Teman-teman yb.,

Sehubungan dengan Peringatan Hari Kartini 2020 ini, saya bukanlah seorang
yang menyodorkan buku, pikiran atau pandangan Kartini yang mana yang bisa
dipresentasikan sebagai teladan kita semua. Justru saya tertegun sebentar
ketika bung Djie menulis: ,,Kalau melihat mula-mula dari buta huruf, menuju
ke kesadaran ..?" Wauw, benar; cobalah kita bayangkan  sudah100 tahun lebih,
apa yang telah diperjuangkan oleh kaum wanita Indonesia semenjak keteladan
yang diinspiratorkan oleh Kartini dengan susah payah, melalui liku-liku
sejarah dari zaman ke zaman yang berat itu; semisal masalah perkawinan anak
( lihat tulisan ,, Ketika Kartini Menggugat Snouck Hurgronje" oleh Hendri F.
Isnaeni 22042015 - Historia), satu berhasil baru tahun yang lalu ditetapkan
usia minimal nikah 19 tahun. 

Saya kutipkan catatan Sulami : ,,* Tahun 2001 R.A Kartini telah menyerukan
anti poligami dan anti penderitaan. *Hingga tahun 2001. Kenyataan yang
dialami kaum perempuan, masih adanya poligami, diskriminasi terhadap
perempuan baik didalam sistem produksi (khususnya buruh perempuan) maupun di
berbagai kehidupan sosial, ekonomi, politik dan sebagainya. Demikian halnya
tindak berbagai tindak kekerasan dan perlakuan sewenang-wenang terhadap kaum
perempuan. * Sampai kapankah itu berakhir? * Tantangan perjuangan emansipasi
kaum perempuan

Tahun 2020, RUU P KS? Mengawang lagi....

Maka, zaman sekarang melalui computer mudah didapat informasi yang sangat
luas. 

 

Salam,

 

Titiek Maslam

 

Kirim email ke