekian kalinya kembali 
diuji, dan memang terbukti "pilih tanding". Tak ada yang lebih tabah dari kita 
yang berkali-kali dihajar dan digempur bertubi-tubi oleh berbagai badai ujian, 
cobaan, dan tantangan dalam segala bentuknya, terbukti tetap tegak-tegar 
berdiri, bagaikan karang di tengah hempasan ombak, bagaikan dinding-dinding 
tebing yang memagari pantai.

Dingin, kuat, nyaris angkuh; itulah kita saking tabahnya, bangga dan memuji 
diri sendiri tak henti-henti. Kita baru saja dibuat geleng-geleng kepala, lalu 
melongo sampai mulut nyaris kemasukan lalat ijo, kemudian terkaget-kaget sampai 
rasanya mau kejengkang, dan berakhir dengan tawa lebar terbahak-bahak hingga 
pegal rahang dan pundak kita yang terguncang-guncang hebat, gara-gara 
pernyataan seorang ibu yang alim dan santun anggota sebuah lembaga pemerintahan 
yang mengatakan bahwa seorang perempuan bisa hamil kalau berenang campur dengan 
laki-laki dalam satu kolam.

Apa yang kita herankan sebenarnya? Apa yang membuat kita nyaris tidak percaya 
bahwa di zaman melimpahnya informasi saat ini, ada seorang berpendidikan 
tinggi, punya jabatan publik, terhormat, intelek, bisa mengeluarkan pernyataan 
yang sekonyol dan seabsurd itu? Tidak, bukan kekonyolan dan keabsurdan itu 
benar yang menusuk kalbu dan mengusik nurani kita. Pada zaman Mahabharata dulu, 
Dewi Kunti hamil gara-gara berjemur di bawah matahari, lalu lahirlah Karna sang 
perkasa, kakak para Pandawa sang pahlawan kita.

Jadi, yang membuat kita ribut, heboh, dan berolok-olok sampai nyaris 
marah-marah, sampai tak bisa lagi membedakan apakah kita sebenarnya sedang 
menangis atau tertawa, sebenarnya tak lain karena ketabahan kita menghadapi 
kenyataan itu. Kenyataan bahwa pernyataan yang paling konyol dan tak 
terbayangkan masih harus kita dengar, baca, simak, dan komentari ramai-ramai di 
abad yang mengobral istilah-istilah keren seperti "matinya kepakaran", "matinya 
demokrasi", "pasca kebenaran", "Big Data", "kecerdasan buatan", "Internet of 
Things", "Revolusi Industri 4.0", "Society 5.0", dan entah apa lagi....

Kita mengelus dada, menyandarkan punggung, menarik napas dalam-dalam, sambil 
berbisik pada diri sendiri, "Sabar, sabar...." Namun, sebelum bisikan lirih itu 
tertelan kembali, kita sudah dihadapkan pada pernyataan-pernyataan lain, yang 
datang dan pergi, yang tak kalah konyolnya, yang kembali menguji ketabahan 
kita. Seorang tokoh ormas dengan penuh semangat, berapi-api, dan berbusa-busa 
mengatakan bahwa banjir di Jakarta akibat hujan deras akhir-akhir ini hanya 
terjadi pada hari libur, semua itu berkat doa sang gubernur.

Bagaimana mengaitkan bencana alam dengan kesalehan seorang pemimpin? Tiba-tiba 
kita ingin mencakari sofa tempat kita duduk sampai koyak-moyak dan busanya 
berhamburan. Sejak itu, kita semakin yakin bahwa ketabahan kita memang tak akan 
terkalahkan oleh apapun lagi. Maka, ketika Wakil Presiden mengatakan bahwa 
bangsa kita sampai sejauh ini "masih aman" dari terpaan virus corona karena 
kita rajin membaca doa qunut saat salat subuh, jangankan untuk berdebat, kita 
bahkan sudah tidak punya sisa energi untuk menggumamkan komentar dalam satu 
kata sekalipun.

Tentu saja, sebagai insan-insan dan bangsa yang religius, kita sangat percaya 
dan tidak bakal berbantah-bantah lagi mengenai penting dan ampuhnya doa. Tapi, 
kita juga tahu, ada saat dan forum yang tepat ketika kita perlu bicara dan 
menegaskan kembali tentang hal itu. Pada saat seperti ini, ketika dihadapkan 
pada bencana dan musibah, entah itu banjir maupun wabah penyakit yang 
mematikan, yang pertama kali diperlukan oleh masyarakat adalah informasi yang 
jelas dari pemerintah bahwa telah dilakukan usaha-usaha yang sistematis, 
rasional, dan terukur.

Bukankah agama juga mengajarkan, usaha dulu baru doa? Dalam kasus wabah virus 
corona misalnya, Indonesia yang masih "aman-aman saja" di tengah negara-negara 
lain yang mulai "panik" dan melakukan langkah-langkah nyata --dari membatalkan 
salat Jumat sampai menutup kunjungan umroh-- kita perlu penjelasan yang 
meyakinkan, kenapa di negara kita masih "nol kasus". Sesuatu yang mestinya 
membuat kita tenang, patut bersyukur, dan kalau perlu berbangga (tanpa harus 
jumawa dan terlena), namun karena ketiadaan informasi yang jelas dari otoritas, 
yang ada justru sikap skeptis, was-was, dan penuh tanda tanya dalam 
ketidakjelasan.

Jika setiap pernyataan yang keluar dari seorang menteri hingga wakil presiden 
tidak membuat segala ketidakpastian itu berkurang, melainkan justru semakin 
menambah keraguan, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ketabahan. 
Barangkali kita memang ditakdirkan untuk menjadi bangsa yang santai, pasrah, 
menghibur diri, bercanda, melucu, ngocol, dan entah apa lagi....

Dulu, pada zaman Orde Baru, juga ada seorang menteri yang akan terus dikenang 
karena pernyataannya yang menimbulkan kontroversi. Menurut sang menteri yang 
kala itu masih muda tersebut, maraknya lapangan golf (pada masa itu, yang 
kadang sampai harus menggusur permukiman warga), adalah indikator dari 
kemakmuran masyarakat. Tentu saja dia benar; maksudnya, indikator bagi yang 
makmur itu sendiri, sedangkan yang tergusur silakan gigit jari.

Jadi memang sudah dari dulu kita terbiasa mendapatkan pernyataan-pernyataan 
yang kacau, mengusik nalar, menghina akal sehat, bahkan menyakitkan hati, dari 
tokoh-tokoh, pejabat, dan para pemimpin yang mestinya memiliki 
pertanggungjawaban publik. Semua itu bisa jadi berakar pada budaya dan 
pendidikan kita yang tidak membiasakan dan mengajari kita untuk mengasah 
kemampuan mengungkapkan pernyataan dan ekspresi perasaan dengan benar.

Saya ingat, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas tiga SMP dulu, murid-murid 
diminta Pak Guru untuk membuat kalimat yang benar dan menarik, dan itu terasa 
sebagai sebuah siksaan yang luar biasa, karena alangkah susahnya, karena 
--ternyata-- kita tidak mampu.

Pergilah ke acara pemakaman di kampung-kampung, dan kau bisa menyaksikan, 
barangkali hanya manusia Indonesia, warga "enam dua" ini, yang bisa bercanda 
dan tertawa di tengah upacara yang mestinya khusyuk, khidmat, dan penuh suasana 
duka cita.

Kita terbiasa salah menempatkan ekspresi dan sikap dalam banyak hal dan 
keadaan. Kita tidak terbiasa memuji, menyanjung, memberikan pernyataan yang 
mengapresiasi; kita lebih piawai mengolok, menyindir, atau dalam budaya Jawa 
secara khusus ada istilah "pasemon", "nyemoni", sebuah "seni" untuk 
mengungkapkan perasaan negatif tanpa terkesan menyakitkan, tapi efek mentalnya 
justru luar biasa menohok tajam, menghunjam perasaan yang paling dalam, 
membekas, dan susah dilupakan. (Bayangkan, untuk sesuatu yang sebenarnya 
bertujuan untuk menyakiti pun, kita punya cara yang samar agar tidak mencolok, 
tapi hasilnya sama saja!)

Kita selalu ingin melucu, melawak, tapi selalu salah tempat, tidak pas dengan 
suasana, dan gagal. Kita berlagak sok santai di saat situasi sebenarnya 
menghendaki keseriusan, dan sebaliknya tegang, kenceng, "ngegas" di saat yang 
mestinya perlu bersikap santai, wajar, dan biasa-biasa saja. Pendek kata, kita 
tidak peka; tidak pandai bersimpati, dan tidak punya empati. Berbagai "kearifan 
lokal" yang mulia seperti welas asih, tepa slira, dan empan papan hanya menjadi 
jargon pucat, lebih sekadar untuk mengklaim keagungan primordial, membanggakan 
kelompok, dan bukannya menjadi praktik keutamaan yang melekat dan "spontan" 
dalam pergaulan kehidupan.

Kita bahkan sulit sekali mengucapkan "terima kasih". Berilah bangku pada orang 
lain di transportasi umum, dan biasanya orang tersebut akan segera menerimanya 
bahkan tanpa menoleh ke arah kita untuk sekadar beradu pandang sebagai isyarat 
ucapan terima kasih, atau minimal memberikan senyuman paling tipis sekalipun. 
Budaya kita lebih mengajarkan untuk selalu menyerobot, mementingkan diri 
sendiri di atas kepentingan orang banyak, dan tak peduli. Sebaliknya, ketika 
kepentingan sendiri terusik sedikit saja, begitu mudahnya kita tersinggung, 
marah, nyolot, dan entah apa lagi....Yang punya utang lebih galak ketika 
ditagih oleh yang punya piutang!

Di jalanan, dua orang pengendara yang sama-sama melanggar aturan, dan karena 
satu dan lain hal, karena yang satu merasa terusik atau entah bagaimana, bisa 
berantem sendiri di tengah jalan, sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya 
yang lebih banyak, yang menggunakan jalan sesuai peraturan. Yang tertib dan 
mentaati peraturan bisa menjadi minoritas dan malah menjadi "kalah gertak" oleh 
yang melanggar peraturan, karena jumlah mereka bisa jadi lebih banyak, dan 
melanggar itu sudah menjadi kebiasaan, dianggap wajar, sehingga seolah-olah 
justru merekalah yang benar.

Hal-hal kecil dan terkesan --atau kita anggap-- remeh tersebut merembet pada 
tatanan yang lebih besar dan menguasai hajat hidup orang banyak seperti hukum 
dan berbagai peraturan di level kekuasaan dan pengambil kebijakan. Atau, 
jangan-jangan justru sebaliknya, berbagai kekacauan di tingkat bawah itu 
cerminan dan akibat dari hukum dan berbagai peraturan perundang-undangan negara 
yang semestinya mengayomi, memberi rasa aman, menjamin keadilan dan ujungnya 
membuat kehidupan masyarakat tertata, nyaman, dan tenteram, namun kenyataannya 
justru lebih sering memberikan ketidakpastian dan perasaan terancam? 
Wallahualam.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)





Kirim email ke