Inilah satu akibat dari proses memfokuskan TUGAS mengatasi wabah
Covid-19 lebih dahulu dengan menanggung segala resiko kerugian EKONOMI
yang terjadi di Tiongkok! Mendahulukan keselamatan dan jiwa RAKYAT!
Sebagai Wujud nyata pengabdian pemerintah pada RAKYAT, ...
Disatu pihak menunjukkan KEBERHASILAN Tiongkok mengatasi COVID-19 dengan
kebijakan TEGAS "MENUTUP Kota Wuhan", dengan adanya disiplin tinggi
keharusan jutaan warga berdiam dirumah selama 2 bulan lebih inilah,
berhasil mencekik mati Covid-19, ... bagaimanapun juga HARUS DIAKUI,
DIPUJI dan DIHARGAI! Bukan sebaliknya diejek, dihina, dicaci maki, ....
sebagai tindakan yang TIDAK MANUSIAWI, melanggar HAM, menginjak-injak
kebebasan manusia! Lihat dan bandingkan saja apa yang terjadi di Eropah
dan Amerika sekarang ini yang akhirnya tidak bisa tidak juga HARUS
melaksanakan apa yang semula mereka ejek, maki kebijakan Tiongkok yang
tidak manusiawi itu! Sekalipun tidak setegas dan radikal yang dijalankan
Tiongkok, karena memang TIDAK mungkin mereka lakukan! Yang tak dapat
dihindari akan menarik waktu lebih lama dalam usaha menghentikan
penyebaran virus dan mencekik mati Covid-19!
Dipihak lain, saat memasuki tahap berikut memulai BEKERJA dan
BERPRODUKSI kembali, disana-sini juga terjadi DAMPAK ekonomi yang harus
diatasi, seperti yang diberitakan dibawah ini! Protes pekerja/buruh
dibeberapa kota di Tiongkok. Tidak perlu dibesar-besarkan apalagi dengan
tujuan untuk menghitamkan Tiongkok, karena itulah satu proses
perkembangan masyarakat yang wajar-wajar saja terjadi. Masalahnya
bagaimana dan bisa tidak Tiongkok mengatasinya?
Disinilah perbedaan mencolok antara "Jalan Sosialisme Berkarakter
Tiongkok" dengan jalan kapitalisme dinegara-negara kapitalis, ... cukup
saya ambil satu contoh yang sudah diangkat berita dibawah, adanya
"Ribuan Sopir Taxi" dikota Liuzhou, Guangxi, melancarkan aksi mogok.
Ingat, perusahaan Taxi di Tiongkok umumnya dijalankan oleh kapitalis
perseorangan, jadi mereka berlakukan perjanjian KONTRAK-KERJA yang
terjadi. Dan yang terjadi sekarang ini, setelah mulai BEKERJA kembali,
Selama bulan Februari tidak bekerja, mereka sopir Taxi tentu tidak ada
keharusan bayar sewa. Dan, dengan sendirinya sopir taxi juga tidak ada
pemasukan! Tapi setelah bulan Maret mulai bekerja, secara berangsur tgl.
1-10 Maret, hanya bayar 40% sewa Taxi, tgl. 11-20 Maret bayar sewa Taxi
60%, 21-31 Maret 80% , baru setelah itu 1 April mulai bayar sewa Taxi penuh.
Rupanya, setelah berlangsung, ternyata karena aktivitas kehidupan
masyarakat BELUM normal, jalan masih sepi dan penumpang dengan demikian
sangat sedikit, .... sedang dispensasi yang diberikan majikan, tetap
merugikan sopir Taxi yang jalankan taxi nya! Kata mereka, penghasilan
kerja sehari untuk bayar pengeluaran bensin saja TIDAK CUKUP! Bagaimana
bisa masih disuruh bayar sewa Taxi sekalipun hanya 40% itu??? Begitulah
dari lebih 3000 taxi di kota Liuzhou, lebih 2000 sopir Taxi jalankan
aksi mogok, protes! Lalu, ... bagaimana penyelesaiannnya?
Sayang saya cari-cari diinternet, tidak menemukan bagaimana mereka jalan
kaluarnya! Tapi, menurut saya, hal demikian ini lumrah saja terjadi
didalam masyarakat, merupakan satu gerak dinamika masyarakat untuk
menemukan dan memecahkan setiap persoalan yang terjadi, dan dengan
demikian masyarakat itu bisa terus maju lebih baik! Karena itu terjadi
kontradiksi antara kapitalis dan pekerja/buruh, yaaa biarlah mereka
pecahkan sendiri dan menemukan jalan keluar yang bisa diterima kedua
belah pihak.TIDAK MESTI pemerintah daerah ikut campur, turun tangan!
Yang lebih PENTING, masyarakat SELAMAT dari wabah COVID-19, dan bisa
meneruskan HIDUP mereka lebih baik, jangan sampai jatuh jadi penganggur
dan asap dapur tidak bisa ngepul lagi, ... Pemerintah harus turun tangan
agar warga nya TIDAK jadi gelandangan dan menderita kelaparan saja!
Berbeda dengan dedengkot negara kapitalis AS, yang sejak awal sudah
mengejek dan menghina Tiongkok, tidak transparan, tidak terbuka, ...
melanggar HAM, kebebasan orang! Padahal, sejak tgl. 3 Januari pihak
Dept. Kesehatan Tiongkok sudah melaporkan pada WHO apa yang terjadi dan
ditemukan virus-aneh di Wuhan itu! Dan tgl. 20 juga sudah menyampaikan
sample virus Corona baru yang ada di Wuhan! Dan akhirnya CDC AS juga
terpaksa mengakui adanya DATA informasi lengkap yang diberikan Tiongkok!
Begitu juga secara terbuka mengumumkan berapa jumlah pasien positif,
juga yang meninggal, ... tak ada yang ditutupi!
Sebaliknya AS begitu kota Wuhan ditutup, tgl. 23 Januari, adalah negara
pertama yang bukan hanya menarik diplomat AS di Wuhan, juga menarik
lebih 500 warga AS di Wuhan, tapi juga segera MENUTUP WN Tiongkok masuk
Amerika! Berteriak memberi "BANTUAN" pad Tiongkok, bahkan Trump yang
berteriak akan sumbangkan 100 juta dollar saja, keesokan harinya harus
diralat oleh Pompeo itu maksudnya "bantuan" untuk sedunia! Tapi,
kenyataan hanya berteriak keras akan membantu, sampai akhir Maret
sedollarpun bantuan AS tidak kunjung tiba! Selama lebih 2 bulan itu
tidak digunakan AS mempersiapkan diri bagaimana kalau wabah virus Corona
itu merebak di negerinya sendiri, tapi kerjanya hanya nyinyir dan
seperti orang bersorak gembira melihat pesaing berat nya dalam bencana!
Lalu keluarkan pernyatan yang bukan-bukan dari "Wabah Virus Corona akan
menguntungkan Amerika, kesempatan bagi banyak perusahaan mengembalikan
operasinya di Amerika!", "Tionghoa si SAKIT Asia sesungguhnya!" sampai
pada menuduh Virus bocor dari lab.biologi Wuhan sendiri!, lalu keluar
sebutan Virus-Tiongkok! Tapi kenyataan sesungguhnya, dari hanya belasan
orang yang dinyatakan potif Covid-19 di 15 Januari, sekarang meledak
menjadi lebih 180 RIBU! Bagaimana bisa menuduh virus-Tiongkok, kalau
ternyata di Amerika sendiri sudah ada pasien positif virus Corona yang
terjadi dibulan September tahun 2019 yl! Bagaimana pula bisa menjelaskan
tiba-tiba saja pasien positif Covid-19 bisa mencapai 180 RIBU???
Bukankahn itu akibat selama ini Trump mengambil kebijakan MENUTUP
kenyataan yang terjadi, dimana sejak Agustus yl. sudah merebak wabah
flu, H1N1 yg sesungguhnya juga TIDAK bisa disankal ada diantara yang
terjangkit radang-paru Covid-19 itu! Lalu, setelah usaha menutup tidak
berhasil, Trump kewalahan sendiri, segala perlengkapan pengobatan, dari
masker, alat-test sampai alat pernapasan TIDAK CUKUP! TIDAK hendak minta
bantuan Tiongkok, Pajak-import untuk perlengkapan kedokteran dan
obat-obatan dibebaskan! Begitu RRT mendiamkan, Trump jadi mencak-mencak
marah, ... nuduh virus-Tiongkok! Hehehee, ...
Itulah akibat kebijakan Trump yang lebih utamakan usaha selamatkan
ekonomi, terutama usaha menangkan Pilpres 2020 yad. bukan utamakan
KESELAMATAN RAKYAT! Akibatnya merebak wabah Covid-19 yang tak
terbendung, bursa-saham anjlok lebih 18%, dan lebih parah lagi, angka
penganggur justru melonjak 3,28 juta orang! Dan diperkirakan sampai
pertahangan tahun ini pengangguran akan melonjak terus melebihi 14 juta!
Entah bagaimana dan harus menelan berapa banyak korban jiwa rakyat kecil
tak berdosa! Sekarang saja angka kematian sudah *3721 orang*, melampaui
jumlah korban yang mati di Tiongkok, *3309 orang*!
On 1/4/2020 下午5:52, Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]
wrote:
Collective protests begin to flare up again as China returns to work
17 March 2020
After a month in which there were virtually no worker protests in
China because much of the country was on lockdown, workers are
beginning to take collective action again. Many protests have been
related to the economic distress caused by the coronavirus (Covid-19)
epidemic.
China Labour Bulletin’s Strike Map <https://maps.clb.org.hk/> has
recorded 25 incidents since businesses outside the central province of
Hubei tentatively resumed production after the extended Lunar New Year
break in mid- and late-February.
This is still a very low number compared with previous years and most
protests were relatively small-scale, but given that Covid-19 is still
prevalent in many parts of the country, it is remarkable that there
are any collective protests and demonstrations at all.
Many of the protests were in service and transport industries that
were already experiencing economic difficulties prior to the covid-19
outbreak.
On 10 March, for example, more than a thousand taxi drivers in the
southwestern city of Liuzhou
<https://mp.weixin.qq.com/s/d2rD72E3i_3MfzA5Nx5xkA> staged a protest
demanding the suspension of cab rental fees and the right to sell
their vehicle back to the cab company with no penalty. Drivers said
that even though people were returning to work, the lack of passengers
made it impossible for them to earn a living.
There was a noticeable increase in the number of taxi driver protests
<https://clb.org.hk/content/latent-grievances-erupt-massive-taxi-driver-protests-across-china> prior
to the Covid-19 outbreak at the end of last year as pent-up
frustrations over local government regulations, cab company management
and especially competition from ride-app and unlicensed drivers
erupted in a series of large-scale and sometimes violent protests.
Most of the recent worker protests have been related to wage arrears
and layoffs. Several workers at a snack food company in Beijing, for
example, staged a protest on 10 March
<https://www.weibo.com/5820218114/IxZ6xfAgB?type=comment#_rnd1584422107970> after
the company refused to pay three months’ wages in arrears totalling
nearly 400,000 yuan even after an arbitration court ordered it to pay up.
The previous day, 9 March, there was a protest by medical staff at a
private hospital in Zibo, Shandong
<https://www.weibo.com/7219047645/IxNLP0yKk?type=comment#_rnd1584422119354>,
who were also owed three months’ pay and claimed moreover that the
hospital was using expired medical supplies.
In another Beijing protest, workers demonstrated against the mandatory
unpaid leave policy
<https://mp.weixin.qq.com/s/NDytsab0BGAEd-KtPBEEsg> implemented by
online service provider 58.com that would only give staff a subsidy
equal to 80 percent of the local monthly minimum wage, far from a
living wage.
There were also several protests in early March by small shop and
restaurant owners demanding rent cuts because of the drastic downturn
in business they had experienced since the onset of the epidemic. The
/Financial Times/ noted
<https://www.ft.com/content/eaa3d7c2-629c-11ea-b3f3-fe4680ea68b5> that
family-run shops, street stalls, hole-in-the-wall eateries and other
small businesses employ about 230 million people in China and are
particularly vulnerable to economic shocks because they have less
capital and are less able to borrow.
Construction workers, including some workers who were recruited to
build emergency hospitals
<https://clb.org.hk/content/construction-workers-under-pressure-more-cities-rush-build-hospitals> for
covid-19 patients in Wuhan, have also been forced to protest over
unpaid wages. Most recently workers at a construction site in Zhoukou
<https://www.weibo.com/u/7413170398?profile_ftype=1&is_all=1>, Henan,
were beaten after staging a wage arrears protest.
As normal production gradually resumes in China, workers who are
already struggling after months of economic disruption will be more
determined than ever to ensure their rights to remuneration, social
insurance and compensation are not violated.