Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Menjaga kesehatan warga kunci stabilitas ekonomi
Oleh Zubi MahrofiMinggu, 15 Maret 2020 22:08 WIB
Menjaga kesehatan warga kunci stabilitas ekonomi
Menteri BUMN Erick Thohir (tengah) bersama Kepala BNPB Doni Monardo
(kedua dari kanan) saat meninjau langsung kesiagaan pencegahan wabah
virus Corona di Stasiun Kereta Gambir, Jakarta pada Kamis (12/3/2020).
ANTARA/Aji Cakti
ekonomi juga tidak akan stabil dan naik jika masyarakat, terutama para
pelaku ekonominya mengalami masalah kesehatan
Jakarta (ANTARA) - Secara tiba-tiba, beberapa aktivitas keramaian
terpaksa dibatalkan, termasuk konferensi pers yang biasanya dilakukan
sejumlah kementerian.
Sejumlah kementerian telah memutuskan untuk menangguhkan kegiatan tatap
muka demi mencegah penyebaran virus corona baru atau populer disebut
COVID-19.
Virus ukuran nanometer (nm) yang memiliki mahkota serupa paku itu telah
menjangkiti 121 negara dengan korban yang terpapar sebanyak 156.520
orang di dunia (data per 15 Maret 2020).
Di Indonesia, jumlah penderita penyakit saluran pernafasan yang
disebabkan COVID-19 meningkat menjadi 117 kasus pada Minggu (15/3).
Jumlah ini naik dibandingkan hari sebelumnya yang berjumlah 96 kasus.
Melihat keganasan virus itu, dunia seakan-akan berhenti berputar.
Sejumlah aktivitas ekonomi pun dapat berhenti. Dunia sedang berperang
melawan makhluk yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop jenis tertentu.
Saat ini, sudah ada beberapa negara yang melakukan/lockdown/(menutup
kota atau negara) yaitu Italia sejak 9 Maret 2020, Denmark sejak 13
Maret 2020, Filipina sejak 12 Maret 2020 hingga Irlandia pada 12-29
Maret 2020.
Artinya, perekonomian global, termasuk Indonesia akan bergerak menurun
karena kebijakan/lockdown/dan imbauan berkegiatan dari rumah (work from
home/WFH) tentu akan membuat aktivitas ekonomi menjadi tidak maksimal.
Presiden RI Joko Widodo pun meminta agar masyarakat Indonesia bekerja,
belajar dan beribadah di rumah karena masifnya penyebaran penyakit
saluran pernafasan yang disebabkan COVID-19.
Suka tidak suka memang harus dilakukan demi menjaga kesehatan, karena
ekonomi juga tidak akan stabil dan naik jika masyarakat, terutama para
pelaku ekonominya mengalami masalah kesehatan.
BUMN hadir
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi COVID-19, BUMN
menyatakan siap menjadi ujung tombak untuk bersinergi bersama-sama dalam
menjalankan fungsi sosialnya membantu masyarakat Indonesia.
Menteri BUMN Erick Tohir menyatakan bahwa Rumah Sakit Pertamina Jaya
(RSPJ) dan RS milik BUMN lainnya siap membantu pemerintah dalam
penanganan wabah virus corona atau COVID-19.
"Saya telah sampaikan ke Presiden bahwa RS BUMN siap untuk membantu
penanganan COVID-19," ujar Menteri Erick.
Ia mengemukakan total terdapat 65 RS BUMN, dengan ruang perawatan khusus
sebanyak 155 tempat tidur dan 66 ruang observasi atau/safe house/.
Dengan demikian, sebanyak 221 kapasitas yang dapat ditampung oleh RS BUMN.
Dalam rangka menjaga ketahanan dan aktivitas ekonomi nasional, Menteri
Erick juga memastikan bahwa BUMN tetap beroperasi secara normal dan
tidak ada instruksi untuk penutupan layanan di berbagai wilayah di
Indonesia.
"BUMN tetap beroperasi seperti biasa, terutama BUMN yang melayani
publik. Perbankan, telekomunikasi, bandara, pelabuhan, feri,
penerbangan, kereta api, bis, operator jalan tol, Rumah Sakit, farmasi.
Semuanya tetap melayani Indonesia," ujar Menteri Erick.
Namun, ia juga meminta kepada seluruh BUMN untuk membatasi
pertemuan-pertemuan yang bersifat melibatkan banyak orang, seperti salah
satunya rapat di luar daerah, dan sebagainya.
"Hanya saja dalam internal, kami menjaga semua bentuk rapat, jumlah
orang yang hadir dalam rapat, kemudian juga mobilitas dibatasi. Di
samping itu waktu rapat juga dibatasi. Jadi banyak hal yang dibatasi.
Tapi secara umum BUMN tetap beraktivitas seperti biasa," kata Erick Thohir.
Untuk mencegah penyebaran dan melawan virus corona, Menteri BUMN
mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bergotong-royong. Dua negara
yang bisa dijadikan contoh yaitu Vietnam dan Singapura.
Selama ini, memang pemerintah sudah memiliki program penanganan COVID-19
di Indonesia. Hanya saja pemerintah membutuhkan komitmen dari masyarakat
dalam perlawanan virus ini.
Erick Thohir juga menyarankan kepada masyarakat untuk lebih sadar akan
kebersihan. Salah satu hal kecil yang dicontohkan Erick adalah budaya
mencuci tangan. Hal ini karena perilaku dasar ini merupakan modal utama
dalam perlawanan terhadap virus corona.
"Kita lakukan hal terkecil yang memang harus kita lakukan, mulai dari
rutin mencuci tangan, menjaga kebersihan kantor dan rumah, tidak
menghadiri acara yang penuh orang seperti konser, pertandingan olahraga,
tempat wisata, resepsi pernikahan," kata Erick Thohir.
Terakhir, Erick Thohir menyarankan bagi yang berusia di atas 50 tahun
atau yang sedang sakit, lebih baik menjaga diri untuk tidak keluar rumah.
Tujuan akhir dari tindakan tersebut adalah untuk mengurangi intensitas
wabah, dan pada akhirnya dapat memberikan kesejahteraan sosial ekonomi.
Minta insentif
Peneliti senior Institute Developing Enterpreneurship Sutrisno Iwantono
meminta pengusaha tidak hanya memikirkan diri sendiri dengan meminta
insentif yang berlebihan dalam menghadapi dampak virus corona, namun
juga memikirkan aspek kemanusiaan dengan membantu pemerintah.
"Kepada pengusaha dan seluruh lapisan masyarakat marilah kita berkorban
untuk sementara, demi kepentingan yang lebih besar ke depan," kata Iwantono.
Iwantono mengakui bahwa kasus COVID-19 mempunyai dampak ekonomi.
Untuk itu pemerintah sudah menerbitkan langkah-langkah stimulus jilid 1
dan jilid 2, ada relaksasi moneter, dukungan fiskal, penundaan
pembayaran kredit bank, serta keringanan pajak PPh Pasal 21 dan Pasal
25, walaupun tidak semua sektor mendapatkannya.
Namun Iwantono mengatakan anggaran pemerintah sangat terbatas dan tentu
harus ada prioritas. "Biarlah pemerintah bisa prioritaskan aspek
kemanusiaan," katanya.
Sedianya, pemerintah menyiapkan anggaran senilai Rp1 triliun untuk
Kementerian Kesehatan dalam upaya penanganan penyebaran virus corona
jenis baru COVID-19.
"Dana ini kami ingin memberikan keyakinan bahwa langkah-langkah bisa
dilakukan tanpa terkendala anggaran," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati.
Menteri Keuangan merinci anggaran itu dialokasikan untuk logistik alat
pelindung diri, tes laboratorium, serta mobilisasi tenaga kesehatan di
rumah sakit, bandara, dan pelabuhan.
Selain itu juga untuk penanganan pasien di rumah sakit, penyelidikan
epidemiologi dan pengadaan sarana dan prasarana rumah sakit rujukan.
Menkeu juga mendukung kebutuhan anggaran untuk pengadaan disinfektan
berkoordinasi dengan pemda untuk sarana dan prasarana transportasi
publik yang sudah dilakukan salah satunya di kereta.
Selain itu, melakukan disinfektan untuk sarana prasarana ekonomi seperti
pasar, mal dan tempat rekreasi dan pembangunan jaringan telekomunikasi
untuk mendata WNI yang bepergian ke luar negeri.
Bersama dengan Kementerian Perdagangan dan Bea Cukai, Menkeu menambahkan
akan melakukan konsolidasi dalam produksi dan distribusi masker,
disinfektan, obat termasuk produksi dalam negeri, pengadaan bahan baku
impor hingga kemungkinan pembangunan rumah sakit tambahan untuk
perawatan pasien COVID-19.
Lalu, apa yang bisa dilakukan rakyat? Tetap tenang dan membangun
imunitas tubuh adalah kunci. Semoga wabah corona segera berlalu, dan
imunitas ekonomi kembali membaik sehingga meningkat seperti yang diharapkan.
*Baca juga:Besok, Pemerintah keluarkan stimulus kedua tangkal dampak
COVID-19
<https://www.antaranews.com/berita/1351750/besok-pemerintah-keluarkan-stimulus-kedua-tangkal-dampak-covid-19>
Baca juga:Sri Mulyani kerahkan stimulus fiskal untuk topang ekonomi RI
<https://www.antaranews.com/berita/1346766/sri-mulyani-kerahkan-stimulus-fiskal-untuk-topang-ekonomi-ri>
Baca juga:BI optimistis ekonomi RI 2020 tumbuh 5,2 persen meski ada
COVID-19
<https://www.antaranews.com/berita/1348930/bi-optimistis-ekonomi-ri-2020-tumbuh-52-persen-meski-ada-covid-19>*
Oleh Zubi Mahrofi
Editor: Faisal Yunianto