*Bukan hal baru, sejak semula seperti zaman kolonial daerah selalu
kekurangan atau dikurangi. Bukan saja kekurang alat-alat kesehataan, tetapi
yang lain juga. Bukankah terkenal  istilah yang disebutkan
Jawasentris.Apakah kekurangan ini dapat diperbaiki adalah masalah yang
sangat diragukan.Jadi sekali kekurangan tetap kekurangan! 75 tahun
kekurangan maka satu abad pun sama halnya. hehehehehehhe *

https://www.antaranews.com/berita/1409678/mendagri-ungkap-kekurangan-alat-kesehatan-di-daerah



*Mendagri ungkap kekurangan alat kesehatan di daerah*

 *Rabu, 8 April 2020 00:39 WIB*

[image: Mendagri ungkap kekurangan alat kesehatan di daerah]Jakarta
(ANTARA) - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap
sejumlah kekurangan dan jenis kategori kebutuhan alat dan sarana kesehatan
untuk penanggulangan COVID-19 di seluruh kabupaten/kota Indonesia.

"Provinsi NTT, misalnya kekurangan 17 juta liter disinfektan berisi
*chlorine*, sementara Sumsel butuh 250 juta masker biasa dan DIY
membutuhkan 3,2 juta alat pelindung diri (APD)," kata  Mendagri melalui
keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (7/4).

Menurut Tito, sebenarnya banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),
seperti usaha konveksi rumahan, yang bisa dimobilisasi untuk memproduksi
dan memenuhi kebutuhan APD di Indonesia.

*Baca juga: **Mendagri keluarkan instruksi penanganan COVID-19 di
lingkungan pemda*
<https://www.antaranews.com/berita/1401386/mendagri-keluarkan-instruksi-penanganan-covid-19-di-lingkungan-pemda>

Untuk itu, tim Kementerian Dalam Negeri telah mendata perusahaan nasional
dalam negeri dan kapasitas produksi mereka di dalam memenuhi semua
kebutuhan tersebut.

Mendagri mengatakan bahwa jajarannya juga telah melakukan pendataan awal
secara *bottom-up* (dari bawah) mengenai kebutuhan dan ketersediaan
sembilan bahan pokok di seluruh daerah.

Semua itu disampaikan Mendagri saat menggelar video telekonferensi bersama
seluruh bupati, wali kota, dan sekretaris daerah se-Indonesia dengan
asosiasi dunia usaha, seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Kamar
Dagang dan Industri (Kadin), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Kegiatan itu juga dihadiri oleh Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian,
Menteri Sosial, Menteri BUMN, Menteri Perdagangan, Menteri Ketenagakerjaan
dan Transmigrasi, serta Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan
Perikanan.

Telekonferensi itu bertujuan untuk membangun diskusi tripartit antara
pusat, daerah, dan dunia usaha di dalam menyatukan langkah dan pergerakan
dalam menghadapi krisis COVID-19.

*Baca juga: **Kemendagri tegaskan perlindungan tenaga medis lawan COVID-19
di daerah*
<https://www.antaranews.com/berita/1392926/kemendagri-tegaskan-perlindungan-tenaga-medis-lawan-covid-19-di-daerah>

Diskusi difokuskan pada isu strategis menjamin ketersediaan sarana alat
kesehatan di daerah yang berhubungan dengan COVID-19 serta ketersediaan
kebutuhan mendasar, termasuk pangan, guna mengantisipasi dampak COVID-19 di
seluruh daerah.

"Dengan membangun komunikasi dan tukar-menukar data antara asosiasi
perusahaan dan pemerintah daerah, di atas mekanisme permintaan dan
penawaran (*supply and demand*), kami berharap kita dapat mengerahkan semua
kekuatan kita untuk mengatasi masalah penanggulangan COVID-19 ini," ujar
Mendagri.

Lewat diskusi tersebut, Mendagri ingin membangun sinergi agar dunia usaha
dan pemerintah daerah dapat melakukan kerja sama di dalam pemenuhan
kebutuhan tersebut.

"Diskusi seperti ini perlu dilakukan secara teratur agar sinergi dan
kesatuan gerak langkah antara pemerintah, khususnya kabupaten/kota dan
dunia usaha untuk bersatu menghadapi COVID-19," ujar Tito.

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kirim email ke