Komunitas Bantah Tudingan Politikus Anti-Tionghoa melalui Wabah
http://indonesian.cri.cn/20200308/6c2983b9-220b-d2c0-3d2f-1aea2dd4d32c.html
2020-03-08 15:25:20
Sekarang ini wabah Covid-19 sedang merebak di global, namun “virus
informasi” dan “virus politik” pun ikut muncul. Sejumlah kekuatan
anti-Tionghoa barat menghasut “ Tiongkok gagal mengendalikan wabah
sehingga menyebar ke negara lain”. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo
bahkan menuding data wabah yang diumumkan Tiongkok tidak lengkap,
sehingga mendatangkan kesulitan kepada penanganan wabah di AS.
Padahal, upaya pengendalian wabah di Tiongkok telah dinilai positif oleh
komunitas internasional. Tim pakar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
dalam laporan surveinya menunjukkan, Tiongkok telah mengambil
langkah-langkah pengendalian yang paling berani, paling luwes dan paling
proaktif sepanjang sejarah, perjuangan Tiongkok tersebut paling sedikit
mengurangi 100 ribu orang terjangkit Covid-19, di mana telah membangun
garis pertahanan pertama untuk mencegah penyebaran wabah ini ke dunia.
Menteri Kesehatan Mesir berpendapat, wabah global bakal menjadi lebih
berat apabila pemerintah Tiongkok tidak mengambil tindakan pencegahan
yang tegas.
Pada hari Jumat lalu, koran kedokteran internasional/TheLancet/dalam
editorialnya menunjukkan, telah terbukti bahwa dana kesehatan publik
yang dialokasikan Tiongkok telah menyelamatkan puluhan ribu jiwa orang;
meskipun negara-negara lain tidak memiliki kekuatan pemerintahan di
bidang politik dan ekonomi seperti Tiongkok, namun negarawan dan
politikus asing tetap bisa menarik pengalaman dari Tiongkok.
Memang penyebaran wabah di dunia dikarenakan sejumlah penyebab yang
rumit. Antara lain: Covid-19 adalah semacam virus tipe baru, pengetahuan
publik pada karakternya maupun jalur penularannya masih perlu
ditingkatkan; migrasi globalisasi kini pun meningkatkan risiko
penularan; sebagian negara tidak menaruh keprihatinan serius pada
Covid-19, selain itu medote, pengalaman maupun komoditi untuk menangani
wabah besar pun tidak cukup.
Kekuatan dan politikus barat anti-Tiongkok yang diwakili oleh Pompeo
terus-menerus menuding dan memperjelek Tiongkok, bermaksud mencari
alasan untuk kekuranga penanganan negara-negara barat di bidang
penanggulangan wabah.
Sebagai negara besar, selain terus mengendalikan wabah domestik, harus
pula memperdalam kerja sama internasional penanggulangan wabah. Kinerja
Tiongkok tersebut justru melaksanakan teori komunitas
senasib-sepenanggungan umat manusia.
Shh! Mereka Bilang Tiongkok Bermasalah Dalam Menanggulangi Wabah
http://indonesian.cri.cn/20200307/536dc9e5-ddf6-72ce-bc8b-69365603d5fe.html
2020-03-07 16:39:27
Penulis: Xiu Yawen
Artikel di Harian/the Wall Street Journal/WSJ yang berjudul “China's
Virus Censorship and Propaganda Draw Backlash” dan artikel di Harian/The
New York Times/yang berjudul “Coronavirus Weakens China's Powerful
Propaganda Machine” dengan pasti memberitahukan Anda bahwa aksi
penanggulangan wabah Tiongkok sedang gagal, dan sebabnya adalah
pengelolaan pemerintah dan laporan media.
Akan tetapi, keadaannya malah terbalik.
Melihat datanya. Sejak pertengahan Februari, angka positif selalu naik
sedangkan data negatif terus menurun. Kecuali Provinsi Hubei dan Kota
Wuhan, jumlah kasus terdiagnosa baru dan jumlah kasus meninggal setiap
hari di provinsi dan kota lain di seluruh Tiongkok sangat rendah bahkan
nol. Masyarakat Tiongkok tidak mengalami pergolakan, dan kehidupan
rakyat pada pokoknya normal.
Melihat pengelolaan. Tempat tidur di rumah sakit melampaui jumlah
pasien, dan sebuah rumah sakit Fangchang yang tak dipakai dan terlantar
ditutup. Sejumlah provinsi dan kota telah menurunkan tingkat tanggapan
darurat dan produksinya dipulihan secara bertahap. Sejumlah pejabat yang
berpenampilan baik diangkat dan yang jelek dicopot.
Melihat media. Mereka berupaya memberikan semangat bagaikan atim
suporter menceritakan perbuatan heroik di rumah sakit dan komunitas,
sementara mengungkapkan pula berbagai masalah dan mengusut tanggung-jawab.
Di hadapan krisis itu, rakyat membutuhkan simpati psikologi dan
menambahkan kepercayaan, bukan saling mencela. Jika Anda sedang
dikarantina di rumah, apa yang dapat membikin Anda merasa tenang? Dr.
Bruce Aylward yang baru memimpin tim inspektor WHO ke Wuhan dalam
wawancaranya dengan Vox.com menceritakan dua kesannya ke Tiongkok kali ini.
Pertama adalah kecepatan. Ia mengatakan, yang paling penting dia belajar
dari Tiongkok adalah kecepatan, kecepatan memutuskan segala-galanya.
Lebih cepat mendiagnosa pasien, lebih cepat mengisolasinya, lebih cepat
melacak orang yang pernah berkontak erat dengan pasien, maka lebih
gampang untuk mencapai sukses.”
Kedua adalah aksi. Ia mengatakan jika sudah ditetapkan rancangan dan
dilakukan upaya semaksimalnya untuk melacak kasus dan orang yang pernah
berkontak erat dengan pasien, itu pasti dapat mengubah situasi umum,
memperlemah serangan virus, mencegah lebih banyak orang terjangkit,
supaya sejumlah besar pasien gawat dapat hidup.
Dua artikel di surat kabar AS itu tidak sama, sama sekali bukan
kesalahan bodoh saja, melainkan fitnahan terhadap Tiongkok, dengan
membesar-besarkan insiden negatif, memutar-balikkan pandangan
subjektifnya menjadi fakta obyektif.