-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/295724-dbd-di-sikka-tembus-1216-kasus



Selasa 10 Maret 2020, 22:03 WIB

DBD di Sikka Tembus 1.216 Kasus

Antara | Nusantara
 
DBD di Sikka Tembus 1.216 Kasus

ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Sejumlah pasien penderita demam berdarah dengue (DBD) dirawat di salah satu 
ruangan di RSUD TC Hillers Maumere, Kabupaten Sikka, NTT.
 

DINAS Kesehatan Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, melaporkan hingga Selasa 
malam pukul 19.00 Wita, jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di kabupaten 
itu sudah bertambah lagi menjadi 1.216 kasus.

"Sampai malam ini laporan terakhir dari seluruh puskesmas dan RS di Kabupaten 
Sikka, jumlah kasus DBD sudah bertambah, yakni mencapai 1.216 kasus," kata 
Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka Petrus Herlemus di Maumere, 
Selasa (10/3) malam.

Ia mengatakan hal itu berkaitan dengan perkembangan terakhir kasus DBD di 
kabupaten itu yang sudah memasuki kejadian luar biasa tahap empat.

Petrus menambahkan bahwa dengan jumlah yang ada maka, telah terjadi penambahan 
jumlah kasus sebesar 21 kasus dari hari sebelumnya yang jumlahnya hanya 
mencapai 1.195 kasus.

"Terjadi kenaikan sebesar 21 kasus DBD hingga malam ini, dan ini merupakan 
kasus DBD terbesar dan terparah dalam sejarah Kabupaten Sikka," tambah dia.

Sementara itu jumlah pasien DBD yang telah meninggal dunia sampai dengan saat 
ini bertambah menjadi 14 orang dan yang dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan 
di kabupaten itu sudah mencapai 114 orang.

Angka ini mengalami penurunan dari sebelumnya pasien yang dirawat berjumlah 130 
orang. Ratusan pasien yang dirawat itu tersebar di tiga RS yakni RSUD TC 
Hillers, RS Kewapante dan RS Lela.

Pemerintah Kabupaten Sikka hingga saat ini terus berusaha agar kasus DBD segera 
mengalami penurunan hingga angka nol.

Berbagai usaha yang dilakukan adalah dikeluarkannya instruksi dari Bupati Sikka 
akan dilakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) selama 14 hari ke depan yang 
sudah mulai berlaku sejak Senin (9/3) kemarin.

Tak hanya itu, pembagian autan dan pembagian bubuk abate juga terus dilakukan 
oleh pemda setempat. Namun, kata Kadis Kesehatan, masih dibutuhkan bantuan dari 
berbagai pihak untuk tambahan autan untuk dibagi-bagikan ke anak-anak di 
sekolah.

Hal ini karena dari 14 orang yang meninggal akibat DBD sebagian besar adalah 
anak-anak yang berusia 15 tahun ke bawah. (OL-12)








Kirim email ke