Denny Siregar
<https://www.facebook.com/dennyzsiregar/?hc_ref=ARSm9znqA48OtDGzFlX-KEmTMfa3F14zYV8_eg4bLl15nxw5ssseIxWiC2VGqIZZBd8&ref=nf_target&__xts__%5B0%5D=68.ARAmQwOKrgalOVqW-5aUgZzZxm0Wt_yu0zwKWg2bQlvTTYgXaScWowCAuXXP2lxFhIxGuxxpMJIJPxciRiaW5fd6c4qkdq6l3cPcNJKg4EN3EtGhfRCgqTwCy3Jq0AUEu0eO9D1iMdxihxbPF7oPpsnR4YOWiN0Mt6hiei2rF_UaIwBhZ6cWSDXwwWrh3I-7CjDRktVAwh6p1iH0Hr1kpK2IoSRq--cfHWKni4D_i7HtDvZXY_M1uKUvK-h0wUPPLWCb-aOkxMWrXiEFxVDgwt07cQ921f4DnqJxCB4MJs2paPBrGAqk4iIHMq7gmkonwnGvYVmSsmwk4_TULaQWlA&__tn__=kC-R><https://www.facebook.com/dennyzsiregar/?hc_ref=ARSm9znqA48OtDGzFlX-KEmTMfa3F14zYV8_eg4bLl15nxw5ssseIxWiC2VGqIZZBd8&ref=nf_target&__xts__%5B0%5D=68.ARAmQwOKrgalOVqW-5aUgZzZxm0Wt_yu0zwKWg2bQlvTTYgXaScWowCAuXXP2lxFhIxGuxxpMJIJPxciRiaW5fd6c4qkdq6l3cPcNJKg4EN3EtGhfRCgqTwCy3Jq0AUEu0eO9D1iMdxihxbPF7oPpsnR4YOWiN0Mt6hiei2rF_UaIwBhZ6cWSDXwwWrh3I-7CjDRktVAwh6p1iH0Hr1kpK2IoSRq--cfHWKni4D_i7HtDvZXY_M1uKUvK-h0wUPPLWCb-aOkxMWrXiEFxVDgwt07cQ921f4DnqJxCB4MJs2paPBrGAqk4iIHMq7gmkonwnGvYVmSsmwk4_TULaQWlA&__tn__=kC-R>updated
their status.
Yesterday at 06:09
<https://www.facebook.com/dennyzsiregar/posts/2993484677381047?__xts__%5B0%5D=68.ARAmQwOKrgalOVqW-5aUgZzZxm0Wt_yu0zwKWg2bQlvTTYgXaScWowCAuXXP2lxFhIxGuxxpMJIJPxciRiaW5fd6c4qkdq6l3cPcNJKg4EN3EtGhfRCgqTwCy3Jq0AUEu0eO9D1iMdxihxbPF7oPpsnR4YOWiN0Mt6hiei2rF_UaIwBhZ6cWSDXwwWrh3I-7CjDRktVAwh6p1iH0Hr1kpK2IoSRq--cfHWKni4D_i7HtDvZXY_M1uKUvK-h0wUPPLWCb-aOkxMWrXiEFxVDgwt07cQ921f4DnqJxCB4MJs2paPBrGAqk4iIHMq7gmkonwnGvYVmSsmwk4_TULaQWlA&__tn__=-R>ยท
https://www.facebook.com/dennyzsiregar/posts/2993484677381047
*CORONA BUKAN PENYAKIT MENGERIKAN*
Tahun 2019, selama sebulan ada 13 ribu lebih orang kena penyakit demam
berdarah.
133 orang meninggal. Itu hanya bulan Januari saja.
Bulan Januari 2020, ada 1.300 lebih kasus demam berdarah di Indonesia.
12 orang meninggal.
Tapi kenapa kita tidak panik, borong belanjaan di supermarket, lalu
persiapan beli obat nyamuk berkarton-karton supaya tidak terkena ?
Kita belum bicara tentang jumlah kematian karena stroke dan jantung yang
disebut sebagai pembunuh nomer satu didunia. Apalagi bicara tentang
kematian karena kecelakaan di jalan raya.
Tapi kenapa kita biasa-biasa saja ? Tetap makan soto betawi di pinggir
jalan, tetap ugal-ugalan di jalan. Tidak ada kepanikan apa-apa, atau
setidaknya mengingatkan, "Hati-hati, teman.. Jangan olahraga terlalu
keras dan makan makanan berlemak !"
Beda dengan virus Corona. Baru dengar 2 orang positif kena virus saja,
langsung panik dan belanja masker dengan harga berlipat, menimbun beras
seolah mau kiamat dan mengurung diri di rumah takut ketularan.
Dimana perbedaannya antara DBD, stroke dan jantung, kecelakaan dan virus
Corona ?
Perbedaannya ada di benak kita.
Setiap hari kita diasupi berita meninggalnya sekian orang di China, di
Iran, di Italia dan dimana-mana. Lalu ada berita orang-orang jatuh, lalu
mati di pinggir jalan. Semua terbangun menjadi satu dalam otak, dan
terbangun kesimpulan, "Virus Corona sangat mematikan.."
Lalu ketika mampir ke negara kita, kita ikutan panik luar biasa. Padahal
angka kematian dari penyakit lain di negara kita lebih gila..
Biasa sajalah. Tetap waspada tapi tidak perlu paranoid berlebihan. Panik
biar "seperti orang-orang". Percayakan pada pemerintah, gak perlu sibuk
menyebarkan isu tanpa keterangan.
Saya pernah ngobrol dengan seorang intelijen.
"Teroris itu hanya membunuh beberapa orang. Tapi efek ketakutannya bisa
membunuh jutaan orang, bahkan ratusan juta dalam bentuk merosotnya nilai
mata uang, pariwisata lumpuh dan ekonomi anjlok sehingga banyak karyawan
dirumahkan.
Itulah pembunuh terbesar, yaitu persepsi liar.
Dibutuhkan ketenangan dalam menghadapi masalah, supaya efeknya tidak
merambat kemana-mana.."
Seruput kopinya..
Denny Siregar