Opini
Obituari: Selamat Jalan bung Arief Budiman, Soe Hok Djin, Kakak Soe
Hokgie
* Cetak
<http://bergelora.com/opini-wawancara/artikel/13589-obituari-selamat-jalan-bung-arief-budiman-soe-hok-djin-kakak-soe-hokgie.html?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
* Email
<http://bergelora.com/component/mailto/?tmpl=component&template=sj_financial&link=a43e2da9fa8335e86d6b78b32835769b92947df1>
Kamis, 23 April 2020
Dilihat: 52
http://bergelora.com/opini-wawancara/artikel/13589-obituari-selamat-jalan-bung-arief-budiman-soe-hok-djin-kakak-soe-hokgie.html
Sosiolog Arief Budiman. (Ist)
/Seorang Sosiolog besar Indonesia telah pergi. Dia Arief Budiman, yang
banyak memberikan inspirasi dan semangat pada generasi 80-an untuk
kembali bangkit berjuang membebaskan Indonesia dari kediktaktoran
Soeharto. Christianto Wibisono menulis obituari buat Bung Arief.
Bergelora.com menundukkan kepala mengantar kepergianmu bung. Terima
kasih untuk semua ilmu yang kau berikan. (Redaksi)/
*Oleh**:**Christianto Wibisono*
//
BUNG Arief Budiman aktivis Angkatan 66 lahir 3 Januari 1939 wafat pada
usia 81 tahun hari ini 24 April 2020 menyusul adiknya Soe Hokgie. Yang
wafat keracunan gas ketika mendaki Gunung Semeru menjelang ulang tahun
ke 27 pada 16 Des 1969. Alm Soe Hokgie yang lahir 17 Desember 1942
adalah senior dan mentor Prabowo Subyanto yang pada tahun 1968 baru
pulang dari pengembaraan di luar negeri mengikuti ayahnya Prof Sumitro
sebagai pelarian dari status tahanan politik karena terlibat
pemberontakan PRRI Persemta (15 Februari 1958).
Seandainya Soe Hokgie maasih hidp dan tidak gugur di pendakian gunung
barangkali riwayat Prabowo bisa berbeda dan lebih demokratis sehingga
mungkin sudah jadi Prssiden sekarang.
Soe Hokgie adalah pengagum Syahrir dan PSI sedang kakaknya Arief Budiman
lebih condong menjadi budayawan seniman dan menjadi salah satu tokoh
penandatangan Manifest Kebudayaan, wadah seniman anti komuis yang
diplesetkan oleh PKI sebagai kelompok Manikebu Tokoh tokonya adalah
Almarhum Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, dan dikucilkan
oleh Orde Lama ketika kelompok kiri naik daun pasca .eskalasi ofensif
PKI terhadap lawan politik seperti Murba dan BPS , Badan Pendukung
Sukarnoisme (BPS).
Prabowo Subianto remaja saat melayat Soe Hokgie bersama ayahnya, Prof
Sumitro Djojohadikusumo. (Ist)
Sejarah politik Indonesia memang penuh “kemunafikan” dan “keanehan”.
Dalam pidatonya Presiden Sukarno menyatakan bahwa ia membubarkan BPS
karena organisasi itu meskipun namanya Pendukung Sukarnoisme, adalah
justru ingin membunuh Sukarnoisme dan Sukarno sendiri. Dalam pidato
bahasa Inggris Bung Karno menyebut BPS is a movement that use Sukarnoism
to kil Sukarnoism and Sukarno himself. Maka suratkabar pendukung BPS
1964 dan Partai Murba dibubarkan awal 1965. Setelah keadaan berbalik
maka semua kelompok kiri ditumpas habis,
Tapi Soe Hokgie menulis skripsi sarjana sejarah tentang orang orang
“komunis” dan justru menjadi pejuang hak asasi manusia yang mengingatkan
Indonesia agar tidak melakukan genosida pembunuhan masal orang kiri . Ia
termasuk yang mengingatkan bahwa pembuangan tapol e x PKI kePulau Buru
adalah pelanggaran HAM berat.
Setelah adiknya wafat Arief Budiman menjadi lebihagresif dan turun ke
jalan ikut pelbagai demonstrasi anti korupsi ditahun 1970an awal sampai
memperoleh bea siswa di Harvard pasca Malari dan kemudian menjadi dosen
di Universitas Kristen satyawacana serta terakhir bermukimdi Australia.
Slamat jalan Bung Arief Budiman menyusul adinda tercinta Soe Hokgie
yang meski gagal berkarir tapi namanya tetap diingat dan sudah
difilmkan sebagai tokoh aktivis muda etnis Tionghoa yang tidak ganti
nama, tapi dihargai dan disegani serta “dicintai” banyak mahasiswi
favorit Universitas Indnesia.
Kepada Bung Kuskrido Ambardy menantu almarhum Arief Budiman, ikut
berduka cita atas wafatnya mertua anda . Salam mbak Laila dan keluarga
besar Arief Budiman yang sempat berjubel di rumah saya di Virginis pasca
tragedi Mei 1998 ketika saya bermukim di Washington DC dan dibezuk oleh
bung Arief sekeluarga satu mobil kombi VW. Tuhan menyertai kita semuanya
dimanapun kita berada sekarang dan dimasa depan.
May you Rest In Peace with Him bung Arief. Salam dari Jakarta ditengah
kemelut Covid 19 yang mencekam seluruh dunia dalam paranoid kiamat Covid
dan ketahanan iman kolektif Homo Sapiens. Terima kasih atas kritik
terhadap buku saya Aksi Aksi Tritura berjudul Potret sebuah mitor yang
anda tulis di Kompas 22 Agustus 1970