Serang atau menghindar dari Coronavirus? Op zo 5 apr. 2020 om 20:19 schreef 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] <[email protected]>:
> > > > > -- > j.gedearka <[email protected]> > > > https://www.antaranews.com/berita/1404810/serang-balik-covid-19-dengan-cepat > > Artikel > > Serang balik COVID-19 dengan cepat > > Oleh Virna P Setyorini Minggu, 5 April 2020 21:04 WIB > > Warga memutar kendaraannya saat akan melintas di depan spanduk imbauan > penutupan akses jalan guna mencegah penyebaran COVID-19 di kawasan Tanjung > Barat, Jakarta, Ahad (5/4/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww. > Jakarta (ANTARA) - Dunia sedang beradu cepat, kali ini bukan untuk saling > sikut antar negara dalam meraih medali terbanyak di ajang Olimpiade, tapi > memutus mata rantai penyebaran virus corona baru yang pada Sabtu (4/4), > telah menghilangkan 56.985 nyawa penduduk dunia. > > Jumlah kematian itu terjadi hanya dalam waktu 104 hari setelah Organisasi > Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengumumkan keberadaan > sumber penyakit yang penyebaran pertama kalinya terjadi di Kota Wuhan, > Provinsi Hubei, China. > > Jika dirata-rata 548 orang kehilangan nyawa dalam satu hari, atau 23 jiwa > penduduk dunia melayang hanya dalam waktu satu jam saja. > > Pada hari ke-104 setelah WHO mengumumkan penyebaran virus corona baru > penyebab penyakit COVID-19 tersebut. Bonaire, Sint Eustatius dan Saba yang > merupakan kepulauan dan teritori spesial dari Kerajaan Belanda yang > berlokasi di Laut Karibia menjadi wilayah baru yang terjangkit COVID-19. > > Dengan demikian penyebaran penyakit telah terjadi di 177 negara dan 31 > teritori di dunia. > > Sementara di Indonesia, sejak kasus positif COVID-19 pertama di Depok > diumumkan sebagai Kasus 1 dan Kasus 2 pada 2 Maret 2020, jumlah meninggal > dunia mencapai 191 jiwa dan 2.092 orang positif terjangkit. Jika > dirata-rata setiap hari ada 61 penambahan kasus baru dan lima meninggal > dunia pada 4 April. > > Kecepatan SARS-CoV-2 menginfeksi manusia itu diakui ilmuwan dunia > mengalahkan virus sebelumnya, Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan > Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). > > Ibarat kata, virus corona baru tersebut sedang menguji coba teknologi 5G > yang diprediksi memiliki kecepatan sekitar 800Gbps, atau seratus kali lebih > cepat dari kecepatan generasi sebelumnya, 4G. > > Pertanyaannya saat ini, bagaimana mengalahkan virus yang melesat cepat > tersebut? > > Baca juga: WHO anjurkan frasa "physical distancing" daripada "social > distancing" > > Baca juga: WHO sebut karantina wilayah tidak cukup untuk kalahkan virus > corona > > Serang balik virus > > Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyerukan negara-negara > di dunia untuk menyerang balik virus corona baru atau SARS-CoV-2 yang telah > membuat 1.051.635 orang di dunia terjangkit COVID-19 pada Sabtu (4/4). > > Tedros meyakini dengan menyerang virus dengan langkah-langkah agresif dan > komprehensif akan lebih cepat mengakhiri pembatasan sosial dan mengurangi > dampak ekonomi negara. > > “Temukan, tes, isolasi dan sembuhkan setiap kasus, lacak setiap kontak,” > ujar Tedros menjelaskan gerak cepat yang harus dilakukan setiap negara yang > menangani kasus per kasus COVID-19. > > Ia menegaskan jika negara-negara di dunia terburu-buru atau terlalu cepat > mencabut pembatasan sosial, virus dapat muncul kembali dan dampak ekonomi > bahkan bisa lebih parah dan berkepanjangan. > > Tedros meminta semua negara bisa memastikan pendanaan untuk memutus mata > rantai virus dipenuhi. Penemuan kasus baru, tes COVID-19, pelacakan kontak, > pengumpulan data, dan kampanye komunikasi dan informasi publik tidak boleh > terputus, karena semua itu inti dari cara menyerang balik sumber penyakit > tersebut. > > Ia juga meminta agar setiap negara bersama mitra memperkuat fondasi sistem > kesehatan. Artinya, semua petugas kesehatan harus dibayar gajinya, dan > pastikan pendanaan tersedia untuk membeli pasokan alat medis. > > Tedros menyerukan semua negara menghilangkan hambatan finansial demi > mengurus pandemi COVID-19. Jika ada yang menunda atau melepas tangan karena > persoalan finansial, mereka tidak hanya membahayakan diri sendiri tetapi > juga membuat pandemi menjadi lebih sulit untuk dikendalikan dan membuat > masyarakat menjadi semakin berisiko terkena. > > Ia menyebut beberapa negara menangguhkan biaya layanan kesehatan dan > menyediakan pengujian dan perawatan gratis untuk penanganan COVID-19, > terlepas dari persoalan asuransi seseorang, kewarganegaraan, atau status > tempat tinggal. > > “Kami mendorong langkah-langkah tersebut. Ini kondisi krisis yang belum > pernah terjadi sebelumnya, yang menuntut respons yang juga belum pernah > dilakukan sebelumnya,” ujar Tedros. > > Baca juga: Jangan lupakan fundamental penanganan melawan COVID-19 > > Baca juga: Purwarupa alat tes corona buatan Indonesia rampung > > Kecepatan daerah > > Guna menindaklanjuti penetapan kedaruratan kesehatan masyarakat menghadapi > COVID-19 dan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh > Presiden Joko Widodo pada 31 Maret 2020, maka pada Jumat (3/4), Menteri > Kesehatan Terawan Agus Putranto mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan > (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala > Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19. > > Namun, Permenkes yang menjadi petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan PSBB > sebagaimana Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang > Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan > COVID-19 tersebut disambut beragam oleh mereka di daerah. > > Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan segera melakukan percepatan > dalam penanganan COVID-19 di provinsinya setelah keluarnya PP tentang PSBB > dan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Kedaruratan Kesehatan Masyarakat > tersebut. > > "Apa yang sudah kami siapkan kemarin, sekarang sudah terpayungi. Tugas > kami selanjutnya adalah mengakselerasi ini agar bisa segera dieksekusi," > katanya. > > Ganjar menjelaskan bahwa akselerasi penanganan COVID-19 di Jawa Tengah > (Jateng) akan fokus pada sisi kesehatan, ekonomi, dan jaring pengamanan > sosial. > > "Saya harap kawan-kawan di Pemprov bisa cepat melakukan aksi. APBD-nya > dikoreksi, refocusing, relokasi, dan realokasi anggaran dipercepat untuk > mendukung tiga sektor utama itu," ujar dia. > > Dirinya merasa lega dengan telah ditetapkannya aturan dari pemerintah > pusat dalam penanganan COVID-19 karena hal itu dapat membantu pemerintah > daerah untuk segera melakukan tindakan di daerah masing-masing. > > Namun, mengenai pembatasan wilayah di Jateng, Ganjar menerangkan perlu > menghitung secara teliti berdasarkan fakta, serta data di lapangan agar > bisa menyejukkan masyarakat. Selain itu masyarakat perlu dilibatkan agar > mereka tidak panik. > > Menurut Ganjar, pembatasan wilayah dapat digunakan dengan basis yang > paling mudah, yakni daerah yang ada pasien positif, maka rumah sakit tempat > mereka dirawat serta tempat tinggal dapat dibatasi. > > Sementara, menurut ahli epidemiologi dari Universitas Andalas Defriman > Djafri Ph.D, syarat pengumpulan data termasuk peningkatan kejadian > transmisi lokal untuk mengajukan PSBB seperti yang tercantum dalam pasal 4 > Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 tersebut tentu bisa memberatkan daerah karena > punya keterbatasan ahli epidemiologi. > > "Pertanyaannya adalah siapa yang mampu memberikan penjelasan data > peningkatan jumlah kasus dan kejadian transmisi lokal ini?" kata dia. > > Salah satu akar masalah dari pasal 4 pada Peraturan Menteri Kesehatan > tersebut adalah belum tentu semua provinsi, kabupaten maupun kota di Tanah > Air memiliki ahli epidemiologi yang bisa menjelaskannya. > > Seharusnya itu semua disiapkan dinas kesehatan di daerah, kata dia. Namun, > mungkin karena adanya keterbatasan pemahaman serta kekurangan tenaga > epidemiologi untuk bisa memprediksi itu, maka menjadi suatu kendala bagi > daerah dalam mengajukan PSBB ke pemerintah pusat. > > "Saya menyarankan agar pemerintah daerah segera bekerja sama dengan > akademisi atau profesi epidemiologi yang bisa memberikan bukti atau data ke > kepala daerah," kata Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas > Andalas tersebut. > > Sudah lima hari semenjak Presiden Joko Widodo mengumumkan Penetapan > Kedaruratan Kesehatan Masyarakat COVID-19. Belum diketahui daerah mana > sudah mengajukan dan bagaimana PSBB akan dilaksanakan di daerah. > > Kemampuan dan kecepatan masing-masing daerah berbeda-beda dalam menyiapkan > permohonan penetapan PSBB ke Menteri Kesehatan menjadi kekhawatiran > tersendiri di daerah. Pada saat yang sama, virus corona baru tidak pandang > bulu, menyebar hingga ke pelosok dunia dengan cepat.* > > Baca juga: Pemerintah apresiasi keluarga Indonesia yang disiplin tinggal > di rumah > > Baca juga: Ketua Satgas COVID-19 Bali minta jangan kucilkan ABK kapal > pesiar > > Baca juga: Jubir: 164 sembuh dan 2.273 kasus positif COVID-19 di Indonesia > > Oleh Virna P Setyorini > Editor: Erafzon Saptiyulda AS > COPYRIGHT © ANTARA 2020 > > >
