Ga nyambunglah.Demam berdarah karena nyamuk. Stroke dan jantung karena gaya
hidup.Kecelakaan di jalan karena kelalaian manusia.Orang2 ga panik? Ya
paniklah. Waktu demam berdarah, dulu malaria, saya ingat ada penyemprotan
massal ke - rumah2. Atau semprot sendiri.Tahun 80-an juga ada kok penyemprotan
rumah2 dari RW.Apa itu bukan panik? Tapi ga borong makanan karena orang yg
sakit beserta keluarganya ga dikarantina Stroke dan heart attack, siapa bilang
ga menakutkan? Kita yg dah umur 60 tahun keatas memang bandel. Tapi generasi
anak saya kebawah sudah sadar sehat. Mereka banyak pergi ke gym dan pantang
lemak karena takut kena heart attack.Beda sama virus, baik corona atau sars
atau apalah.Virus menular melalui udara yg kita hisap. Makanya perlu masker.
Tak dapat diatasi dengan usaha kita selain membatasi jangan banyak kumpul2 dg
orang lain dan kalo perlu pake masker.Yang anehnya, disini, di daerah saya di
California, yg pake masker itu malahan chinesenya yg asal China. Orang lain ga.
Jadi siapa yg nyebar ketakutan? MEREKA SENDIRI!Sent from my Verizon, Samsung
Galaxy smartphone
-------- Original message --------From: "ChanCT [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> Date: 3/3/20 4:02 PM (GMT-08:00) To:
GELORA_In <[email protected]> Subject: [GELORA45] CORONA BUKAN PENYAKIT
MENGERIKAN
Denny Siregar updated
their status.
Yesterday
at 06:09 ·
https://www.facebook.com/dennyzsiregar/posts/2993484677381047
CORONA
BUKAN PENYAKIT MENGERIKAN
Tahun
2019, selama sebulan ada 13 ribu lebih orang kena penyakit
demam berdarah.
133 orang
meninggal. Itu hanya bulan Januari saja.
Bulan
Januari 2020, ada 1.300 lebih kasus demam berdarah di
Indonesia. 12 orang meninggal.
Tapi
kenapa kita tidak panik, borong belanjaan di supermarket, lalu
persiapan beli obat nyamuk berkarton-karton supaya tidak
terkena ?
Kita
belum bicara tentang jumlah kematian karena stroke dan jantung
yang disebut sebagai pembunuh nomer satu didunia. Apalagi
bicara tentang kematian karena kecelakaan di jalan raya.
Tapi
kenapa kita biasa-biasa saja ? Tetap makan soto betawi di
pinggir jalan, tetap ugal-ugalan di jalan. Tidak ada kepanikan
apa-apa, atau setidaknya mengingatkan, "Hati-hati, teman..
Jangan olahraga terlalu keras dan makan makanan berlemak !"
Beda
dengan virus Corona. Baru dengar 2 orang positif kena virus
saja, langsung panik dan belanja masker dengan harga berlipat,
menimbun beras seolah mau kiamat dan mengurung diri di rumah
takut ketularan.
Dimana
perbedaannya antara DBD, stroke dan jantung, kecelakaan dan
virus Corona ?
Perbedaannya
ada di benak kita.
Setiap
hari kita diasupi berita meninggalnya sekian orang di China,
di Iran, di Italia dan dimana-mana. Lalu ada berita
orang-orang jatuh, lalu mati di pinggir jalan. Semua terbangun
menjadi satu dalam otak, dan terbangun kesimpulan, "Virus
Corona sangat mematikan.."
Lalu
ketika mampir ke negara kita, kita ikutan panik luar biasa.
Padahal angka kematian dari penyakit lain di negara kita lebih
gila..
Biasa
sajalah. Tetap waspada tapi tidak perlu paranoid berlebihan.
Panik biar "seperti orang-orang". Percayakan pada pemerintah,
gak perlu sibuk menyebarkan isu tanpa keterangan.
Saya
pernah ngobrol dengan seorang intelijen.
"Teroris
itu hanya membunuh beberapa orang. Tapi efek ketakutannya bisa
membunuh jutaan orang, bahkan ratusan juta dalam bentuk
merosotnya nilai mata uang, pariwisata lumpuh dan ekonomi
anjlok sehingga banyak karyawan dirumahkan.
Itulah
pembunuh terbesar, yaitu persepsi liar.
Dibutuhkan
ketenangan dalam menghadapi masalah, supaya efeknya tidak
merambat kemana-mana.."
Seruput
kopinya..
Denny Siregar