-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1950-penyakit-kronis-bangsa


Penyakit Kronis Bangsa

Penulis: Media Indonesia Pada: Selasa 10 Maret 2020, 05:05 WIB Editorial MI
 

PERHATIAN dunia tengah tertuju pada penyebaran virus korona jenis baru yang 
menyebabkan covid-19, penyakit yang sejauh ini belum ditemukan obatnya. Di saat 
laju timbulnya kasus baru menurun di Tiongkok, covid-19 mulai menyebar dengan 
cepat di negara-negara lain.

Indonesia pun tidak luput, meskipun sempat beberapa lama bertahan dengan nihil 
kasus positif virus korona tipe II tersebut. Boleh dibilang pasien kasus 1 dan 
kasus 2 yang dengan sukarela memeriksakan diri membuka jalan penemuan 
kasus-kasus berikutnya.

Dari sejak itu pula, penelusuran orang-orang yang diduga tertular covid-19 
berlangsung lebih intensif. Kasus-kasus baru ditemukan. Dalam waktu tiga hari 
sejak diumumkan kasus keempat, pada Jumat (6/3), angka infeksi virus korona 
kini melonjak menjadi 19 orang.

Perkembangan terbaru itu menuntut kewaspadaan lebih tinggi. Indonesia harus 
belajar dari negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Mereka 
sejauh ini mampu menihilkan angka kematian akibat covid-19 meskipun jumlah yang 
terinfeksi cenderung terus bertambah.

Di sisi lain, keraguan atas kemampuan pemerintah untuk menangani wabah covid-19 
masih kuat membayangi. Keraguan itu cukup valid, mengingat di saat yang 
bersamaan, penyakit yang menyerang tiap tahun, lagi-lagi menelan banyak korban 
jiwa.

Tahun ini hingga pekan pertama Maret, tidak kurang dari 95 penduduk tewas 
akibat demam berdarah dengue. Pada 2019, total kematian sepanjang tahun akibat 
DBD mencapai 917 orang.

Betul, bahwa secara persentase jika dibandingkan dengan jumlah kasus 
terinfeksi, angka kematian yang disebabkan demam berdarah rata-rata di bawah 
1%. Namun, secara nominal kematian ratusan hingga ribuan orang tiap tahun 
semestinya mendapat perhatian serius untuk mendapatkan penanganan efektif.

Keseriusan dapat dilihat dari indikator angka kematian. Jika masih ratusan yang 
meninggal dunia, tiap tahun, lalu di mana keseriusannya? Sejak 1968, penyakit 
demam berdarah tiada hentinya merongrong kesehatan masyarakat. Seakan tidak 
bisa dibendung.

Coba simak angka-angka berikut. Menurut data Kementerian Kesehatan, pada 2014, 
DBD menelan korban 907 jiwa, tahun berikutnya 1.071 jiwa, lalu pada 2016 
sebanyak 1.598 jiwa. Pada 2017, jumlah yang meninggal tercatat 493, dan pada 
2018 sebanyak 344 jiwa sebelum melonjak lagi pada 2019.

Tampaknya bergelut dengan wabah demam berdarah selama lima dekade tidak kunjung 
membuat Indonesia fasih menangani, apalagi mencegah.

Di balik itu, ada penyakit yang lebih gawat diderita bangsa ini dan juga 
pemerintah, yakni kebiasaan menganggap enteng.

Banyak contoh kasus yang menunjukkan betapa kronisnya penyakit anggap enteng. 
Misalnya, bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan, dan tentu saja tidak 
ketinggalan, rutinitas wabah penyakit.

Ya, bangsa ini memang sudah terlebih dulu menghadapi banyak persoalan yang 
pelik sebelum virus korona mewabah di dunia. Pemerintah bisa jadi semakin 
kewalahan menangani dengan tambahan kasus covid-19 yang kelihatannya baru mulai 
mewabah di Indonesia. Meski demikian, itu bukan alasan untuk cenderung pasrah 
padahal belum berbuat semaksimal mungkin.


Penyakit anggap enteng menghasilkan tata kelola yang buruk. Ujung-ujungnya 
persoalan tidak kunjung tuntas. Sungguh, bila ini terus berlangsung, barangkali 
rakyat hanya bisa sembunyi di lemari ketika penyakit yang jauh lebih ganas 
daripada covid-19 mewabah. Kemudian, berdoa agar wabah segera berlalu.
 






Kirim email ke