Waktu anak saya menikah, kami pesan makanannya dari restaurant punya orang
Zhejiang. Kami sudah kenal managernya. Dia bilang bisa lever masih panas ke
tempat pesta, tetapi tidak cukup, jadi harus sewa fornuis gas besar, dan
dia akan atur semuanya. Mau saya beri voorschot, dia bilang tidak perlu.
Seminggu setelah pesta saya telpon dia mau datang bayar. Dia bilang, nanti
dua minggu lagi saja, dia anggap saya masih repot.
Waktu saya mau temui dia di restaurant, managernya baru.
Dia bilang si S itu ada diseberang, di restaurant baru yang akan dibuka.
Nah, saya kesana. Dia bilang, sekarang dia bukan manager di restaurant
lama, meskipun sering datang lihat2 apa semua berjalan lancar. Dia bilang,
dia dapat tugas baru, bangun restaurant2, cari tukang2 untuk
kerja renovasi bagian dalam restaurant, cari koki dari Tiongkok dan
Hongkong, cari orang2 untuk pelayanan. Dia cerita kalau pemilik
restraurant itu intinya terdiri dari 3  orang, yang tiap kali bangun
restaurant ada orang2 baru yang ikut masuk. Dengan kerja terspesialisasi
ini mereka bisa cepat bangun restaurant2. Mereka punya kontak dengan biro
turisme untuk dapat turis2 Tiongkok.
Di Nederland akhir2 ini orang Jawa saya lihat mulai aktif bikin restaurant
makanan Jawa. Laris. Ada yang cukup mahal, ada yang masih murah. Di
Nederland, makan  di
resataurant Barat mahal sekali. Di restaurant Tionghoa, sekarang ya mahal,
meskipun jauh lebih murah dari pada restaurant Belanda. Restaurant Belanda
yang tidak mahal, selalu penuh.
Beberapa kali kami dengan teman2 makan nasi tampah. Satu tampah diisi
macam2, boleh pilih ada nasi, ikan bakar, satay, gado2, tahu goreng, tempe
goreng, lodeh, ambel goreng dll. Suatu hari saya tanya pemiliknya, kok
tidak jual nasi tambir (tampah besar) untuk orang ulang tahun dan selamatan.
Dia tertawa, bilang bisa sediakan. Saya bilang, apalagi kalau bisa diatur
ada modinnya........

Kirim email ke