Opini
Obituari: Arief Nan Budiman
* Cetak
<http://bergelora.com/opini-wawancara/artikel/13629-obituari-arief-nan-budiman.html?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
* Email
<http://bergelora.com/component/mailto/?tmpl=component&template=sj_financial&link=9fe70202af019c0ab4522aaa0974116e896c44eb>
Senin, 27 April 2020
Dilihat: 61
http://bergelora.com/opini-wawancara/artikel/13629-obituari-arief-nan-budiman.html
Arief Budiman. (Ist)
/Arief Budiman, adalah salah satu intelektual yang ikut mendorong
gerakan perempuan modern di masa Orde Baru. Bukunya yang berjudul
‘Pembagian Kerja Secara Seksual’ menjadi inspirasi bagi perempuan untuk
ikut terlibat dalam gerakan demokrasi yang lebih luas. Maria Pakpahan
Co-founder Forum Diskusi Perempuan Yogyakarta (FDPY), activist,
feminist,--menuliskannya mengenang sosok Arief Budiman. (Redaksi)/
*Oleh: Maria Pakpahan*
SOSOK kurus sederhana tanpa printilan yang terekam di benak saat
mengenalnya 32 tahunan lalu. Arief Budiman. Nama yang pas untuk
sosoknya. Memang ia orang yang budiman. Tahun 1988/1989 saat itu buku
Pembagian Kerja Secara Seksual (PKSS) menjadi salah satu buku yang Forum
Diskusi Perempuan Yogyakarta (FDPY) bedah dan Arief Budiman tidak
keberatan dari Salatiga ke Yogyakarta menjadi nara sumber diskusi tanpa
honor yang jelas.
Saya bersama Juli E. Nugroho bertugas menjemput Arief dari Salatiga
dengan mobil ala kadarnya. Saya ingat hijau pekarangan rumahnya dan
harus hati-hati dengan soang yang bebas berkeliaran. Perjalanan cukup
lama dan diisi obrolan santai, serius. Mungkin karena lama di jalan ini,
saya bisa lebih santai melihat seorang Arief Budiman. Mulai dari obrolan
soal tempat makan yang enak hingga udara dan petani Kopeng.
Terus terang saya tidak ingat persis kapan pertama kali bertemu Arief.
Yang saya ingat, dia mengenalkan dirinya, saya Arief. Yang jelas saya
ingat adalah lebih dulu merasa 'mengenal' Soe Hok Gie dari bukunya
‘Catatan Seorang Demonstran’ yang saya baca dibangku SMP 1983 dan dari
cerita sobatnya naik gunung Aristides Katoppo. Bisa jadi saya ketemu
Arief di Sinar Harapan.
Adapun nama Arief Budiman sudah masuk telinga sejak gerakan Golput saya
dengar, juga tentang proyek Taman Mini Indonesia Indah yang diprotes.
Mungkin di Yogya atau Jakarta saya bertemu Arief, entahlah. Sebelum
berinteraksi dengan Arief, saya melihat sosok Hok Gie dengan "adoration"
karena memang bagai legenda. Namun setelah mengenal Arief, saya melihat
sosok yang teduh namun tajam, serius dalam menjalani komitmennya sebagai
intelektual dan juga sama seriusnya menapaki isu-isu sosial,
ketimpangan, budaya, sastra, film, ketidak-adilan, anti fascism serta
seorang demokrat yang juga menjunjung tinggi egalitarian. Bagi saya
Arief lebih jelas dari Hok-Gie.
Yang saya ingat Arief intelektual laki-laki Indonesia pertama yang
setahu saya, memang seorang feminis juga. Ia juga mempromosikan
feminisme dengan membongkar cara pikir yang mengkotak-kotakkan dengan
buku PKSS-nya. Bukunya jelas mengutip pemikiran Engels/The Origin of the
Family, Private Property and the State./Arief bisa jernih melihat
bagaimana keluarga terbentuk karena Arief memang bukan seorang yang
ahistoris.
Maria Pakpahan. (Ist)
Dengan lugas Arief menjelaskan bagaimana PKSS dibangun berdasarkan
konstruksi sosial, dilanggengkan dan konsep gender berlaku. Arief juga
fasih membahas Erich Fromm, Ivan Illich dan tentunya ‘Dependence theory’
Andre Gunder Frank & Cardozo serta juga ‘World System’ nya Immanuel
Wallerstein. Saya beruntung bisa hadir saat Arief jadi nara sumber di
berbagai diskusi mulai dari soal sastra kontekstual hingga soal demokrasi.
Pernah mbak Leila, demikian saya memanggil istri Arief yang sudah lebih
saya kenal lewat kolom psikologinya di Kompas Minggu, FDPY undang
sebagai nara sumber dalam diskusi. Berbagai kegiatan ini membuat saya
merasa tidak berjarak dengan Arief dan mbak Leila.
Disaat yang sama kasus Kedung Ombo terjadi dan ini membuat sebagian
aktivis mahasiswa/i menggalang aksi solidaritas, wara-wiri sana-sini dan
salah satu poros yang aktif adalah Salatiga-Yogyakarta. Mungkin karena
jarak dan unsur ideologi sosialisme membuat poros ini aktif dalam agenda
melawan arogansi kekuasaan Soeharto dan Orde Barunya.
Setiap main ke Salatiga, ya ke UKSW, Yayasan Geni dan ke rumah Arief di
desa Kemiri nan asri teduh. Arief selalu membuka rumahnya, hangat
menerima kami mahasiswa/i yang mampir. Ada juga sosok George Junus
Aditjondro dan Ariel Haryanto di UKSW saat itu./The three musketeers/of
Salatiga. Beda-beda coraknya.
Arief menjadi salah satu rekomendator saya untuk melanjut sekolah di
Belanda dan kemudian menyelesaikan Master dalam Study Pembangunan di ISS
(Institute Social Studies), Den Haag. Arief peduli dengan mereka yang
terdesak. Rekam jejaknya soal ini jelas. Puisi Widji Thukul menjadi
saksi keluhuran budi serta setia kawannya.
Saya juga mengenal Arief yang suka menulis essay, cermat mengamati
budaya lewat film dan karena latar belakang pendidikan psikologynya
berguna dalam menulis review film yang ditontonnya bahkan dalam
penulisan mengenai sastra konteksual, Arief kenal benar psikologis
penulis Indonesia yang mau jadi sastrawan Indonesia tanpa mengenal
pembacanya, seakan Arief sudah hilang kesabaran melihat penulis yang
tak membumi dan terbuai dalam universalisme namun tidak juga menuai
nobel misalnya.
Dalam bahasannya, apakah penulis Indonesia menulis novel yang bisa
dinikmati keindahannya oleh petani misalnya? Bukan berarti jika petani
tidak menikmati novel sastra karya penulis tak berakar membumi ini maka
petani tidak menghargai dan memiliki jiwa kesusastraan. Disini sastra
konteksual menjadi penting dan relevan. Arief Budiman dan Ariel Haryanto
menekankan pentingnya history-socio konteks, sesuai jamannya.
Hubungan sempat terputus saat saya di Belanda. Saat saya kembali ke
Indonesia 1995 dan bekerja di INFID, kembali bertemu Arief dan tetap
kritis, bersahaja dan konsisten melawan Soeharto. Kampus UKSW Salatiga
sendiri melakukan/blunder/pendidikan saat tidak berpihak pada staff
pengajarnya yang kritis dimana Arief salah satunya, kena pecat tahun 1994.
Ini sekitar 1995/97 seingat saya, Arief salah satu advisory board INFID
dan periode ini dia terkadang bisa bicara pakai gue-elu..tentunya bikin
saya/ngakak/mendengarnya. Sementara Asmara Nababan berkau..kau. Belum
lagi ada Kartjono yang jawani dan Gus Dur yang kalau bicara blak-blakan
dan pernah membodoh-bodohkan peserta rapat. Arief pernah kesal dengan
Gus Dur, namun dinasehati oleh Romo Mangun. Kini, Arief sudah bergabung
dengan kawan-kawannya di 'gerakan sosial surga'.
Perjalanan hidup Arief dalam ingatan saya penuh pergelutan, antara
kebebasan serta perjuangan keadilan sosial. Arief juga membaca Soren
Kierkegaard yang dilihatnya "menolak cara beragama secara kolektif tanpa
kebebasan".
Arief yang mempromosikan teori ketergantungan dalam menjelaskan mengapa
negara-negara dunia ketiga tidak akan lepas dari kemiskinan selama
struktur dunia belum berubah, bisa dibilang ada relevansinya hingga kini
walaupun konteksnya berubah karena bukan lagi kategori negara pertama
atau negara ketiga. Bukan pula North vs South, negara Utara lawan negara
Selatan. Lebih kepada ada "utara" di kalangan "selatan" demikian juga
sebaliknya.
Wabah pandemic Covid-19 menjadi ajang terbuka di dunia, bahwa
bagaimanapun, di negara manapun ada yang kaya dan yang miskin jauh lebih
merana, tidak jelas bagaimana mau hidup saat krisis melanda. Tidak bisa
mengandalkan etika atau/charity,/bantuan hati nurani. Disini negara
dibutuhkan, bukan negara yang orientasinya kapitalistik tentunya. Justru
negara yang menekankan commenwealth, persemakmuran, berkeadilan-SOSIAL.
Bukan semata keadilan individual.
Bayangkan jika dalam pandemik Corona ini, negara-pemerintahnya cuci
tangan. Tiap orang diharap/ngurus/dirinya sendiri, tanpa bantuan apapun.
Maka saat lockdown terjadi, yang miskin yang hidupnya sebagai
pekerja/prekariat, zero hours contract/, kerja serabutan akan kehilangan
kerja karena ekonomi menurun./Social distancing/terjadi, akan paling
merana, kelaparan juga. Adapun yang kaya jelas bisa terus survive.
Adapun di kalangan gerakan feminisme, jika saja dialog dengan Arief bisa
dilanjutkan bukan saja soal pembagian kerja secara seksual melainkan
bisa jadi kami berdebat soal/Everyday
Sexism/hingga/Intersectionality/dimana/multiple/opresi yang dialami
perempuan saling tumpang tindih mulai dari kelas sosial, agama,
preferensi orientasi seksual, ras, etnisitas dan seterusnya bisa berada
dan dialami.
Saat saya pulang dari Scotlandia, tahu Arief sudah lama sakit, saya
berniat membezuk,/catching up,/mampir ke Salatiga bersama kakak saya
Damairia, berkunjung ke rumah ekologis Arief dan Mbak Leila, sayang pas
tidak ada, sedang keluar kota. Namun kenangan, pertemuan, diskusi,
debat, ledekan serta teladan yang sudah diberikan, ditunjukkan Arief
Budiman sudah jauh lebih cukup. Selamat jalan Arief nan Budiman, panjang
sudah jalanmu, bebaslah dari sakitmu sejak 23 April 2020 lalu. Salam
merdeka dari Edinburgh nan jauh.