Iyaaa, ... setiap kita melangkah maju selangkah, pasti muncul persoalan baru. Ayam perlu diberi kondisi hidup yang sehat agar tumbuh sehat, begitu dilepas dikebun ada persoalan banyak burung yang mengancam tertular flu-burung! Tentu sebaiknya bukan kembali mengurung ayam-ayam itu hanya hidup dalam kandang-kadang kecil yg sama sekali tidak bisa bergerak, tapi, ...harus menemukan cara yang baik mengusir burung-burung itu! Atau ayam dikeluarkan dikebun saat tidak musim burung datang.

Tapi, ... sementara orang memprediksi, kemungkinan ayam-ayam yang bergenerasi hidup dikandangin tidak bergerak begitu, bisa terjadi perubahan DNA juga! Ada fungsi-fungsi untuk perbaiki hidup ayam itu yang menghilang, ayam-ayam itu yang mestinya bisa menemukan makanan yang diperlukan tubuhnya, menjadi hilang setelah taunya setiap hari dikasih makan dan tidak ada pilihan lain! Begitu juga dengan anjing yang dipelihara dirumah dan hanya dikasih dog-food dan tidak bisa berkeliaran mencari makan sendiri begitu, penciuman anjing itu juga bisa menurun bahkan menghilang, tidak lagi bisa menemukan dedaunan atau jenis rumput yg diperlukan saat kondisi tubuhnya membutuhkan atau terasa kurang sehat, ...



On 6/4/2020 下午12:42, kh djie wrote:
Dulu di Indonesia, saya suka baca2 buku pertanian dan peternakan, meskipun bukan bidang saya. Juga bvuku farmacie adik saya. Saya abonemen majalah New Zealand
Farmer untuk peternakan dan penanaman rumput dan majallah Trubus.
Saya baca, kalau musim banyak burung, ayam perlu dikandangkan supaya tidak
terjangkit penyakit dengan jatuhnya kotoran burung. Bebek itu jauh lebih tahan penyakit
dari pada ayam.

Op ma 6 apr. 2020 om 04:38 schreef ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    Bagaimana virus Corona itu muncul, masih terus dalam penelitian
    para ahli, ... BELUM ADA KESEPAKATAN. Tapi, ada kesamaan pendapat
    bahwa virus-virus itu terjadi perubahan DNA sekian ribu tahun
    terjadi alamiah, dan dengan perkembangan teknologi manusia
    diLaboratorium juga bisa *dalam batas-batas tertentu* melakukan
    perubahan DNA virus itu sesuai kehendaknya. Hanya saja masih SULIT
    dibuktikan Covid-19 yg merebak pertama di Wuhan kali ini adalah
    bocoran (sengaja atau tidak) dari lab! Pada saatnya, setelah cukup
    data yang membuktikan PASTI akan jelas terbongkar! Kita tunggu
    saja, ... tapi tidak dengan teori-teori konspirasi yang
    terselubung tujuan politik tertentu.

    Juga bisa dikait-kaitkan dengan cara produksi kapitalis, yang
    segalanya menjurus ke industrialisasi dan, ... akibatnya terjadi
    virus Corona itu. Yang jadi masalah, bagaimana kita memandang dan
    bersikap terhadap cara produksi kapitalis itu? Disalahkan begitu
    saja dan harus dicampakkan atau memperbaiki dimana salahnya saja?

    Saya hanya melihatnya dari proses perkembangan masyarakat saja,
    dimana tidak mungkin kita melompoti sistem kapitalisme begitu
    saja, membuang segala yang berbau kapitalis. TIDAK BISA dan TIDAK
    MUNGKIN kita melompoti hukum perkembangan masyarakat kapitalisme
    dan langsung memasuki masyarakat sosialisme yang lepas dari
    pengaruh kapitalisme! Sebaliknya, kita harus pandai-pandai
    menggunakan keunggulan kapitalis dan membuat yang salah, yang
    jahat dan merugikan kepentingan rakyat banyak saja!

    Ambil saja contoh peternakan ayam yang dikerjakan secara
    industrialisasi itu, adalah perkembangan cara kapitalis yang wajar
    untuk meningkatkan produksi, agar mencukup keperluan ayam bagi
    rakyat banyak! Dengan adanya peningkatan produksi baru baru bisa
    meningkatkan kesejahteraan rakyat! Sekalipun dibalik itu,
    keuntungan lebih besar yang dikejar kapitalis! Diteliti saja
    dimana salahnya dan memperbaiki untuk lebih baik saja.

    Karena ayam dikandangin, kurang bergerak dan pengaliran udara
    kurang baik karena sesak bertumpuk, ... mengakibatkan kesehatan
    ayam menurun, mudah terserang penyakit flu-burung, lalu ayam jadi
    tumbuh menggemuk terlalu banyak lemak juga tidak sehat bagi
    manusia yang makan! Yaa, diperbaiki saja jangan kandang bertumpuk
    terlalu sempit, dan diberi ruang gerak agak luas agar ayam tetap
    bisa bergerak. Bahkan ada juga cara dalam saat tertentu ayam-ayam
    itu dilepas dalam kebun yang berpagar luas, jadi ayam2 itu bisa
    menemukan rumput-rumput dan serangga yang mereka butuhkan. Jadi
    mempertahankan ayam-kampung, Ayam jadi hidup lebih sehat dan tidak
    terlalu gemuk, ... itu yang terjadi di Tiongkok sekarang ini untuk
    majuuu terus lebih baik industrialisasi yang dijalankan. BUKAN
    dibasmi begitu saja karena cara produksi kapitalis!

    Jangan ekstrim dan jadi radikalis segala yang kapitalis harus
    dibasmi, Diperbaiki saja yang dianggap SALAH, ...



    On 6/4/2020 上午4:17, Tatiana Lukman [email protected]
    <mailto:[email protected]> [temu_eropa] wrote:
    
<https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2020/04/Ilustrasi-Corona-dan-Kapitalisme.jpg>Ilustrasi
    virus corona dan produksi kapitalisme/Foreign Policy

    *Koran Sulindo*– Korban pandemi virus corona terus berjatuhan.
    Pada 3 April 2020, angka kematian di Spanyol mencapai 10.348
    orang, di Italia 13.915 orang dan di Belanda juga meningkat
    menjadi 1.339 orang. Di Spanyol, pada 2 April, dalam 24 jam,
    sekitar 950 orang meninggal dan Jumat (3/4) orang meninggal
    karena virus corona mencapai 932 orang hingga jam 11:30 waktu
    Eropa, .

    Sementara itu, di Tiongkok, gelombang serangan virus kedua telah
    membuat pemerintah meminta penduduk Wuhan untuk kembali tinggal
    di rumah dan meningkatkan langkah-langkah untuk melindungi diri
    dari Covid-19.

    Orang bertanya-tanya bagaimana dan siapa yang bertanggung jawab
    akan munculnya virus corona yang ganas ini? Amerika Serikat dan
    Tiongkok saling tuduh dan saling bantah. Beberapa sumber
    seperti/Kit Radio Internacional/dari Spanyol mengaku telah
    membuat penelitian dan menemukan bukti bahwa virus corona
    diciptakan di laboratorium Komando Medis Angkatan Darat di Fort
    Detrick, Maryland, Amerika Serikat.

    Di situ dikembangkan senjata biologis. Pada Oktober 2019, AS
    mengirim 300 personel mengikuti Pekan Olahraga Militer Sedunia
    yang diselenggarakan di Wuhan,Tiongkok. Kesempatan itulah yang
    digunakan untuk memasukkan virus melalui injeksi kepada salah
    seorang delegasi militer dengan alasan kontrol medis. Tujuannya
    untuk menahan laju ekonomi Tiongkok yang sedang menantang
    hegemoni AS.

    Sumber lain menyebutkan virus terlepas secara tak sengaja dari
    Institut Virologi Wuhan. Ada lagi yang menghubungkan virus itu
    dengan kecenderungan orang Tiongkok mengkonsumsi makanan “kotor”
    dan “eksotis”, seperti kelelawar atau ular.

    Studi atas urutan genetik yang dilakukan oleh ahli penyakit
    menular, Kristian G. Andersen dan koleganya dari Institut
    Penelitian Scripps di La Jolla, California, menyimpulkan, virus
    corona tidak mungkin dilahirkan di laboratorium. Dengan demikian
    teori konspirasi dianggap omong kosong.

    Sebuah grup komunis di Tiongkok yang menamakan dirinya “Chuang”
    (salah satu artinya “membebaskan diri”) mengungkapkan bahwa
    munculnya wabah tak bisa dipisahkan dengan industrialisasi
    kapitalis. Pandemi yang terjadi di Inggris, pertama dari 1709
    hingga 1720, lalu dari 1742 hingga 1760, dan dari 1768 hingga
    1786, berhubungan erat dengan perkembangan kapitalisme di mana
    terjadi penggusuran massal tani dan diterapkannya monokultur
    ternak. Wabah disebabkan oleh ternak impor dari Eropa yang sudah
    kena infeksi pandemi pra-kapitalis dan di Inggris, konsentrasi
    ternak membuat virus lebih ganas lagi. Ketika itu wabah terpusat
    pada perusahaan-perusahaan susu besar di London yang telah
    menyediakan lingkungan ideal bagi intenfisikasi virus.

    Wabah ternak mencapai Afrika tahun 1890-an, dibawa oleh kampanye
    militer Italia yang bermaksud mengejar ketinggalannya dalam
    memperoleh koloni di benua tersebut. Sebagian besar kampanye
    militer gagal, tapi penyakit menyebar melalui populasi ternak
    lokal dan sampailah ke Afrika Selatan. Dengan membantai 80%
    hingga 90% ternak, wabah telah mengakibatkan kelaparan yang belum
    pernah terjadi sebelumnya.

    Di samping itu, “Chuang” menunjuk kepada kondisi kerja dan
    kehidupan buruk kaum pekerja yang telah mendorong tersebarnya
    secara luas wabah-wabah kapitalisme. Misalnya, jumlah kematian
    sangat tinggi oleh wabah flu Spanyol pada 1918, disebabkan tidak
    saja oleh keganasan virus influenza H1N1, tapi juga karena
    makanan tak bergizi, kepadatan tinggi urbanisasi, kondisi hidup
    tak sehat dari kelas pekerja di negeri-negeri yang terjangkiti.

    Covid-19, menurut Chuang, sulit untuk dimengerti tanpa
    menghubungkannya dengan perkembangan kapitalis Tiongkok selama
    beberapa dekade terakhir, yang telah menyebabkan degradasi dalam
    layanan kesehatan. Kemerosotan ini tersembunyi di belakang
    gemerlapan gedung-gedung pencakar langit, megainfrastuktur dan
    pabrik-pabrik besar.

    Di zaman sosialisme, layanan kesehatan dan pendidikan gratis.
    Kaum revisionis menamakan sosialisme itu “meratakan kemiskinan”.
    Anehnya, “kemiskinan yang merata” itu telah meningkatkan harapan
    hidup rakyatnya, dari 45 tahun menjadi 68 tahun dalam jangka
    waktu kurang dari 30 tahun. Data PBB menunjukkan persentase
    peningkatan tertinggi harapan hidup justru terjadi pada tahun
    60-an. Seiring dengan semakin berdominasinya cara produksi
    kapitalis, persentasenya terus menurun. Tahun 2020, harapan hidup
    di Tiongkok, 76.96 tahun, sama dengan Aljazair, 76.95 dan lebih
    rendah dari Kuba, 78.89 tahun.

    David Leonhardt mengungkapkan, dari 1990 hingga 2008, harapan
    hidup di Tiongkok naik 5.1 tahun, hampir sama dengan Brazil,
    Mesir, Ethiopia, India dan Indonesia. Padahal pertumbuhan ekonomi
    dan pembangunan megainfrastruktur Tiongkok telah membuat orang
    ternganga dengan kagum dan selalu dibanggakan oleh kaum
    revisionis. Namun kenyataan membuktikan pertumbuhan ekonomi sama
    sekali tidak menjamin dan memberi kehidupan dan kesehatan yang
    lebih baik kepada semua orang.

    Dewasa ini, menurut WHO, pengeluaran publik untuk kesehatan di
    Tiongkok, US$ 323 per kapita, sekitar setengah dari yang
    dikeluarkan Brazil, Belarus dan Bulgaria. Yang paling menderita
    adalah ratusan juta buruh migran yang kehilangan seluruh layanan
    kesehatan pokok, begitu mereka meninggalkan desanya.

    Kualitas produk untuk pasar dalam negeri sering sekali sangat
    buruk dan membahayakan kesehatan. Jangan dibandingkan dengan
    produk industri untuk ekspor! Orang tak lupa akan skandal susu
    pada 2008, yang telah mematikan puluhan ribu anak-anak; tahun
    2011, terbongkar kasus “minyak selokan”(/gutter oil/) yang
    digunakan di restoran-restoran, kasus vaksin yang membunuh
    beberapa anak, kasus pengusaha yang menjual babi yang mati karena
    sebab-sebab yang misterius, dan lain sebagainya.

    *Industri Pertanian*
    Rob Wallace, ahli biologi evolusi Amerika telah meneliti pandemi
    selama 25 tahun dan menulis/Big Farms Make Big Flu/. Industri
    pertanian, khususnya produksi ternak dan pengejaran laba
    korporasi multinasional berkaitan erat dengan peningkatan
    kemunculan virus.

    Rob Wallace, ahli biologi evolusi Amerika telah meneliti pandemi
    selama 25 tahun dan menulis Big Farms Make Big Flu

    Modal negara-negara imperialis masuk ke negeri-negeri Dunia
    Ketiga, merampas dan menyusutkan tanah pertanian dan menggunduli
    hutan-hutan tropikal. Akibatnya, deforestasi, yang melenyapkan
    keragaman fungsional dan kompleksitas melalui disatukannya
    bidang-bidang tanah luas sehingga patogen yang sebelumnya
    tertutup, menyebar ke ternak lokal dan komunitas manusia.

    Sebagian besar dari bumi kita dewasa ini, dari segi bio-massa dan
    penggunaan lahan, sudah merupakan pabrik pertanian industri
    besar. Agribisnis bertujuan memonopoli pasar pangan. Proyek
    neoliberal dirancang untuk membantu korporasi multinasional
    mencuri tanah dan sumber daya negeri-negeri Dunia Ketiga.
    Akibatnya, banyak dari patogen baru ini, yang sebelumnya terikat
    dengan ekosistem hutan yang telah berkembang dalam jangka waktu
    sangat panjang, sekarang lepas dan menyebar ke seluruh dunia.
    Ebola, Zika, berbagai virus corona, flu burung, demam kuning yang
    muncul kembali, dan demam babi Afrika adalah patogen yang
    meninggalkan daerah terpencil di pedalaman dan menyebar ke
    pinggiran kota, kemudian ibu kota dan jaringan perjalanan global.

    Monokultur genetik ternak yang terus meluas menghilangkan segala
    hambatan imun yang mungkin tersedia untuk memperlambat atau
    menahan penularan. Kondisi hidup hewan yang berdesakan menekan
    respons kekebalannya. Kapasitas produksi tinggi dari hewan
    ternak, yang merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari
    produksi industri, memberi pasokan inang hewan baru terus menerus
    kepada virus itu. Dan itu meningkatkan keganasannya.

    Mulai 1990-an, terjadi industrialisasi dalam sistem produksi
    pangan Tiongkok. Menurut antropolog Lyle Fearnley dan Christos
    Lynteris, akibatnya adalah petani plasma dipangkas dan didorong
    keluar dari industri peternakan. Beberapa dari mereka beralih
    menjadi pemelihara spesies “liar”. Makanan liar ini lambat laun
    menjadi sektor produk makanan “eksotis” dan mewah. Tetapi petani
    skala kecil ini tidak hanya didorong keluar secara ekonomi.
    Karena industri pertanian mengambil semakin banyak lahan, petani
    skala kecil ini semakin terdesak secara geografis, lebih dekat ke
    zona tepi hutan. Hal ini meningkatkan interaksi dengan patogen
    baru, termasuk Covid-19.

    Dengan kata lain, populasi manusia yang meluas dan mendesak
    ekosistem yang sebelumnya tidak terganggu, telah menyebabkan
    peningkatan, dalam beberapa dekade terakhir, jumlah zoonosis,
    yaitu infeksi manusia yang berasal dari hewan. Namun di samping
    itu, terdapat satu sebab lagi, yaitu cara pangan diproduksi.
    Model agribisnis modern berkontribusi terhadap munculnya zoonosis.

    Ahli epidemiologi spasial Marius Gilbert dari “Université Libre
    de Bruxelles” Belgia, mengungkapkan hubungan antara munculnya
    virus flu burung yang sangat patogen dengan sistem produksi
    unggas yang intensif. Flu yang memiliki potensi pandemi tinggi
    itu telah menyebabkan 15 pandemi dalam 500 tahun terakhir.

    Virus dengan potensi pandemi tinggi ini tidak hanya terdapat di
    peternakan unggas. Marius Gilbert menyatakan, itu terjadi juga
    pada peternakan babi. Sindrom Reproduksi dan Pernapasan Babi,
    penyakit babi yang pertama kali berkembang di AS pada akhir
    1980-an, dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, ketika
    terdeteksi baru-baru ini di Tiongkok, virus itu telah lebih ganas
    daripada virus awal yang di Amerika.

    Sebuah studi tahun 2015, yang dilakukan oleh Martha Nelson dan
    rekan-rekannya dari Institut Kesehatan Nasional AS, memetakan
    urutan genetik virus flu babi dan menemukan bahwa Eropa dan AS
    adalah pengekspor babi global terbesar, juga pengekspor terbesar
    flu babi.

    Untuk mengurangi munculnya wabah virus baru, produksi pangan
    harus diubah secara radikal. Otonomi petani dan sektor publik
    yang kuat dapat mengurangi efek rantai transmisi dan infeksi yang
    tidak terkendali. Ini termasuk promosi keanekaragaman hayati
    ternak dan tanaman, dan reboisasi strategis, baik di setiap
    bidang pertanian maupun di seluruh wilayah. Hewan untuk konsumsi
    manusia harus direproduksi secara lokal supaya tersebar mekanisme
    kekebalan. Artinya produksi yang adil bergandengan tangan dengan
    sirkulasi barang yang adil. Pertanian organik harus dikembangkan
    dan disubsidi supaya harga jualnya terjangkau oleh konsumen.
    Proyek-proyek ini harus dilindungi dari peraturan dan pembatasan
    yang diberlakukan oleh politik dan ekonomi neoliberal.

    Agribisnis sebagai bentuk reproduksi sosial harus dihapuskan,
    kalau kita memang ingin melindungi kesehatan rakyat dan mencegah
    timbulnya virus yang lebih ganas lagi.

    Oleh karena itu, jalan keluar bagi negeri-negeri di mana
    mayoritas tani tidak memiliki tanah adalah reform agraria sejati
    guna membagi dan mengembalikan tanah kepada penggarapnya dan
    masyarakat adat.

    Terlepas dari setuju atau tidak dengan analisa dan pendapat yang
    telah diuraikan itu , yang jelas corona virus terus menyerang dan
    mematikan manusia lebih banyak lagi. Tindakan dan langkah-langkah
    fundamental dan strategis yang diperlukan untuk mencegah
    timbulnya virus tidak dapat diharapkan dari sebuah pemerintahan
    yang kepentingannya justru melindungi modal asing dan swasta
    dalam perampasan tanah, penggundulan hutan dan pengerukan sumber
    daya alam demi mengisi pundi-pundinya sendiri.

    Hanya rakyat dari seluruh sektor ekonomi yang sadar dan
    terorganisasi dapat melahirkan perubahan-perubahan mendasar yang
    menjamin partisipasi rakyat dalam menentukan nasib dan hari depan
    anak dan cucunya.*[Tatiana Lukman]*



    [Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke