Kutipan: Menurut dia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai massage
atau layanan yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebih rileks.
Enjoyable. Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat, tapi titiknya
tepat,” kata ibu satu anak tersebut.Dwika sendiri menyebut tangan terapis Bali
punya daya magis. ”Magic hand,” ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar
adalah magic smile.
Siapa yg pernah menikmati pijaran ala Bali Magic hand? Dimana sih keungulannya?
On Wednesday, April 15, 2020, 02:31:38 PM PDT, Sunny ambon
[email protected] [GELORA45] <[email protected]> wrote:
Piiatanterapi semua otot demi keseimbabang rohaniah dan jasmaniah?
https://www.jawapos.com/ibu-kota-baru/05/04/2020/pijatan-terapis-indonesia-jadi-langganan-petinggi-negara-kazakhstan/
PijatanTerapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara Kazakhstan
LaporanDoan Widhiandono dari Kazakhstan
IBUKOTA BARU
5April 2020, 21:56:08 WIB
KELUARGABESAR: Dubes RI untuk Kazakhsan dan Tajikistan Rahmat Pramono (duadari
kiri) bersama staf KBRI dan WNI di Nur-Sultan pada malam tahunbaru, 31 Desember
2019. Sebagian besar WNI itu adalah terapis spa diibu kota Kazakhstan. (Doan
Widhiandono/Jawa Pos)
Di bawah kepemimpinan Nursultan Nazarbayev, Kazakhstan mengalami kemajuan
pesat. Negeri itu kian modern dan terbuka. Tidak seperti era Uni Soviet. Sektor
pariwisata menggeliat, ekspatriat berdatangan. Peluang tersebut dimanfaatkan
tenaga kerja Indonesia yang punya keahlian khusus: memijat.
—
MADE DwikaJarianti masih merasa geli tatkala mengingat
pengalaman-pengalamanawalnya sebagai pemijat. ”Waktu itu ada turis bertanya
apakah sayabisa memberi layanan happy end,” ungkap perempuan kelahiran
12Januari 1987 tersebut. Dwika mengangguk mantap. Dia dapat memberikanlayanan
yang happy end.
Turiscowok tersebut langsung antusias. ”Dia langsung memulangkanistrinya ke
hotel. Setelah itu, dia datang lagi minta pijat,” ujaralumnus SMAN 1 Tejakula,
Singaraja, tersebut. Eh, setelah pijat, situris menagih layanan happyend.Dwika
yang usianya baru saja memasuki 20-an tahun pun bingung.
”Sayabilang, ’Yes,after massage you will be happy’,”kisahnya, kemudian
terbahak. Dwika saat itu belum paham bahwa happyend dalamdunia perpijatan
adalah istilah untuk layanan plus-plus yang mengarahke aktivitas sensual dan
seksual. ”Ya, saya nggak tahu,” kata ibusatu anak tersebut, lantas tertawa. Dia
mengaku, sampai saat iniselalu menghindari layanan-layanan yang ”menjurus”
seperti itu.
Dwikamengisahkan perjalanan hidupnya itu pada sebuah siang bersuhu minus15
derajat Celsius, 4 Januari lalu. Menurut dia, jalan hidup memangmenuntunnya
untuk bekerja sebagai terapis spa. Selepas SMA pada 2004,Dwika tak bisa meraih
cita-citanya untuk kuliah lagi. Putri seorangkepala sekolah dan guru itu harus
bekerja di sebuah minimarket.Setelah itu, dia mencoba peruntungan di dunia
terapis spa.”Pindah-pindah kerja,” ujarnya, lantas menyebutkan beberapatempat
spa yang pernah disinggahinya.
Namun,garis hidupnya kian membaik tatkala istri Made Poliana itu bersekolahdi
Spa Bali International Academy (SBIA) di Jimbaran pada 2008. Olehpengelola
sekolah dan para gurunya, Dwika dinilai berbakat. Dia lulusdalam waktu enam
bulan. ”Padahal, saya sambi. Kuliah, kerja,kuliah, kerja,” tutur perempuan
berparas manis tersebut. Itu pundilakoninya tanpa memberi tahu kedua orang
tuanya.
KEAHLIANKHUSUS: Siti Nurjanah merapikan duang massage di HOtel RizosPresident,
Nur-Sultan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)
Materidi akademi itu pun tak gampang. Untuk lulus, Dwika harus menguasai
12teknik treatment. Mulai Bali massage, Thai massage, aromaterapi,manicure,
pedicure, foot massage, hingga creambath. ”Saya laluditawari kerja di Turki
oleh Ibu Puspiani (Ni Wayan Puspiani,direktur SBIA, Red),” ujar Dwika. Setelah
dua tahun di negeri itu,Dwika pulang karena menikah.
Putrinya,Kesya, lahir pada 2012. Saat sang putri berumur lebih dari 1
tahun,Dwika kembali melanglang buana. Dia bekerja di Kazan, Tatarstan,bagian
dari negara federasi Rusia. Setelah itu, pada 2014, Dwikapindah ke Kazakhstan.
Awalnya, dia bekerja di Rixos President Hotelselama 3,5 tahun sebelum akhirnya
berlabuh ke The Ritz-Carlton.
Dihotel mewah tersebut, Dwika mendapat gaji bersih sekitar USD 1.000per bulan
(sekitar Rp 15 juta). Itu belum termasuk komisi-komisiberkisar USD 300 (sekitar
Rp 4,5 juta) plus komisi penjualan produk.Tabungannya mewujud menjadi tanah
seluas 5 are (500 meter persegi) diBali.
Tapi,merantau sekian lama, Dwika tentu ingin pulang. Dia rindu anaknya.Walaupun
anak itu pula yang membuat Dwika meneguhkan diri tetapbekerja untuk menghidupi
buah hatinya. ”Saya pengin anak sayabekerja tidak seperti saya. Mungkin dia
jadi PNS. Atau suster(perawat, Red),” harap Dwika..
PengalamanDwika tidak hanya terlihat dalam wujud materi. Dia punya
kesempatanberkenalan dengan tokoh-tokoh penting di Kazakhstan. TermasukPresiden
Kassym-Jomart Tokayev? Atau mantan Presiden NursultanNazarbayev? Dwika hanya
tertawa. ”Saya enggak boleh bercerita. Itukan rahasia klien,” katanya.
SitiNurjanah, perempuan Banyuwangi yang jadi terapis di Rixos PresidentHotel,
justru lebih gamblang. ”Saya baru dipanggil ke resident,”katanya pada 8 Januari
malam di tempat kerjanya. Memijat presidenKazakhstan? Nurjanah mengangguk.
”Tapi, yang gitu aja ceritanya,”ujarnya.
KEAHLIANKHUSUS: Made Dwika Jarianti (kanan) bersama Niluh Made Radina
Duhita,rekannya sesama terapis spa di Hotel The Ritz Carlton.
(DoanWidhiandono/Jawa Pos)
Nurjanahadalah sesepuh para terapis di Kazakhstan. Perempuan kelahiran
6September 1973 tersebut ada di Kazakhstan sejak April 2009. Lebihdari setahun
sebelum KBRI berdiri.
Menurutdia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai massage ataulayanan
yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebihrileks. Enjoyable.
Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat,tapi titiknya tepat,” kata ibu
satu anak tersebut.
Menurutdia, tamu hotelnya selalu mencari pemijat dari Bali. ”Kan tangankita
beda,” kata alumnus SBIA itu, lalu terkikik.
Dwikasendiri menyebut tangan terapis Bali punya daya magis. ”Magichand,”
ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar adalah magicsmile.
Editor: Ilham Safutra
Reporter: */c10/dos
-
-
kazakhstan