TERROR DI MASA DEPAN.
Evolusi Kebudayaan Ilmu Pengetahuan manusia akan terus berlanjut; Menurut pengamatan saya,mesin-mesin Nanotecknology dan mesin-mesin Artifisial Intellegence, akan jauh lebih dahsyat daya ruskanya (disamping dayagunanya), dan sangat sulit untuk dikontrol dan dibatasi penyebarluasannya, jika dibandingkan dengan technologi nuklir. Dewasa ini kita semua telah menyaksikan adanya benturan-benturan kekuasaan yang dahsyat antara RRT dan USA, dalam rangka seleksi alamiah survival of the fittest, yang tercermin dalam perang dagang USA dan RRT, yang dampaknya menyrempet-nyrempet bahaya penumpasan manusia, seperti misalnya Pandemi Corona Virus ( COVID -19) yang virusnya sangat kecilsekali, berukuran nano (0,0000000001)m seper miliard meter ,yang secara umum telah menjadi Pandemi,yang menjadi mimpi-buruk umat manusia, yang dewasa ini, akan terus berlanjut,dan akan menculnya ``mahluk baru`` yang lebih dahsyat lagi bahayanya ketimbang COVID-19; jika budaya manusia dengan ilmu pengetahuan-nya yang bertambah itu (Ekonomi dan IPTEK) tidak berpihak pada Integral Ekologi,dan AMDAL, seperti yang sudah saya utarakan dalam postingan saya yang terdahulu. Hari ini kita telah menyaksikan kebangkitan technologi super canggih di negeri-negeri maju pembangkit energi di tingkat kuantum hinga kecerdasan buatan ( ilmu robot), sampai ke Manipulasi genitis secara sistematis, dan Nanotechnologi, yang semuanya dirilis pada skala global. Dalam konteks Teror dimasa depan, Bill Joy salah seorang pendiri Sun Microsystem pada bulan April 2000 telah menulis suatu artikel di majalah Wire di AS, yang berjudul >> Why the Future Doesn´t Neet Us<< . Judul tuliasan ini menyebabkan terjadinya kegemparan, karena Joy mengharapkan kemajuan teknologi dalam genetika, robotika, dan nanoteknologi, dalam lima puluh tahun ke depan,akan membawa dampak negatif bagi makanan manusia; melalui genetika, dengan sengaja atau tidak sengaja menimbulkan Wabah putih (penyakit menular) : Dengan ilmu robot, kita akan dapat mengunduh kesadaran manusia ke dalam mesin, dan dengan demikian akan mengakhiri khidupan umat manusia, karena melalui technologi nano (nanoteknologi molekuler), yang menggunakan partikel ``lendir abu-abu``** ; nanoteknologi molekuler yang bocor sehingga berada di luar kendali dan bisa memperbanyak diri, bak virus corona, yang dampaknya ; akan mengakhiri kehidupan manusia , karena partikel yang berukuran nano meter yaitu ``Lendir abu-abu``tersebut dapat membahayakan kesehatan, lingkungan,dan menghancurkan Biosfer dalam hitungan hari menjadi abu, para ilmuwan memperkirakan adanya kemungkinan bahwa umat manusia tidak akan bertahan hidup lagi, scenario Kiamat akan terjadi, jika penggunaannya nanotechnologi tidak diawasi secara ketat. Inilah ancaman kehidupan kemanusian dimasa depan , saya prediksi sebagai teror di masa depan. Baca juga : <https://id.wikipedia.org/wiki/Lendir_kelabu> https://id.wikipedia.org/wiki/Lendir_kelabu Kutipan:**Lendir kelabu ( <https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris> bahasa Inggris: Grey goo) adalah suatu perkiraan skenario <https://id.wikipedia.org/wiki/Kiamat> kiamat. Menurut skenario ini, nanoteknologi molekuler berada di luar kendali dan memperbanyak diri, lalu mengonsumsi semua materi yang ada di <https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi> Bumi, dan pada saat yang bersamaan jumlah mereka terus bertambah. Skenario ini dikenal sebagai <https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ekofagi&action=edit&redlink=1> ekofagi ("memakan lingkungan").Istilah lendir kelabu biasanya digunakan dalam konteks karya <https://id.wikipedia.org/wiki/Fiksi_ilmiah> fiksi ilmiah, misalnya film <https://id.wikipedia.org/wiki/The_Day_the_Earth_Stood_Still_(film_2008)> The Day the Earth Stood Still. Dalam skenario terburuk, materi di Bumi juga akan berubah menjadi goo (goo berarti nanomesin). Bencana ini sering dianggap sebagai salah satu penyebab kiamat.(kutipan selesai). Ini jelas technologi dalam genetika, robotika, dan nanotechnologi merupakan subjek yang rumit; ada dua pertimbangan yang haruas pahami. Pada dasarnya hanya ada dua cara untuk ``menguasai ``teknologi ini, yaitu Pertama : Ppersyaratan hukum eksternal (misalnya, larangan cabang penelitian tertentu) atau Kedua yaitu pembatasan diri internal moral (seperti peningkatan internal dalam kebijaksanaan kolektif yang mencari dan menegakkan penggunaan teknologi secara bijaksana) Bisa percaya bahwa kombinasi dari kedua bentuk akan diperlukan, karena secara logis kita tidak dapat mulai membahas pertumbuhan batin kebijaksanaan dan kesadaran jika kita terus mengabaikan segala sesuatu yang bersifat internal manusianya. Jadi persoalannya adalah: 1. Betulkah manusia dengan ilmu pengetahuan-nya yang bertumbuh itu, mengalami kemajuan untuk turut dan mampu berpatipisasi mengendalikan evolusi kebududayaan sendiri, di era dimana Ideologi Neoliberallisme telah mencengkeram bodaya manusia di dunia ini. 2. Apakah kita dapat menarik pelajaran dari evolusi Biologi, menjalankan Integral Ekologi untuk meningkatkan kemampuan partisipasi manusia dalam pengendalian evolusi kebudayaannya sendiri, dimana (Ekonomi, IPTEK, dll); tidak berpihak pada Paradigma Ekologi-dalam. Roeslan.
