https://www.gatra.com/detail/news/475702/politik/komisi-i-waspada-masa-pandemik-data-negara-rawan-bocor-


Komisi I: Waspada Masa Pandemik, Data Negara Rawan Bocor!

Gatra.com | 15 Apr 2020 22:31



*Jakarta, Gatra.com* – Masa pandemi wabah corona (Covid-19) yang diikuti
dengan kebijakan bekerja dari rumah (*Work From Home*/WFH) juga menimbulkan
potensi ancaman siber dan gangguan infrastruktur kritis nasional. Anggota
Komisi I DPR, Sukamta mengimbau agar pemerintah meningkatkan kewaspadaan
atas pencurian data, kebocoran data, dan serangan siber.

“Saya meminta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) meningkatkan ketahanan
dan menjamin keamanan siber di tengah pandemi Covid-19 karena saat
ini hampir semua kegiatan baik pemerintah atau masyarakat dilakukan secara
daring,” ujar Sukamta dalam keterangannya kepada *Gatra.com*, Rabu (15/4).

Legislator PKS itu menyebutkan dengan adanya kebijakan WFH, *traffic
internet* dari rumah dipastikan memadat. Dari data yang ia terima,
penggunaan media sosial saat ini meningkat 40%, sementara penggunaan
aplikasi belajar daring meningkat tajam 5404%. Selain itu penggunaan
aplikasi penunjang kerja dari rumah juga mengalami peningkatan sebesar 443%..

Kewaspadaan terhadap ketahanan siber nasional menurutnya harus jadi
prioritas. Meski data tren serangan siber cenderung menurun setelah
diberlakukan WFH dimana tercatat pada Januari-Februari sekitar 28-29 ribu
serangan, pada Maret menurun menjadi sekitar 26 ribu serangan.

*Baca juga: Awas! Penjahat Siber Intai Data Kritis Saat Covid-19
<https://www.gatra.com/detail/news/475138?t=2>*

“Meskipun begitu peningkatan keamanan siber tetap harus dilakukan karena
bisa jadi tren menurun ini hanya secara kuantitas. Secara kualitas serangan
tetap berbahaya, satu saja serangan siber berkualitas dan berhasil menjebol
ketahanan siber kita, bisa repot nanti,” ucap doktor lulusan Inggris ini.

Ia menegaskankan agar pemerintah tidak lengah dan serius membuat sistem
keamanan siber yang bisa diterapkan terhadap website, program atau aplikasi
yang digunakan oleh Indonesia, baik oleh individu, komunitas, korporasi dan
khususnya lembaga negara. “Jika di China ada *Great Firewall*, semacam
sistem untuk menyensor konten-konten tertentu, maka perlu juga kita di sini
membuat sistem serupa. Di sana juga ada *Golden Shield Project* yang berupa
sistem keamanan informasi,” sambungnya.

Indonesia menurutnya harus punya sistem serupa minimal satu sistem terpadu
yang mencakup konten dan keamanan siber. “Diharapkan dengan itu website,
aplikasi dan program-program internet yang kita gunakan baik buatan luar
negeri dan dalam negeri, tidak mampu menembus benteng *firewall* kita,
alih-alih mencuri atau mengubah konten”.

*Baca juga: Berikut Trik Intelijen Siber Amankan Telekonferensi
<https://www.gatra.com/detail/news/475144?t=1>*

Menanggapi masifnya penggunaan aplikasi meeting dan video conference secara
daring setelah diterapkannya WFH, ia berharap pemerintah bersama BSSN dapat
menyediakan aplikasi khusus berkeamanan tinggi bagi unsur pemerintah dan
kelengkapan negara lainnya.

“Kami mengusulkan agar BSSN bisa menyediakan atau bahkan membuat sendiri
aplikasi serupa yang bisa dan aman digunakan untuk kalangan pemerintahan,
presiden, DPR, ka kabinet, dan lembaga-lembaga negara yang lain. Alternatif
sementara sekarang ada CloudX buatan Telkomsel anak BUMN Telkom,” ujarnya.

Sukamta menekankan penting untuk memastikan keamanan negara dalam ranah
siber. Ia menyayangkan jika rapat pengambilan keputusan atau rapat rahasia
yang dilangsungkan instansi pemerintah bocor karena menggunakan aplikasi
yang tidak cukup aman “Kami ingin agar aplikasi yang disiapkan ini memiliki
keamanan tinggi standar militer dan kami minta agar bisa diselesaikan dalam
waktu 2 atau 3 pekan ini,” ujar wakil rakyat Dapil Yogyakarta ini.
------------------------------

*Editor: Andhika Dinata*

Kirim email ke