Bagaimana virus Corona itu muncul, masih terus dalam penelitian para
ahli, ... BELUM ADA KESEPAKATAN. Tapi, ada kesamaan pendapat bahwa
virus-virus itu terjadi perubahan DNA sekian ribu tahun terjadi alamiah,
dan dengan perkembangan teknologi manusia diLaboratorium juga bisa
*dalam batas-batas tertentu* melakukan perubahan DNA virus itu sesuai
kehendaknya. Hanya saja masih SULIT dibuktikan Covid-19 yg merebak
pertama di Wuhan kali ini adalah bocoran (sengaja atau tidak) dari lab!
Pada saatnya, setelah cukup data yang membuktikan PASTI akan jelas
terbongkar! Kita tunggu saja, ... tapi tidak dengan teori-teori
konspirasi yang terselubung tujuan politik tertentu.
Juga bisa dikait-kaitkan dengan cara produksi kapitalis, yang segalanya
menjurus ke industrialisasi dan, ... akibatnya terjadi virus Corona itu.
Yang jadi masalah, bagaimana kita memandang dan bersikap terhadap cara
produksi kapitalis itu? Disalahkan begitu saja dan harus dicampakkan
atau memperbaiki dimana salahnya saja?
Saya hanya melihatnya dari proses perkembangan masyarakat saja, dimana
tidak mungkin kita melompoti sistem kapitalisme begitu saja, membuang
segala yang berbau kapitalis. TIDAK BISA dan TIDAK MUNGKIN kita
melompoti hukum perkembangan masyarakat kapitalisme dan langsung
memasuki masyarakat sosialisme yang lepas dari pengaruh kapitalisme!
Sebaliknya, kita harus pandai-pandai menggunakan keunggulan kapitalis
dan membuat yang salah, yang jahat dan merugikan kepentingan rakyat
banyak saja!
Ambil saja contoh peternakan ayam yang dikerjakan secara industrialisasi
itu, adalah perkembangan cara kapitalis yang wajar untuk meningkatkan
produksi, agar mencukup keperluan ayam bagi rakyat banyak! Dengan adanya
peningkatan produksi baru baru bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat!
Sekalipun dibalik itu, keuntungan lebih besar yang dikejar kapitalis!
Diteliti saja dimana salahnya dan memperbaiki untuk lebih baik saja.
Karena ayam dikandangin, kurang bergerak dan pengaliran udara kurang
baik karena sesak bertumpuk, ... mengakibatkan kesehatan ayam menurun,
mudah terserang penyakit flu-burung, lalu ayam jadi tumbuh menggemuk
terlalu banyak lemak juga tidak sehat bagi manusia yang makan! Yaa,
diperbaiki saja jangan kandang bertumpuk terlalu sempit, dan diberi
ruang gerak agak luas agar ayam tetap bisa bergerak. Bahkan ada juga
cara dalam saat tertentu ayam-ayam itu dilepas dalam kebun yang berpagar
luas, jadi ayam2 itu bisa menemukan rumput-rumput dan serangga yang
mereka butuhkan. Jadi mempertahankan ayam-kampung, Ayam jadi hidup lebih
sehat dan tidak terlalu gemuk, ... itu yang terjadi di Tiongkok sekarang
ini untuk majuuu terus lebih baik industrialisasi yang dijalankan. BUKAN
dibasmi begitu saja karena cara produksi kapitalis!
Jangan ekstrim dan jadi radikalis segala yang kapitalis harus dibasmi,
Diperbaiki saja yang dianggap SALAH, ...
On 6/4/2020 上午4:17, Tatiana Lukman [email protected] [temu_eropa]
wrote:
Corona Virus dan Cara Produksi Kapitalis
Industri pertanian, khususnya produksi ternak dan pengejaran laba
korporasi multinasional berkaitan erat dengan peningkatan kemunculan virus
4 April 2020
https://koransulindo.com/corona-virus-dan-cara-produksi-kapitalis/
*
*
*
*
<https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2020/04/Ilustrasi-Corona-dan-Kapitalisme.jpg>Ilustrasi
virus corona dan produksi kapitalisme/Foreign Policy
*Koran Sulindo*– Korban pandemi virus corona terus berjatuhan. Pada 3
April 2020, angka kematian di Spanyol mencapai 10.348 orang, di Italia
13.915 orang dan di Belanda juga meningkat menjadi 1.339 orang. Di
Spanyol, pada 2 April, dalam 24 jam, sekitar 950 orang meninggal dan
Jumat (3/4) orang meninggal karena virus corona mencapai 932 orang
hingga jam 11:30 waktu Eropa, .
Sementara itu, di Tiongkok, gelombang serangan virus kedua telah
membuat pemerintah meminta penduduk Wuhan untuk kembali tinggal di
rumah dan meningkatkan langkah-langkah untuk melindungi diri dari
Covid-19.
Orang bertanya-tanya bagaimana dan siapa yang bertanggung jawab akan
munculnya virus corona yang ganas ini? Amerika Serikat dan Tiongkok
saling tuduh dan saling bantah. Beberapa sumber seperti/Kit Radio
Internacional/dari Spanyol mengaku telah membuat penelitian dan
menemukan bukti bahwa virus corona diciptakan di laboratorium Komando
Medis Angkatan Darat di Fort Detrick, Maryland, Amerika Serikat.
Di situ dikembangkan senjata biologis. Pada Oktober 2019, AS mengirim
300 personel mengikuti Pekan Olahraga Militer Sedunia yang
diselenggarakan di Wuhan,Tiongkok. Kesempatan itulah yang digunakan
untuk memasukkan virus melalui injeksi kepada salah seorang delegasi
militer dengan alasan kontrol medis. Tujuannya untuk menahan laju
ekonomi Tiongkok yang sedang menantang hegemoni AS.
Sumber lain menyebutkan virus terlepas secara tak sengaja dari
Institut Virologi Wuhan. Ada lagi yang menghubungkan virus itu dengan
kecenderungan orang Tiongkok mengkonsumsi makanan “kotor” dan
“eksotis”, seperti kelelawar atau ular.
Studi atas urutan genetik yang dilakukan oleh ahli penyakit menular,
Kristian G. Andersen dan koleganya dari Institut Penelitian Scripps di
La Jolla, California, menyimpulkan, virus corona tidak mungkin
dilahirkan di laboratorium. Dengan demikian teori konspirasi dianggap
omong kosong.
Sebuah grup komunis di Tiongkok yang menamakan dirinya “Chuang” (salah
satu artinya “membebaskan diri”) mengungkapkan bahwa munculnya wabah
tak bisa dipisahkan dengan industrialisasi kapitalis. Pandemi yang
terjadi di Inggris, pertama dari 1709 hingga 1720, lalu dari 1742
hingga 1760, dan dari 1768 hingga 1786, berhubungan erat dengan
perkembangan kapitalisme di mana terjadi penggusuran massal tani dan
diterapkannya monokultur ternak. Wabah disebabkan oleh ternak impor
dari Eropa yang sudah kena infeksi pandemi pra-kapitalis dan di
Inggris, konsentrasi ternak membuat virus lebih ganas lagi. Ketika itu
wabah terpusat pada perusahaan-perusahaan susu besar di London yang
telah menyediakan lingkungan ideal bagi intenfisikasi virus.
Wabah ternak mencapai Afrika tahun 1890-an, dibawa oleh kampanye
militer Italia yang bermaksud mengejar ketinggalannya dalam memperoleh
koloni di benua tersebut. Sebagian besar kampanye militer gagal, tapi
penyakit menyebar melalui populasi ternak lokal dan sampailah ke
Afrika Selatan. Dengan membantai 80% hingga 90% ternak, wabah telah
mengakibatkan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di samping itu, “Chuang” menunjuk kepada kondisi kerja dan kehidupan
buruk kaum pekerja yang telah mendorong tersebarnya secara luas
wabah-wabah kapitalisme. Misalnya, jumlah kematian sangat tinggi oleh
wabah flu Spanyol pada 1918, disebabkan tidak saja oleh keganasan
virus influenza H1N1, tapi juga karena makanan tak bergizi, kepadatan
tinggi urbanisasi, kondisi hidup tak sehat dari kelas pekerja di
negeri-negeri yang terjangkiti.
Covid-19, menurut Chuang, sulit untuk dimengerti tanpa
menghubungkannya dengan perkembangan kapitalis Tiongkok selama
beberapa dekade terakhir, yang telah menyebabkan degradasi dalam
layanan kesehatan. Kemerosotan ini tersembunyi di belakang gemerlapan
gedung-gedung pencakar langit, megainfrastuktur dan pabrik-pabrik besar.
Di zaman sosialisme, layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Kaum
revisionis menamakan sosialisme itu “meratakan kemiskinan”. Anehnya,
“kemiskinan yang merata” itu telah meningkatkan harapan hidup
rakyatnya, dari 45 tahun menjadi 68 tahun dalam jangka waktu kurang
dari 30 tahun. Data PBB menunjukkan persentase peningkatan tertinggi
harapan hidup justru terjadi pada tahun 60-an. Seiring dengan semakin
berdominasinya cara produksi kapitalis, persentasenya terus menurun.
Tahun 2020, harapan hidup di Tiongkok, 76.96 tahun, sama dengan
Aljazair, 76.95 dan lebih rendah dari Kuba, 78.89 tahun.
David Leonhardt mengungkapkan, dari 1990 hingga 2008, harapan hidup di
Tiongkok naik 5.1 tahun, hampir sama dengan Brazil, Mesir, Ethiopia,
India dan Indonesia. Padahal pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
megainfrastruktur Tiongkok telah membuat orang ternganga dengan kagum
dan selalu dibanggakan oleh kaum revisionis. Namun kenyataan
membuktikan pertumbuhan ekonomi sama sekali tidak menjamin dan memberi
kehidupan dan kesehatan yang lebih baik kepada semua orang.
Dewasa ini, menurut WHO, pengeluaran publik untuk kesehatan di
Tiongkok, US$ 323 per kapita, sekitar setengah dari yang dikeluarkan
Brazil, Belarus dan Bulgaria. Yang paling menderita adalah ratusan
juta buruh migran yang kehilangan seluruh layanan kesehatan pokok,
begitu mereka meninggalkan desanya.
Kualitas produk untuk pasar dalam negeri sering sekali sangat buruk
dan membahayakan kesehatan. Jangan dibandingkan dengan produk industri
untuk ekspor! Orang tak lupa akan skandal susu pada 2008, yang telah
mematikan puluhan ribu anak-anak; tahun 2011, terbongkar kasus “minyak
selokan”(/gutter oil/) yang digunakan di restoran-restoran, kasus
vaksin yang membunuh beberapa anak, kasus pengusaha yang menjual babi
yang mati karena sebab-sebab yang misterius, dan lain sebagainya.
*Industri Pertanian*
Rob Wallace, ahli biologi evolusi Amerika telah meneliti pandemi
selama 25 tahun dan menulis/Big Farms Make Big Flu/. Industri
pertanian, khususnya produksi ternak dan pengejaran laba korporasi
multinasional berkaitan erat dengan peningkatan kemunculan virus.
Rob Wallace, ahli biologi evolusi Amerika telah meneliti pandemi
selama 25 tahun dan menulis Big Farms Make Big Flu
Modal negara-negara imperialis masuk ke negeri-negeri Dunia Ketiga,
merampas dan menyusutkan tanah pertanian dan menggunduli hutan-hutan
tropikal. Akibatnya, deforestasi, yang melenyapkan keragaman
fungsional dan kompleksitas melalui disatukannya bidang-bidang tanah
luas sehingga patogen yang sebelumnya tertutup, menyebar ke ternak
lokal dan komunitas manusia.
Sebagian besar dari bumi kita dewasa ini, dari segi bio-massa dan
penggunaan lahan, sudah merupakan pabrik pertanian industri besar.
Agribisnis bertujuan memonopoli pasar pangan. Proyek neoliberal
dirancang untuk membantu korporasi multinasional mencuri tanah dan
sumber daya negeri-negeri Dunia Ketiga. Akibatnya, banyak dari patogen
baru ini, yang sebelumnya terikat dengan ekosistem hutan yang telah
berkembang dalam jangka waktu sangat panjang, sekarang lepas dan
menyebar ke seluruh dunia. Ebola, Zika, berbagai virus corona, flu
burung, demam kuning yang muncul kembali, dan demam babi Afrika adalah
patogen yang meninggalkan daerah terpencil di pedalaman dan menyebar
ke pinggiran kota, kemudian ibu kota dan jaringan perjalanan global.
Monokultur genetik ternak yang terus meluas menghilangkan segala
hambatan imun yang mungkin tersedia untuk memperlambat atau menahan
penularan. Kondisi hidup hewan yang berdesakan menekan respons
kekebalannya. Kapasitas produksi tinggi dari hewan ternak, yang
merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari produksi industri,
memberi pasokan inang hewan baru terus menerus kepada virus itu. Dan
itu meningkatkan keganasannya.
Mulai 1990-an, terjadi industrialisasi dalam sistem produksi pangan
Tiongkok. Menurut antropolog Lyle Fearnley dan Christos Lynteris,
akibatnya adalah petani plasma dipangkas dan didorong keluar dari
industri peternakan. Beberapa dari mereka beralih menjadi pemelihara
spesies “liar”. Makanan liar ini lambat laun menjadi sektor produk
makanan “eksotis” dan mewah. Tetapi petani skala kecil ini tidak hanya
didorong keluar secara ekonomi. Karena industri pertanian mengambil
semakin banyak lahan, petani skala kecil ini semakin terdesak secara
geografis, lebih dekat ke zona tepi hutan. Hal ini meningkatkan
interaksi dengan patogen baru, termasuk Covid-19.
Dengan kata lain, populasi manusia yang meluas dan mendesak ekosistem
yang sebelumnya tidak terganggu, telah menyebabkan peningkatan, dalam
beberapa dekade terakhir, jumlah zoonosis, yaitu infeksi manusia yang
berasal dari hewan. Namun di samping itu, terdapat satu sebab lagi,
yaitu cara pangan diproduksi. Model agribisnis modern berkontribusi
terhadap munculnya zoonosis.
Ahli epidemiologi spasial Marius Gilbert dari “Université Libre de
Bruxelles” Belgia, mengungkapkan hubungan antara munculnya virus flu
burung yang sangat patogen dengan sistem produksi unggas yang
intensif. Flu yang memiliki potensi pandemi tinggi itu telah
menyebabkan 15 pandemi dalam 500 tahun terakhir.
Virus dengan potensi pandemi tinggi ini tidak hanya terdapat di
peternakan unggas. Marius Gilbert menyatakan, itu terjadi juga pada
peternakan babi. Sindrom Reproduksi dan Pernapasan Babi, penyakit babi
yang pertama kali berkembang di AS pada akhir 1980-an, dan kemudian
menyebar ke seluruh dunia, ketika terdeteksi baru-baru ini di
Tiongkok, virus itu telah lebih ganas daripada virus awal yang di Amerika.
Sebuah studi tahun 2015, yang dilakukan oleh Martha Nelson dan
rekan-rekannya dari Institut Kesehatan Nasional AS, memetakan urutan
genetik virus flu babi dan menemukan bahwa Eropa dan AS adalah
pengekspor babi global terbesar, juga pengekspor terbesar flu babi.
Untuk mengurangi munculnya wabah virus baru, produksi pangan harus
diubah secara radikal. Otonomi petani dan sektor publik yang kuat
dapat mengurangi efek rantai transmisi dan infeksi yang tidak
terkendali. Ini termasuk promosi keanekaragaman hayati ternak dan
tanaman, dan reboisasi strategis, baik di setiap bidang pertanian
maupun di seluruh wilayah. Hewan untuk konsumsi manusia harus
direproduksi secara lokal supaya tersebar mekanisme kekebalan. Artinya
produksi yang adil bergandengan tangan dengan sirkulasi barang yang
adil. Pertanian organik harus dikembangkan dan disubsidi supaya harga
jualnya terjangkau oleh konsumen. Proyek-proyek ini harus dilindungi
dari peraturan dan pembatasan yang diberlakukan oleh politik dan
ekonomi neoliberal.
Agribisnis sebagai bentuk reproduksi sosial harus dihapuskan, kalau
kita memang ingin melindungi kesehatan rakyat dan mencegah timbulnya
virus yang lebih ganas lagi.
Oleh karena itu, jalan keluar bagi negeri-negeri di mana mayoritas
tani tidak memiliki tanah adalah reform agraria sejati guna membagi
dan mengembalikan tanah kepada penggarapnya dan masyarakat adat.
Terlepas dari setuju atau tidak dengan analisa dan pendapat yang telah
diuraikan itu , yang jelas corona virus terus menyerang dan mematikan
manusia lebih banyak lagi. Tindakan dan langkah-langkah fundamental
dan strategis yang diperlukan untuk mencegah timbulnya virus tidak
dapat diharapkan dari sebuah pemerintahan yang kepentingannya justru
melindungi modal asing dan swasta dalam perampasan tanah, penggundulan
hutan dan pengerukan sumber daya alam demi mengisi pundi-pundinya sendiri.
Hanya rakyat dari seluruh sektor ekonomi yang sadar dan terorganisasi
dapat melahirkan perubahan-perubahan mendasar yang menjamin
partisipasi rakyat dalam menentukan nasib dan hari depan anak dan
cucunya.*[Tatiana Lukman]*
[Non-text portions of this message have been removed]