-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4947421/kekerasan-seksual-di-sekolah-bukan-iseng?tag_from=wp_cb_kolom_list


Kolom Kalis

Kekerasan Seksual di Sekolah Bukan Iseng

Kalis Mardiasih - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 17:56 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
kalis mardiasih
Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Setelah saya punya pemahaman yang cukup baik tentang pelecehan seksual dan 
kekerasan seksual, saya mulai bisa mengingat kejadian-kejadian yang saya lihat 
pada masa sekolah. Siswa laki-laki yang menjebret tali bra teman perempuan, 
hingga sekelompok siswa laki-laki yang memaksa meminta uang teman perempuan 
dengan langsung mengambil dari saku bajunya.

Dulu, saya diam saja. Barangkali saya pengecut, mungkin juga kebingungan mesti 
berbuat apa. Kini saya tahu, kebingungan itu disebabkan karena saya belum punya 
pengetahuan bahwa peristiwa yang saya saksikan tergolong pelecehan seksual. 
Otak saya tidak punya instrumen bahasa untuk menamai peristiwa itu sebagai 
pelecehan. Naluri remaja saya sadar jika hal itu buruk, tapi saya tak punya 
pengetahuan soal relasi kuasa antara pelaku-korban sehingga hanya bisa diam.

Sore hari, tanggal 13 Maret 2020, pembaca berita sebuah stasiun televisi 
menelepon secara live Kepala Dinas Pendidikan Kecamatan Bungo Jambi. Ia 
berusaha mengonfirmasi berita kekerasan seksual pemerkosaan yang menimpa siswi 
kelas 2 SD oleh 4 kakak kelasnya. Peristiwa tersebut terjadi dalam lingkungan 
sekolah saat jam sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan menjawab dengan gelagapan. Ia bilang, peristiwa 
kekerasan seksual itu sebagai kenakalan siswa biasa. Saat pembaca berita 
menanyakan kondisi siswi yang menjadi korban, dengan sangat enteng Bapak Kepala 
Dinas menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja, bahkan siswi sudah masuk 
sekolah seperti biasa.

Beberapa hari sebelumnya, di media sosial viral sebuah video pelecehan seksual 
kepada siswi SMA di Kabupaten Bolaang Mongondouw, Sulawesi Utara. Aksi 
pelecehan seksual tersebut dilakukan beramai-ramai oleh sekelompok siswa di 
dalam kelas dengan masih mengenakan seragam sekolah. Pihak sekolah, lagi-lagi 
mengatakan bahwa peristiwa itu kenakalan biasa.

Saya melihat video pelecehan seksual yang viral itu karena mention salah satu 
pengikut di Twitter. Saya berhenti menontonnya sebelum selesai karena tak kuat.

Siswi SD perempuan korban pemerkosaan mengaku alat kelaminnya sakit dan takut 
berangkat ke sekolah sehingga ia melapor kepada ibunya.

Korban video pelecehan seksual konon telah didampingi oleh lembaga perlindungan 
perempuan dan anak untuk pemulihan psikis pascatrauma.

Dan saya tak sanggup membayangkan, bagaimana kedua anak perempuan ini menjalani 
hari-hari ke depan. Mungkin mereka akan selalu ketakutan ketika ada laki-laki 
berjalan mendekat. Mungkin ada kelainan atau penyakit lanjutan pada alat 
kelaminnya. Rasa percaya diri mereka hilang seumur hidup dan seolah tak ada 
lagi cita-cita serta masa depan karena merasa dirinya tak lagi berharga. Fase 
yang paling berat adalah menyembuhkan trauma tiap kali video yang terlanjur 
viral itu muncul lagi ke hadapannya.

Di sekolah, sama dengan kampus atau lembaga terhormat lain, pada umumnya kasus 
pelecehan seksual kepada perempuan dianggap bukan persoalan serius. Saya 
melakukan jajak pendapat di Instagram. Para perempuan yang memiliki pengalaman 
pelecehan seksual pernah melapor kepada layanan bimbingan dan konseling di 
sekolah, lalu mendapat respons yang mengecewakan. Guru hanya menganggap 
pelecehan seksual sebagai sebuah keisengan. Siswa perempuan diminta menjaga 
rahasia. Dan pelakunya, siswa laki-laki tidak dihukum.

Jangan-jangan, karena memang perempuan tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.

Kesedihan korban dianggap bisa segera berlalu sebab anak perempuan kelak dapat 
segera dinikahkan dan masalah pun selesai dengan damai. Menikahkan anak 
perempuan sebagai solusi adalah satu tanda bahwa perempuan tidak memiliki 
agensi utuh terhadap dirinya sendiri. Perempuan dianggap tidak memiliki 
mimpinya sendiri. Perempuan dianggap tidak memiliki masa depan jika tanpa 
bantuan orang lain, dalam hal ini adalah pasangan hidup.

Lembaga sekolah, lembaga kampus dan lembaga terhormat lainnya berusaha sekuat 
tenaga menutupi kasus kekerasan seksual yang terjadi atas nama "nama baik".

Kepala sekolah hingga kepala dinas lebih memilih ketakutan jika kasus menjadi 
isu nasional. Padahal, publik akan bangga jika sebagai pimpinan, ia dapat 
berpihak kepada korban dan menyelesaikan kasus dengan rasa keadilan, apapun 
risikonya. Prestasi sebagai pemimpin dalam lembaga pendidikan telah diukur 
lewat sejumlah hal yang bersifat administratif. Pemimpin yang menyelesaikan 
kasus pelecehan seksual di sekolah atau kampus sepertinya tidak akan 
mempengaruhi kenaikan poin atau jabatan, sehingga perjuangan ini jadi tidak 
penting.

Jika pelakunya adalah seorang guru besar atau profesor, apalagi yang dalam 
keseharian memiliki citra religius, pelecehan seksual juga jadi berita yang tak 
masuk akal. Guru atau dosen perempuan kesulitan membangun solidaritas untuk 
melawan predator dalam lembaga pendidikan sebab ternyata level pendidikan yang 
tinggi tidak berkaitan dengan penyakit kronis bernama seksisme. Guru atau dosen 
perempuan yang melapor dianggap terlalu GR, baper, emosional, atau 
membesar-besarkan persoalan kecil.

Atau, bisa jadi, ada isu bias kelas juga dalam kasus pelecehan seksual di 
sekolah? Anak-anak pelaku barangkali adalah anak seorang pengusaha atau pejabat 
daerah. Sedangkan, perempuan korban hanyalah anak biasa-biasa saja yang 
keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendapat ancaman atau perintah 
untuk diam.

Terlalu banyak lapis yang mesti dibuka untuk mencari keadilan bagi korban. 
Tapi, segala sesuatunya hanya dianggap iseng.

Kalis Mardiasih penulis konten dan fasilitator Gusdurian National Networks of 
Indonesia Yogyakarta

(mmu/mmu)
kekerasan seksual
perempuan









Kirim email ke