In Memoriam Arief Budiman

Islam dan Berhala Kapitalisme

Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Apa esensi Islam ?
Ramah dan rahmah.
Kedua inti ajaran Islam inilah fondasi dari perdamaian dan kesejahteraan.
Keduanya merupakan refleksi aktual dari keadilan.

Islam, kata Arief Budiman, adalah agama keadilan.  Dan keadilan, menurut
Arief, tak akan bisa tercapai di masyarakat kapitalisme.

Bagi Arief, monotheisme harus ditafsirkan dalam konteks sosialisme. Ketika
Muhammad menghancurkan berhala-berhala di Ka'bah, ujar sosiolog Harvard
ini, hakikatnya sang Rasul tengah menghancurkan kapitalisme. Berhala adalah
simbol kapitalisme. Dan itu harus dihancurkan.

Saat Muhamad lahir, Mekah adalah kota kapitalisme. Ekonomi dan sumberdaya
Mekah dikuasai kelompok borjuis Abu Jahal, Abu Sufyan, dan networknya.
Kehadiran Muhammad yang hendak membela kaum proletar dan melenyapkan
kapitalisme, dihajar habis kroni-kroni kapitalis Quraisy.

Muhammad pun tersingkir dari Makkah. Lalu hijrah ke Madinah. Arief Budiman
menafsirkan hijrah sebagai keberpihakan Muhammad kepada kaum proletar yang
ditindas kelompok borjuis.

Menurut Arief, sepanjang hidupnya, Muhammad berjuang menerapkan sosialisme.
Karena, hanya melalui sosialisme keadilan bisa ditegakkan.

Sayangnya, keluh Arief, sepeninggal Muhammad, Islam kembali menjadi agama
kapitalis. Fikih transaksional yang berwatak kapitalis menguasai literasi
Islam. Segala bentuk ibadah dalam fikih transaksional diukur dengan ancaman
dosa dan iming-iming pahala. Dalam bahasa kapitalis, segala aktivitas umat
dilandasi -- stick and carrot.

Orang yang salat sunah dan kemudian  salat subuh berjamaah, misalnya,
dilukiskan dalam fikih kapitalis  mendapat pahala seluruh isi dunia. Di
sorga dalam lukisan fikih kapitalis, manusia akan mendapat 70 bidadari
cantik dengan rumah mewah dan perabotan emas.

Gambaran-gambaran itulah yang membawa Islam makin menjauh dari
 sosialisme.  Selama ribuan  tahun berkuasanya kekhalifahan despot Bani
Umayah dan Bani Abasiyah, Islam tumbuh menjadi "agama kapitalis yang
otoriter".  Hampir semua hukum fikih yang berkembang sekarang, misalnya,
 berbasis kapitalisme dan despotisme,  warisan kekhalifahan despot tersebut.

Akibatnya, Islam tak pernah tumbuh menjadi agama sosialis yang berbasis
keadilan. Padahal keadilan adalah fondasi Islam. Arief Budiman dalam sebuah
wawancara, mengeluh, wacana Islam kini dipenuhi hukum fikih yang
transaksional dan kapitalis. Islam telah kehilangan elan vital sosialisme
yang berkeadilan seperti pernah diterapkan Muhammad.

Fikih semacam ini, ungkap guru besar sosiologi di Melbourne University
Australia ini, hanya mengukuhkan eksistensi kapitalisme. Quran dan sunah
Rasul, misalnya,  dimanipulasi untuk kepentingan kaum borju yang punya
vested interest.

Celakanya, kaum borju inilah yang kini mengeksploitasi Islam. Islam
dijadikan agama yang tidak ramah dan rahmah.  Islam dijadikan intrumen
despot serakah dan haus kuasa. Semuanya untuk memfasilitasi vested
interestnya.

Arief Budiman meski seorang Tionghoa mualaf, tapi pandangan keislamannya
sangat perspektif dan mencerahkan. Terutama untuk orang-orang  yang peduli
 pada kaum miskin dan tertindas. Keberpihakannya kepada sosialisme
berkeadilan, ia tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari bersama Bunda Leila,
muslimah asal Sumbar. Sederhana, helpful, ramah,  antikapitalisme dan
antiotoritarianisme.

Semua aktivis prodemokrasi dan antikapitalisme menjadikan Arief sebagai
idola. Sepanjang hidupnya Arief menjadi episentrum pemikiran dan gerakan
perubahan sosial di Indonesia. Untuk mewujudkan NKRI yang sosialis, adil,
dan demokratis.

Selamat jalan Arief Budiman. Allah telah menyiapkan sorga terindah untukmu.
Bukan bersama 70 bidadari cantik di sorga kaum kapitalis. Tapi bersama
rakyat sederhana, jujur,  dan cinta manusia di sorga kaum sosialis.

Kirim email ke