-------- Forwarded Message --------
Subject: IMF: Ekonomi Dunia Terhenti, Lebih Parah dari Krisis 2008
Date: Sat, 4 Apr 2020 11:10:22 +0800
From: ChanCT <[email protected]>
To: GELORA_In <[email protected]>
IMF: Ekonomi Dunia Terhenti, Lebih Parah dari Krisis 2008
IMF: Ekonomi Dunia Terhenti, Lebih Parah dari Krisis 2008
Logo IMF. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBPSabtu, 4 April 2020 | 09:15 WIB
https://www.beritasatu.com/ekonomi/616619/imf-ekonomi-dunia-terhenti-lebih-parah-dari-krisis-2008
*Swiss, Beritasatu.com*- Pandemivirus/corona/
<https://www.beritasatu.com/tag/virus-corona>(covid-19) telah
menciptakan krisis ekonomi yang jauh lebih buruk dari krisis keuangan
global 2008. Demikian diungkapkan Direktur Pelaksana Dana Moneter
Internasional (IMF) di kantor pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
Jenewa, Swiss pada Jumat atau Sabtu WIB (4/4/2020).
"Tidak pernah ada dalam sejarah IMF, kita menyaksikan ekonomi dunia
terhenti," kata Kristalina Georgieva pada konferensi pers.
Georgieva mengatakan saat ini adalah masa suram bagi umat manusia, dan
menjadi ancaman besar di seluruh dunia. "Ini mengharuskan kita berdiri
tegak, bersatu dan melindungi pihak yang paling rentan," kata dia.
*Baca juga: *Bos Bank Dunia Prediksi Terjadi Resesi Global karena Corona
<https://www.beritasatu.com/ekonomi/616613/bos-bank-dunia-prediksi-terjadi-resesi-global-karena-corona>
Dia mengatakan IMF bekerja sama dengan Bank Dunia dan lembaga keuangan
internasional lainnya untuk mengurangi dampak ekonomi akibat
wabah/corona./ Wabah ini telah menginfeksi lebih 1 juta orang di hampir
seluruh negara di dunia, dan menewaskan lebih 55.000 orang.
Georgieva mengatakan IMF juga mendorong bank sentral di negara maju
untuk mendukung pasar negara berkembang. "Perhatian utama kami dalam
krisis ini adalah meningkatkan pembiayaan dengan cepat untuk semua
negara, terutama pasar negara berkembang yang dihadapkan dengan
kebutuhan dana yang sangat signifikan," kata Georgieva.
"IMF memiliki dana senilai US$ 1 triliun," katanya, seraya menambahkan
IMF bertekad menggunakan sebanyak yang diperlukan."
Hingga kini, lebih dari 90 negara telah meminta bantuan dari dana itu.
"Kami belum pernah melihat permintaan pembiayaan darurat yang semakin
meningkat," kata Georgieva.
Dia mendesak negara yang memanfaatkan pembiayaan itu untuk membiayai
dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya.
*Baca juga: *Investor Global Confident terhadap Ekonomi RI
<https://www.beritasatu.com/ekonomi/615881/investor-global-confident-terhadap-ekonomi-ri>
Georgieva mengatakan bahwa negara ekonomi berkembang paling terpukul
oleh wabah. Pasalnya, mereka tidak memiliki sumber daya untuk melindungi
dari resesi ekonomi. "Kita tahu bahwa di banyak negara, sistem kesehatan
lemah," katanya.
Hal ini diperburuk dengan sikap investor yang menarik uang mereka dari
negara-negara yang rentan saat wabah menyebar. "Hampir US$ 90 miliar
investasi telah terbang dari negara-negara berkembang selama wabah,"
katanya.
Georgieva mencatat bahwa krisis akibat/corona/ini jauh lebih buruk dari
krisis keuangan global 2008. Adapun beberapa negara sangat bergantung
pada ekspor komoditas. "Dengan harga jatuh, mereka terpukul lagi."
Pada akhir konferensi pers, "Pesan penutup saya adalah kita akan
melewati ini, tetapi seberapa cepat dan seberapa efektif sangat
tergantung pada tindakan yang kita ambil."
Pada kesempatan yang sama Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom
Ghebreyesus memperingatkan bahwa negara-negara yang mencabut karantina
semakin membuat ekonomi lebih berisiko dan berkepanjangan. "Kita semua
sadar akan konsekuensi sosial dan ekonomi dari pandemi ini," kata
Tedros. "Pada akhirnya cara terbaik bagi negara untuk mengakhiri
pembatasan dan mengurangi dampak ekonomi mereka adalah dengan menyerang
virus," katanya.
Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan
mengatakan para pemimpin dunia perlu membangun sistem kesehatan
masyarakatnya.
Sumber: CNBC