Kenapa Sejumlah Negara Tak Dapat Seperti Tiongkok


 Ambil Langkah Tegas Untuk Tanggulangi Wabah

http://indonesian.cri.cn/20200307/84098e10-6f68-a1f7-1a1e-77f2ac88b14b.html
2020-03-07 13:49:59

图片默认标题_fororder_Bruce Aylward

Baru-baru ini, Asisten Senior Direktur Jenderal WHO Bruce Aylward dalam wawancaranya dengan/the New York Times/menceritakan keadaan inspeksinya wabah di Tiongkok selama 9 hari, dan ia memuji hasil tindakan ketat penanggulangan wabah yang diambil Tiongkok, antara lain, dikarantina di rumah, “mengisolasikan kota” dan menutup sekolah. Akan tetapi, wartawan surat kabar itu malah menyatakan prasangkanya pada penutupan wawancara itu. Ia mengatakan, “Semua itu di Amerika Serikat bukan mustahil?” “Tiongkok dapat berbuat begitu apakah justru karena ia adalah negara otokrasi?”.

opini wartawan/the New York Times/memanfaatkan prasangka ideologi untuk menfitnah hasil penanggulangan wabah di Tiongkok, dan ini justru prasangka dan ketidak-tahuan sejumlah orang AS terhadap sistem Tiongkok. Mereka tidak melihat bahwa dengan keunggulan sistem Tiongkok, kecepatan, skala dan efisiensi Tiongkok yang diperlihatkan dalam penanggulangan wabah itu berhasil melindungi rakyat Tiongkok dan juga merebut waktu untuk penanggulangan wabah global. Sebagai negara yang pertama menemukan wabah, Tiongkok selalu menomor-satukan keselamatan jiwa dan kesehatan rakyat Tiongkok. Tiongkok mengembangkan keunggulan sistem negara, 1,4 miliar warga Tiongkok bersatu-padu untuk menolong jiwa, berhasil mengontrol wabah dalam waktu hanya lebih dari 1 bulan, dan berhasil memberi kontribusi penting demi usaha kesehatan publik.

Semakin banyak orang mencatat, di AS efisiensi deteksinya rendah, biaya pengobatannya mahal, kedua partai terus berdebat mengenai dana pencegahan wabah, CDC AS tiba-tiba mengumumkan penghentian pengumuman jumlah deteksi dalam keadaan jumlah kasus terdiagnosa terus meningkat. Meskipun AS memiliki syarat medis nomor satu di dunia, akan tetapi jumlah kasus terdiagnosa dan tingkat kematiannya telah menghampiri 4 kali lipat daripada level rata-rata dunia. Semua masalah itu telah mengungkapkan kekurangan sistem AS dan egoisnya kapitalisme, juga telah membuktikan perkataan analis bahwa hakikat demokrasi AS adalah “1 persen berkuasa, 1 persen yang menikmati”.

Di dunia ini tak pernah hanya terdapat demokrasi dalam satu bentuk saja. Demokrasi sosialis yang berkarakteristik Tiongkok adalah demokrasi paling luas, paling benar dan paling berguna yang mengutamakan rakyat dan melindungi kepentingan dasar rakyat, maka dapat mengumpulkan kekuatan yang dapat memajukan pertumbuhan sosial dan menanggapi tantangan krisis. Kini, seluruh dunia sedang melihat: Kenapa Tiongkok dapat mengambil langkah tegas penanggulangan wabah, akan tetapi, kenapa sejumlah negara yang merasa amat baik tentang dirinya sendiri itu malah tidak dapat berbuat begitu? Dari dasarnya, itulah perbedaan antara pemerintahan yang baik dengan yang buruk, juga perbedaan antara negara besar yang bertanggung jawab dengan yang hanya memprioritaskan kepentingan dirinya sendiri.

Kirim email ke