*https://rmco.id/baca-berita/nasional/30082/soal-omnibus-law-koalisi-gemuk-jalannya-lelet-jokowi-kecewa
<https://rmco.id/baca-berita/nasional/30082/soal-omnibus-law-koalisi-gemuk-jalannya-lelet-jokowi-kecewa>
*
*Koalisi Gemuk Jalannya Lelet, Jokowi Kecewa*

   -

   *NASIONAL* <https://rmco.id/kategori-berita/nasional>
   -

   *Jumat, 13 Maret 2020, 10:22 WIB*



*RMco.id <http://co.id>  Rakyat Merdeka - Koalisi gemuk yang
dimiliki Presiden Jokowi <https://rmco.id/tags/116/presiden-jokowi> di
parlemen ternyata jalannya lelet. Hal ini dibuktikan dengan lambannya
DPR menggolkan RUU Omnibus Law
<https://rmco.id/tags/28671/omnibus-law> yang sudah diserahkan pemerintah
ke DPR. Jokowi pun sepertinya mulai kecewa dengan kenyataan ini. Jum’at
(6/3), Jokowi sudah memanggil elite partai koalisi. Jokowi menanyakan
progres Omnibus Law kepada para pendukungnya itu.*

Adalah sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan Arsul Sani, yang
membocorkan isi pertemuan itu. dia bilang, Jokowi dengan petinggi partai
koalisi membahas Omnibus Law Cipta Kerja dan penyebaran virus corona.

Soal Omnibus Law, kata dia, Jokowi menanyakan sudah sejauh mana berproses
DPR. Sebab, RUU tersebut yang sudah diserahkan sejak 12 Februari lalu.
“Presiden ingin mendapatkan update tentang proses yang sudah berjalan di
DPR” kata Arsul di kompleks DPR Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan itu, Ketua Umum Partai Demokrasi indonesia Perjuangan
Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, Ketua Umum
Partai Golkar Airlangga Hartarto, dan ketua Umum PPP Suharso Monoarfa
dikabarkan hadir. Begitupula dengan ketua Umum Partai kebangkitan Bangsa
Muhaimin Iskandar dan ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

*Berita Terkait : **Koalisi Gesit*
<https://rmco.id/baca-berita/vox-populi/30063/koalisi-gesit>

Sejumlah Sekretaris Jenderal partai koalisi Jokowi-Ma’ruf juga ikut datang.
Wakil ketua DPR Azis Syamsudin dan sejumlah ketua Fraksi, seperti dari
NasDem Ahmad Ali dan PkB Cucun Syamsurizal turut serta. Sementara Ketua DPR
Puan Maharani absen. Kabarnya, ia tak hadir karena sedang berada di luar
Jakarta. Sehingga, Azis lah yang kemudian menjelaskan progres dari RUU
tersebut di DPR. “Pak Azis (Syamsudin) kemudian menyampai kan progres itu,”
lanjut Asrul.

Arsul mengatakan, Jokowi meminta agar Omnibus Law Cipta Kerja itu segera
bergulir di DPR. Sebab, dalam pelbagai kesempatan sebelumnya, Presiden
memang diketahui sempat me ma sang target waktu, agar aturan tersebut bisa
rampung dibahas dalam 100 hari.

“Tapi kan itu juga bukan harga mati. Yang penting ini dibahas, ruang
konsultasi publiknya silakan dibuka.” Dari apa yang disampaikan Jokowi
dalam pertemuan itu, Arsul juga menangkap pesan bahwa Presiden mengetahui
adanya penolakan dari berbagai elemen masyarakat terhadap Ombnibus Law
Cipta Kerja. “Kita juga memahami bahwa resistensi yang paling besar ada
pada cluster ketenagakerjaan,” tuturnya.

Kemudian, lanjut Arsul juga ada kritik pada hal-hal yang terkait dengan
perizinan. Khususnya cluster yang berdampak pada lingkungan. Dia menilai,
Jokowi mengikuti respons masyarakat terkait omnibus law itu. “Pak Jokowi
mengatakan; ya sudah, kita bahas bersama-sama,” ucap Arsul, menirukan
Jokowi.

*Berita Terkait : **PKB-Nasdem Tak Masalah, Partai Kabah Belum Ikhlas*
<https://rmco.id/baca-berita/parpol/29785/jika-pan-gabung-koalisi-pkbnasdem-tak-masalah-partai-kabah-belum-ikhlas>

Terpisah, Wakil ketua DPR Azis Syamsudin membenarkan, bahwa Jokowi dalam
pertemuan dengan elit partai koalisi itu, menanyakan progres Omnibus Law
Cipta Kerja. Dia bilang, sejauh ini draf dan surat presiden terkait Omnibus
Law masih di kesekretariatan Jenderal DPR.

 “Kesekjenan sudah sampai mana saya belum tahu, mesti dicek dulu,” ujar
politisi Golkar itu di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, kemarin.

Ia juga mengakui bahwa pimpinan DPR belum menggelar Rapat Badan Musyawarah
untuk membawa surpres dan draf itu ke rapat paripurna. Sementara Jokowi,
sebutnya memang sudah meminta agar Omnibus Law Cipta Kerja itu segera
dibahas di DPR.

Pengamat Politik dari Lembaga Analisis Politik indonesia (LAPI), Maksimus
Ramses Lalongkoe menilai keberadaan partai pendukung Jokowi yang mayoritas
di parlemen tidak efektif. Sebab, koalisi yang gemuk biasanya lelet dan
sulit dikontrol. “Saya lihat tidak efektif ya koalisi gemuk itu,” kata
Maksimus kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

*Berita Terkait : **Maruarar: Omnibus Law Harus Berkeadilan dan Pro Bisnis*
<https://rmco.id/baca-berita/nasional/29580/maruarar-omnibus-law-harus-berkeadilan-dan-pro-bisnis>

Dia juga menilai, partai pendukung Jokowi mau cari aman. Sebab, mereka
harus menghitung seberapa besar resistensi atau arus penolakan di
masyarakat. Karena itu, sampai sekarang terkesan seperti tarik-ulur.

“Meskipun mereka partai pendukung pemerintah. Kita menduga, partai ini juga
punya kepentingan konstituen juga. karena partai kan butuh konstituen,
butuh masyarakat,” lanjutnya.

Ia menduga, dipanggilnya para elit partai koalisi ke istana merupakan si
nyal kekecewaan Jokowi. Sebab, harusnya presiden tidak perlu lagi harus
capek-capek mengumpulkan para petinggi partai ini. Karena Jokowi sudah
memasang target waktu, agar Omnibus Law ini bisa selesai dalam waktu cepat.

“Artinya, bisa saja dia kecewa. Dia kemudian mengumpulkan para ketua partai
itu. Atau bisa juga dia ingin mengetahui sejauh mana kerja daripada
pimpinan-pimpinan partai politik itu terutama anggota DPR-nya,” pungkas
Maksimus. [*SAR*]

Kirim email ke