Mengapa Pasien Covid-19 Bisa Sembuh Walaupun Belum Ada Obat?
Reporter:
Antara
Editor:
Mitra Tarigan
Jumat, 6 Maret 2020 08:00 WIB
Ilustrasi 2019 Novel Coronavirus (2019-nCoV). REUTERS/CDCIlustrasi 2019
Novel Coronavirus (2019-nCoV). REUTERS/CDC
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Dokter spesialis paru dari Ikatan Dokter Indonesia
menjelaskan banyak pasienCOVID-19
<https://gaya.tempo.co/read/1315900/tahu-bedanya-orang-dalam-pengawasan-dan-pemantauan-pada-covid-19>yang
sudah sembuh dari penyakit tersebut walau hingga saat ini belum
ditemukan vaksin dan obatnya. "Angka case fatality rate (CFR) antara 2-3
persen, 97 persen kemungkinan bisa sembuh," kata dokter spesialis paru
di Rumah Sakit Persahabatan Erlina Burhan yang tergabung sebagai Satgas
COVID-19 di kantor PB IDI Jakarta, Kamis 5 Maret 2020.
CFR atau persentase terjadinya kematian dari keseluruhan kasus akibat
virus COVID-19 menunjukkan angka yang rendah. Jika merujuk data terakhir
kasus COVID-19 secara total di seluruh dunia yaitu lebih dari 90 ribu
kasus, lebih dari 50 ribu di antaranya sudah berhasil sembuh kembali
atau lebih dari 50 persen dari total kasus.
Dia menerangkan gejala klinis orang yang terinfeksi COVID-19 umumnya
gejala ringan. Kasus kematian lebih banyak dialami oleh orang tua dan
juga orang yang telah memiliki penyakit kronis sebelumnya.
Selama virus COVID-19 hanya menginfeksi saluranpernapasan
<https://www.tempo.co/tag/pernapasan>atas, gejala yang ditimbulkan
biasanya seperti gejala influenza. Namun yang dikhawatirkan apabila
infeksi virus COVID-19 telah mencapai paru-paru yang bisa menyebabkan
pneumonia, membuat organ tersebut mengeras dan menyulitkan pasien untuk
bernapas.
Meski para ilmuwan belum berhasil menemukan vaksin dan obat-obatan
sebagai terapi untuk COVID-19, sudah lebih dari 50 persen kasus sembuh.
Erlina menjelaskan pada dasarnya sifat virus adalah/self limiting
disease/yaitu bisa sembuh dengan sendirinya. Artinya, penyakit tersebut
bisa disembuhkan hanya dengan daya tahan tubuh pasien yang meningkat.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Erlina menjelaskan bahwa para dokter merawat pasien COVID-19
dengan terapi simptomatik, atau mengobati gejala yang muncul dari
penyakit COVID-19. "Mengobati gejalanya, melakukan terapi untuk
memberikan dukungan terhadap kelainan yang ditimbulkan, karena belum ada
obat spesifik virus ini," kata dia.
Jika pasien mengalami sakit kepala maka akan diberikan obat parasetamol,
sementara jika pasien mengalami sesak napas akan diberikan respirator
oksigen untuk membantunya bernapas. Erlina menyebut lebih dari 80 persen
gejala COVID-19 adalah gejala yang ringan.
Sementara orang dinyatakan benar-benar sembuh dari penyakit COVID-19
apabila dalam dua kali pemeriksaan laboratorium pasien dinyatakan
negatif terjangkit virus yang bernama resmi SARS-CoV.