Bung Djie, soal ubah judul silahkan saja. Iya bener , kalimat aktif lebih cocok.

Terima kasih.

 

Salam,

Titiek Maslam

Van: [email protected] <[email protected]> 
Verzonden: woensdag 22 april 2020 22:47
Aan: Gelora45 <[email protected]>; suharti maslam 
<[email protected]>
Onderwerp: Re: [GELORA45] Re: Mengenang jasa besar Ibu Kartini

 

  

Zus Titiek,

Mboekak Pepeteng = Membuka Kegelapan dengan kalimat aktif jauh lebih kena dari 
pada kalimat tidak aktif Habis gelap terbitlah terang.

Door de duisternis tot licht kalau diterjemahkan Menerobos kegelapan menuju 
terang, juga belum kena kena kalau hanya menerobos, kegelapannya tetap ada..   

Bisa dipikirkan menggunakan sejarah Eropa ? Jaman kegelapann dan renaisans 
(pencerahan) ? Kalau mau dipakai, jadi kira2 :

Membuka kegelapan menuju Pencerahan ?

Mungkin lebih tegas : Perjoangan melawan keterbelakangan ?

Salam,

Djie                       

 

Op wo 22 apr. 2020 om 21:18 schreef [email protected] 
<mailto:[email protected]>  [GELORA45] <[email protected] 
<mailto:[email protected]> >:

  

Kembali ke judul buku ,,Door Duisternis tot Licht” yang diterjemahkan ke dalam 
bahasa Indonesia ,,Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh Armijn Pane dan populer 
dipakai sampai sekarang. Lainnya ada yang dalam bahasa Jawa ,,Mboekak 
Pepeteng”; bahasa Indonesianya = ,,Membuka Kegelapan “; jadi benar seperti bung 
Chan terjemahin. Kegelapan sebagai kata benda. Aku tidak akan persoalkan arti 
kata itu secara linguistik, tapi sekedar curhat saja. Sama seperti bung Djie 
dan bung Chan, benar juga ,,Habis Gelap Terbitlah Terang” itu kurang cocok, 
dalam artian Gelap = duister, sedangkan ada kata penghubungnya yaitu ,,Door… 
tot”, perasaan saya itu merupakan proses, yaitu oleh/dari…..ke/sampai….. . 
Tolong bung Djie apa begitu? Lalu habis gelap, benarkah? Lagi sama dengan bung 
Chan. Sampai sekarang yang namanya terang masih belum seperti yang 
dicita-hasratkan oleh kaum perempuan.

Lalu saya membuka catatan saya- dari internet - kumpulan ttg peringatan Hari 
Kartini. Saya temukan judul ,,Beberapa Pemikiran Kartini”tulisan Harsutejo 
2015(?) – ‘cuplikan dari  Harsutejo, Kartini, Pemikir Multidimensi, naskah buku 
sedang dalam penyelesaian)’. Satu dua kalimat:

 

Kartini Dibuat Abu-Abu

Ada sejumlah pemikiran Kartini yang tidak atau hampir tidak dibicarakan, 
apalagi ketika kumpulan surat Kartini pertama diterbitkan oleh JH Abendanon di 
Belanda pada 1911, di antaranya diterjemahkan oleh Armijn Pane pada 1938, Habis 
Gelap Terbitlah Terang. Buku yang sarat dengan sensor untuk kepentingan 
penjajah Belanda inilah yang pada 2008 telah mengalami cetakan ke-24 tanpa 
perubahan secuwil pun, tersebar dan dibaca luas di Indonesia. Banyak surat 
Kartini yang tidak dimuat dalam buku tersebut dan banyak bagian telah 
dipotong-potong, justru surat atau bagian surat yang sangat penting.

Mungkin sekali penerbit Balai Pustaka sebagai alat pemerintah kolonial ikut 
menyensor terjemahannya. Misalnya kata revolutie yang dgunakan Kartini 
diterjemahkan Armijn Pane dengan “berubah terbongkar dengan sungguh-sungguh,” 
nampaknya kata ‘revolusi’ yang tersohor di kalangan gerakan nasional di masa 
itu sesuatu yang menakutkan dan menjadi tabu. Kartini dengan gairah menyambut 
tanda-tanda datangnya perubahan zaman. Dalam hubungan ini ada kata-kata lain 
Kartini yang diterjemahkan dengan menyesatkan maknanya.

“Eene verandering in onze geheele Inlandsche wereld zal komen; het keerpunt is 
voorbeschikt; maar wanneer? Dit is de groote vraag. Wij kunnen het uur der 
revolutie niet vervroegen. Dat juist wij in deze wildernis, in dit diepe 
binnenland, waarachter geen land meer is, zulke oproerige gedachten moesten 
hebben!” (DDTL 1976:19-20).

“Seluruh dunia kami Bumiputra tentu akan berubah juga; masanya berubah sudah 
ditakdirkan Allah. Akan tetapi apabilakah? Itulah yang menjadi masalah. 
Ketikanya berubah terbongkar dengan sungguh-sungguh, tiada dapat kami percepat. 
Apakah sebabnya maka kami yang gaduh pikirannya, kami yang hidup di dalam rimba 
ini jauh di tanah darat, di ujung negeri!”(terjemahan Armijn Pane 1938, huruf 
tebal hs).

                                                                                
                                      ---

Kutipan selesai. Sekali gus kita bisa membandingkan. 

Tambahan, di buku Armijn Pane, tidak dimuat seperti postingan bung Djie : R..A. 
Kartini, cuplikan dari surat tertanggal 8 Juni 1904 jaadi memang di potong atau 
sensor; sedang yang bahasa Jawa, dimuat lengkap. O ya maaf, buku Mboekak 
Pepeteng  penulisnya R. Sasrasoegonda. Diterbitkan oleh Panitya Fonds Kartini 
Djawa, Soerabaja – 1938.. 

Itulah bung di kala di karantin selama covid-19 masih mengganas.

 

Salam,

 

Titiek Maslam

 



Kirim email ke