*Piiatan terapi semua otot demi keseimbabang rohaniah dan jasmaniah? *

https://www.jawapos.com/ibu-kota-baru/05/04/2020/pijatan-terapis-indonesia-jadi-langganan-petinggi-negara-kazakhstan/


*Pijatan Terapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara Kazakhstan*

*Laporan Doan Widhiandono dari Kazakhstan*

IBU KOTA BARU <https://www.jawapos.com/ibu-kota-baru/>

5 April 2020, 21:56:08 WIB

[image: Pijatan Terapis Indonesia Jadi Langganan Petinggi Negara
Kazakhstan]*KELUARGA
BESAR: Dubes RI untuk Kazakhsan dan Tajikistan Rahmat Pramono (dua dari
kiri) bersama staf KBRI dan WNI di Nur-Sultan pada malam tahun baru, 31
Desember 2019. Sebagian besar WNI itu adalah terapis spa di ibu kota
Kazakhstan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)*


Di bawah kepemimpinan Nursultan Nazarbayev, Kazakhstan mengalami kemajuan
pesat. Negeri itu kian modern dan terbuka. Tidak seperti era Uni Soviet.
Sektor pariwisata menggeliat, ekspatriat berdatangan. Peluang tersebut
dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia yang punya keahlian khusus: memijat.

—

*MADE* Dwika Jarianti masih merasa geli tatkala mengingat
pengalaman-pengalaman awalnya sebagai pemijat. ”Waktu itu ada turis
bertanya apakah saya bisa memberi layanan happy end,” ungkap perempuan
kelahiran 12 Januari 1987 tersebut. Dwika mengangguk mantap. Dia dapat
memberikan layanan yang happy end.

Turis cowok tersebut langsung antusias. ”Dia langsung memulangkan istrinya
ke hotel. Setelah itu, dia datang lagi minta pijat,” ujar alumnus SMAN 1
Tejakula, Singaraja, tersebut. Eh, setelah pijat, si turis menagih
layanan *happy
end*. Dwika yang usianya baru saja memasuki 20-an tahun pun bingung.

”Saya bilang, ’*Yes, after massage you will be happy*’,” kisahnya, kemudian
terbahak. Dwika saat itu belum paham bahwa *happy end* dalam dunia
perpijatan adalah istilah untuk layanan plus-plus yang mengarah ke
aktivitas sensual dan seksual. ”Ya, saya nggak tahu,” kata ibu satu anak
tersebut, lantas tertawa. Dia mengaku, sampai saat ini selalu menghindari
layanan-layanan yang ”menjurus” seperti itu.

Dwika mengisahkan perjalanan hidupnya itu pada sebuah siang bersuhu minus
15 derajat Celsius, 4 Januari lalu. Menurut dia, jalan hidup memang
menuntunnya untuk bekerja sebagai terapis spa. Selepas SMA pada 2004, Dwika
tak bisa meraih cita-citanya untuk kuliah lagi. Putri seorang kepala
sekolah dan guru itu harus bekerja di sebuah minimarket. Setelah itu, dia
mencoba peruntungan di dunia terapis spa. ”Pindah-pindah kerja,” ujarnya,
lantas menyebutkan beberapa tempat spa yang pernah disinggahinya.

Namun, garis hidupnya kian membaik tatkala istri Made Poliana itu
bersekolah di Spa Bali International Academy (SBIA) di Jimbaran pada 2008.
Oleh pengelola sekolah dan para gurunya, Dwika dinilai berbakat. Dia lulus
dalam waktu enam bulan. ”Padahal, saya sambi. Kuliah, kerja, kuliah,
kerja,” tutur perempuan berparas manis tersebut. Itu pun dilakoninya tanpa
memberi tahu kedua orang tuanya.

KEAHLIAN KHUSUS: Siti Nurjanah merapikan duang massage di HOtel Rizos
President, Nur-Sultan. (Doan Widhiandono/Jawa Pos)

Materi di akademi itu pun tak gampang. Untuk lulus, Dwika harus menguasai
12 teknik treatment. Mulai Bali massage, Thai massage, aromaterapi,
manicure, pedicure, foot massage, hingga creambath. ”Saya lalu ditawari
kerja di Turki oleh Ibu Puspiani (Ni Wayan Puspiani, direktur SBIA, Red),”
ujar Dwika. Setelah dua tahun di negeri itu, Dwika pulang karena menikah.

Putrinya, Kesya, lahir pada 2012. Saat sang putri berumur lebih dari 1
tahun, Dwika kembali melanglang buana. Dia bekerja di Kazan, Tatarstan,
bagian dari negara federasi Rusia. Setelah itu, pada 2014, Dwika pindah ke
Kazakhstan. Awalnya, dia bekerja di Rixos President Hotel selama 3,5 tahun
sebelum akhirnya berlabuh ke The Ritz-Carlton.

Di hotel mewah tersebut, Dwika mendapat gaji bersih sekitar USD 1.000 per
bulan (sekitar Rp 15 juta). Itu belum termasuk komisi-komisi berkisar USD
300 (sekitar Rp 4,5 juta) plus komisi penjualan produk. Tabungannya mewujud
menjadi tanah seluas 5 are (500 meter persegi) di Bali.

Tapi, merantau sekian lama, Dwika tentu ingin pulang. Dia rindu anaknya.
Walaupun anak itu pula yang membuat Dwika meneguhkan diri tetap bekerja
untuk menghidupi buah hatinya. ”Saya pengin anak saya bekerja tidak seperti
saya. Mungkin dia jadi PNS. Atau suster (perawat, Red),” harap Dwika.

Pengalaman Dwika tidak hanya terlihat dalam wujud materi. Dia punya
kesempatan berkenalan dengan tokoh-tokoh penting di Kazakhstan. Termasuk
Presiden Kassym-Jomart Tokayev? Atau mantan Presiden Nursultan Nazarbayev?
Dwika hanya tertawa. ”Saya enggak boleh bercerita. Itu kan rahasia klien,”
katanya.

Siti Nurjanah, perempuan Banyuwangi yang jadi terapis di Rixos President
Hotel, justru lebih gamblang. ”Saya baru dipanggil ke resident,” katanya
pada 8 Januari malam di tempat kerjanya. Memijat presiden Kazakhstan?
Nurjanah mengangguk. ”Tapi, yang gitu aja ceritanya,” ujarnya.

KEAHLIAN KHUSUS: Made Dwika Jarianti (kanan) bersama Niluh Made Radina
Duhita, rekannya sesama terapis spa di Hotel The Ritz Carlton. (Doan
Widhiandono/Jawa Pos)

Nurjanah adalah sesepuh para terapis di Kazakhstan. Perempuan kelahiran 6
September 1973 tersebut ada di Kazakhstan sejak April 2009. Lebih dari
setahun sebelum KBRI berdiri.

Menurut dia, spa khas Bali jauh lebih dikenal ketimbang Thai massage atau
layanan yang lain. ”Kata orang di sini, Bali massage itu lebih rileks.
Enjoyable. Titik-titik pijatannya pas. Tidak terlalu kuat, tapi titiknya
tepat,” kata ibu satu anak tersebut.

Menurut dia, tamu hotelnya selalu mencari pemijat dari Bali. ”Kan tangan
kita beda,” kata alumnus SBIA itu, lalu terkikik.

Dwika sendiri menyebut tangan terapis Bali punya daya magis. ”Magic hand,”
ujarnya, lalu tersenyum. Kali ini, yang keluar adalah magic smile.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/dos

   -



   -

   kazakhstan <https://www.jawapos.com/tag/kazakhstan/>

Kirim email ke