Lima Taktik AS Tanggap Krisis
2020-04-28 17:45:41 * CRI*
Yale Climate Connections dalam sebuah analisanya mengidentifikasi adanya
“taktik” yang dipatuhi pemerintah AS tatkala menghadapi wabah virus
corona, yang mirip dengan naskah taktiknya saat menghadapi perubahan
iklim, alias lima taktik penolakan atau penyangkalan sains.
*Taktik pertama, *menyangkal eksistensinya.
Pada saat ketika virus corona pertama kali terdeteksi di AS, Presiden
Donald Trump menyindir perhatian masyarakat seputar virus itu sebagai
“hoaks”.
Terdengar semiliar? Inilah apa yang dikatakan Presiden Trump pada tiga
tahun lalu ketika merujuk kepada perubahan iklim.
Pada setiap kali menghadapi ancaman, “hoks” tampaknya menjadi respons
yang segera teringat. Pura-pura masalah tidak ada, namun hal ini tidak
akan mengubah realitas, apa lagi pandemi yang mematikan ini akan
mengungkapkan kenyataannya. Anda kami ajak ke taktik keduanya.
*Taktik kedua,* menolak tanggung jawabnya.
Semenjak wabah COVID-19 mengakibatkan puluhan ribu warga meninggal,
pemerintah AS pun mulai bergerak dengan menimpakan kesalahan kepada
negara lain. Tiongkok dan WHO adalah dua sasaran yang mudah diserang.
Pejabat tinggi AS sudah berulang kali menuduh Tiongkok “menyebarkan
virus” dan WHO “berbuat segala kesalahan” dalam penanganan pandemi COVID-19.
Di matanya, Tiongkok harus bertanggung jawab atas segala ancaman yang
dihadapi AS. Justru seperti apa yang terjadi ketika AS menanggapi
perubahan iklim. “Tiongkok, India, Rusia dan banyak negara lainnya tidak
memiliki udara yang segar, juga tidak memiliki sumber air yang memadai.
Mereka tidak bertanggung jawab dalam hal ini.” Inilah apa yang
dilontarkan Trump setelah sebelumnya mengakui pemanasan global sebagai
isu yang harus ditangani secara serius.
Pandai mengelakkan diri dari tanggung jawab tidak berarti bisa
memecahkan masalah. Oleh karena itu, mari kita lihat taktiknya *yang
ketiga*.
Ketika COVID-19 menyebar dengan laju yang cepat, Trump tetap bersikap
optimis. “Virus itu akan lenyap. Suat hari akan hilang seperti
keajaiban,” demikian ujar Trump kepada masyarakat.
Rasa optimisme sama juga terjadi ketika AS terlibat dalam isu perubahan
iklim. Tidak hanya Trump, kaum awak media konservatif telah
bertahun-tahun meyakinkan masyarakat bahwa perubahan iklim bukanlah
masalah serius. Akan tetapi, seiring dengan situasi terus memburuk dan
kenyataan menjadi semakin meruncing, para politikus AS mau tak mau harus
menerapkan taktik keempat.
*Taktik keempat:* Menyerang segala solusi yang ada.
Social distancing sudah terbukti efektif di sejumlah negara. Akan
tetapi, para politikus AS tidak rela berbuat demikian karena pendekatan
tindakan itu akan membuat AS membayar mahal, sama seketika AS menerapkan
langkah-langkah skala besar untuk penanganan perubahan iklim. Dibanding
solusi-solusi yang membutuhkan langkah tegas, mereka lebih rela
mengambil langkah-langkah yang kurang ketat, semisal tidak menyentuh
wajah di tengah penularan wabah virus corona dan menanam pohon ketika
merujuk pada masalah perubahan iklim.
Tanpa adanya aksi yang tegas, krisis wabah terus merebak. Sampailah
waktunya mereka beranjak ke taktik kelima.
*Taktik kelima:* Terlanjur mengambil aksi.
Kenyataannya adalah sudah terlalu terlambat untuk mengambil aksi.
Presiden Trump ingin membuka kembali negara dan ekonominya seraya kasus
meninggal akibat COVID-19 masih terus meningkat.
Ketika negara lain berusaha memerangi virus corona dengan sekuat tenaga,
pemimpin tertinggi AS malah masih terus mengulangi taktiknya yang
tertuang dalam naskah lama ketika menghadapi perubahan iklim. Dalam hal
mematuhi naskah lama, mereka pantas diberikan angka penuh, namun
kinerjanya yang buruk masih jauh dari memenuhi permintaan masyarakat AS.