Bg. Chan, apakah ada terjemahan dalam bahasa Inggris.
Salam, lin
On Tue 28 Apr, 2020, 7:19 PM ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45], <[email protected]
<mailto:[email protected]>> wrote:
*<<Inilah Tiongkok>> ke-52:*
* Kebijaksanaan Garis Politik Rakyat Tiongkok*
•<https://www.guancha.cn/ZhangWeiWei>*Zhang WeiWei:* Profesor
Universitas Fudan, Dekan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan
Anggota Riset Institut Penelitian Strategi Pengembangan Musim
Semi-Gugur
•<https://www.guancha.cn/WangShaoGuang>*Wang Shaoguang:* Profesor
Universitas Tsinghua, Profesor Emeritus Chines Universitas Hong Kong
2020-04-26
Sumber: Guan Cha-Net
https://www.guancha.cn/ZhangWeiWei/2020_04_26_548268_s.shtml
https://www.youtube.com/watch?v=McqdyN6PPPs
Diterjemahkan Oleh: *ChanCT*
【/Pemikiran politik Tiongkok menitik-beratkan pada Garis-Politik,
dengan bijaksana lebih dahulu memperjelas Garis-Politik, berangkat
dari Garis-Politik lebih lanjut mendalami sistem politik atau
pemerintahan./
/Cara berpikir orang Barat berdasarkan sistem politik, sedang
sistem politik hanyalah bagian sangat kecil dari Garis-Politik.
Jadi, Garis-Politik merupakan cara berpikir yang lebih besar dari
sistem politik./
/Segala Garis-Politik merupakan gabungan sistem politik yang lebih
besar dan kompleks. Jadi, ketika anda memandang perkembangan
sistem politik yang kompleks dengan pemikiran sistem politik
komunitas yang sederhana, itu pasti menjadi omong kosong saja.
Karena segala sistem politik dalam skala besar dari komunitas yang
kompleks adalah rumit. Dunia ini sangat rumit, politik adalah
sangat rumit. Jadi, saat kita memandang dunia, kita juga harus
memandang dan menjawabnya dengan mata yang rumit./
/Tanggal 6 April yang lalu, Acara *<<Inilah Tiongkok>>* ke-52 yang
diselenggarakan Oriental Satellite TV, dengan nara sumber Profesor
*Zhang Weiwei*, dari Universitas Fudan, Dekan Akademi Ilmu
Pengetahuan Tiongkok dan Anggota Riset Institut Penelitian
Strategi Pengembangan Musim Semi-Gugur, dan Profesor *Wang
Shaoguang*, Profesor Universitas Tsinghua, Profesor Emeritus
Chines Universitas Hong Kong, berdiskusi bersama "Kemampuan Negara
Mengelola" yang berbeda antara Timur dan Barat. GuanCha Network
mengedit acara TV untuk para pembaca./】
这就是中国】中国人自古以来,就把“政道”放在“政体”之上_哔哩哔哩(゜ ...
*Zhang Weiwei:*
Desember tahun lalu, meledak pemogokan nasional berskala besar di
Prancis, jutaan orang turun ke jalan dan angkutan umum lumpuh.
Alasan pemogokan itu disebabkan Presiden Macron ingin mereformasi
sistem pensiun Prancis. Pada awal sistem pensiun Prancis dibentuk,
dirancang bagi tingkat atas, dan sekarang ada 42 jenis. Kuncinya
adalah pemerintah Prancis mengalami defisit dalam jangka panjang,
sedang sistem pensiun semakin menjadi beban yang tak lagi mampu
didukung pemerintah. Dari apa yang kami ketahui, Macron ingin
menyederhanakan sistem pensiun Prancis dengan menunda usia
pensiun, tetapi segera menyebabkan pemogokan umum melanda dinegara
itu. Faktanya, ada masalah yang lebih besar di belakangnya:
Ekonomi Perancis telah lesu sejak lama, kebanyakan orang belum
meningkatkan pendapatan nyata selama 20 tahun terakhir, dan
tingkat pengangguran tetap tinggi untuk jangka penjang.
Saya sering melihat jajak pendapat Ipsos. Setiap kali melihat
judul Pertanyaan: Apakah negara anda sudah berada di jalur yang
benar? Ternyata hanya 10-20% orang Prancis dalam beberapa tahun
terakhir ini merasa dan berpikir negara mereka berada di jalur
yang benar. Tahun 2017, di Belanda, saya berdebat dengan filosuf
Perancis Bernard Henry Levi, yang menuduh Tiongkok melakukan
pelanggaran HAM besar-besaran. Saya menyatakan, "Pikirkan urusan
kalian sendiri sajalah!" Jaga urusan kalian sendiri. Saya
perhatikan ditahun 2016, jajak pendapat Ipsos, 90% orang Tiongkok
merasa negara mereka berada di jalan yang benar, sementara orang
Prancis hanya 11% yang merasa negara mereka berada di jalan benar.
Saya bertanya padanya, kalau 89% orang Prancis merasa negara
mereka berada di jalan yang salah. Sudahkah Anda meneliti berapa
banyak ketidak puasan yang terjadi dan apakah itu sesuai dengan
hak asasi manusia?
Mengenai Amerika Serikat, saya ingat kami di acara ini juga pernah
membicarakan, saat Presiden Obama berkuasa, slogan yang diajukan
reformasi. Setelah lewat 8 tahun kemudian, reformasi asuransi
kesehatan yang susah payah digerakkan, tetapi oleh Trump begitu
menjabat Presiden segera dibatalkan, sama saja tidak ada
perubahan! Yang ingin saya katakan adalah, di dunia sekarang ini,
negara-negara sebenarnya menghadapi banyak tantangan dan semua
perlu reformasi. Prancis membutuhkan reformasi, negara-negara
Eropa membutuhkan reformasi, Amerika Serikat membutuhkan
reformasi, dan Tiongkok juga perlu reformasi, tetapi mungkin hanya
Tiongkok yang benar-benar bisa melakukan reformasi. Karena
reformasi harus mengatasi halangan kepentingan pribadi.
Di Barat tidak partai politik demi kepentingan keseluruhan seperti
Partai Komunis Tiongkok, yang ada di Barat hanyalah partai-partai
mewakili kepentingan kelompok sendiri-sendiri. Oleh karena itu,
sulit berdasarkan kepentingan keseluruhan rakyat mengatasi
rintangan berbagai kepentingan kelompok. Di negara-negara Barat,
sering kali kali yang menjalankan reformasi dipukul mundur, atau
hanyalah suara keras reformasi menggelegar seperti guntur tapi tak
turun hujan, jadi tidak ada yang berubah membaik.
Januari lalu saya menghadiri pertemuan Davos, Swiss. Ketika itu,
saya melihat daftar peserta sidang, politikus kekuatan Barat
hampir semua ada di sana, tetapi disaat terakhir, ternyata
Presiden Trump tidak bisa hadir, karena pemerintah AS sedang
melalui Pemerintahan ditutup terpanjang dalam sejarah. Presiden
Trump, yang sudah 73, dan Ketua Dewan Perwakilan AS, Pelosi, 79,
saling tengkar. Ketua Dewan menutup pemerintah dan mencegah
Presiden membuat laporan atas nama Negara, melarang Presiden
menggunakan hak istimewa presiden dan berpergian gunakan pesawat
khusus. Jadi seperti anak kecil yang bertengkar di rumah. Theresa
May, Perdana Menteri saat itu, karena Brexit sangat kecewa juga
tidak dapat menghadiri pertemuan itu. Pada saat itu, gerakan
protes "Rompi Kuning" besar-besaran meledak di Prancis, Presiden
Macron dibuat sibuk untuk mengatasi, juga tidak bisa hadir.
3 pemimpin utama dari kekuatan Barat yang semula sudah dijadwalkan
hadir, tidak dapat menghadiri pertemuan karena krisis politik
dalam negeri. Karena itu, dalam pidato forum itu, saya berbicara
tentang perlu reformasi politik di negara-negara Barat. Saya
perhatikan ketika saya mengatakan begitu, tawa terbahak datang
dari bawah. Karena di masa lalu, Barat lah yang selalu menggunakan
istilah Reformasi politik menyodok negara-negara sosialis, tapi
sekarang justru membalik ke Barat, Angin Timur dengan "Express"
jitu mengenai sasaran, sangat bagus.
Kenyataannya, semakin banyak orang Barat memahami tanpa reformasi
politik, negara-negara Barat akan merosot sepanjang jalan. Tahun
lalu, di Forum Davos, juga dilangsungkan sebuah konferensi khusus
dengan topik "Apa yang harus dilakukan pengusaha dalam menghadapi
tata kelola negara umumnya menurun? Menghadapi krisis bertubi-tubi
yang makin berat dan tidak bisa jalankan reformasi, apa penyebab
sesungguhnya?", membahas dibawah kemerosotan umum kemampuan tata
kelola negara-negara Barat dan munculnya kekuatan populisme,
inilah masalah besar yang dihadapi Barat.
Hari ini, saya hanya ingin memulai dari sudut pandang rakyat
Tiongkok dan berbicara tentang Garis-Politik dan pandangan
Sistem-Politik rakyat Tiongkok, atau yang dikatakan kebijaksanaan
Garis-Politik Rakyat Tiongkok ini. Topik ini, pandangan sarjana
Tiongkok Mou Zongsan dan Wang Shaoguang yang hadir saat ini cukup
representatif. Mou Zongsan pernah menulis sebuah buku berjudul
"Garis-Politik dan Kelola Pemerintahan" (“Politics and
Governance”). Beliau mendefinisikan politik sebagai doktrin
kekuasaan politik, menganggap politik Tiongkok selalu lebih
mementingkan tata kelola dari pada garis-politik.
Sedang Prof. Wang Shaoguang dengan buku "Garis-Politik Tiongkok",
dan saya pribadi mendukung pandangan Prof. Shao Guang. Prof. Shao
Guang menunjukkan tradisi Tiongkok sangat mementingkan
Garis-Politik, sementara tradisi Barat lebih memperhatikan
Sistem-Politik. Yang dimaksudkan Garis-Politik adalah Tujuan dan
Konsep pemerintahan negara dalam tata kelola dengan berfokus pada
hasil aktual yang terjadi. Para pemikir tradisional Tiongkok telah
melakukan berbagai diskusi mendalam tentang Garis-Politik, baik
itu dari Konfusianisme, legalisme, Taoisme, atau Mohistme, ada
banyak pandangan dan ekspresi yang representatif, seperti etika
kekuasaan negara, kekuasaan monarki, kekuasaan anarkis dll. Sedang
Negara-negara Barat beranggapan Sistem-Politik adalah yang paling
penting. Pemerintahan mengacu pada sistem politik, bentuk dan
prosedur, dll., Dengan demikian muncullah kerangka analisa yang
disebut "Demokrasi atau Otokrasi", bahkan memaksakan kerangka
tersebut diterapkan untuk Tiongkok. Tanpa melihat dunia yang kami
hadapi sangat kompleks, tidak mampu menjelaskan dunia aneka ragam.
Biarlah nanti Prof. Shao Guang sendiri menjelaskan pandangannya
kepada kita semua.
Karena tradisi penelitian politik Barat diletakkan pada
Pemerintahan dengan lebih memperhatikan sistem politik, lebih dari
400 tahun yang lalu, setelah misionaris Italia Matteo Ricci tiba
di Tiongkok, jadi pusing kepala saat membaca sistem politik
Tiongkok. Dalam buku "Notes of Matteo Ricci", beliau terjebak
dalam dilema. Dengan dasar pandangan sistem klasifikasi filsafat
Yunani kuno, Aristoteles. Sebagaimana kita ketahui, Aristoteles
struktur politik dunia terbagi menjadi dua kategori, yang satu
otentik dan merupakan sistem politik yang baik, sedang sistem
politik yang lain sesat dan tidak baik. Sistem yang baik dibagi
menjadi tiga jenis: monarki, aristokrasi, dan republik.
Kemudian, Matteo menemukan bahwa ada seorang kaisar di Tiongkok,
dalam pengertian ini, kaisar Tiongkok yang seharusnya dianggap
kekuasaan monarki, ternyata di Tiongkok, birokrasi hasil pemilihan
dari ujian dan pemeriksaan ketat kekaisaran, jadi jelas bukan
pemerintahan Monarkis. Tapi, lebih mendekati Pemerintahan
Bangsawan. Namun kemudian, tetap dirasakan ternyata keliru.
Birokrasi di Tiongkok jelas berbeda dengan bangsawan Eropa. Status
birokrat di Tiongkok tidak turun-temurun, tetapi diperoleh melalui
ujian pemeriksaan kekaisaran. Jadi Matteo akhirnya berpikir bahwa
Tiongkok mungkin lebih dekat dengan pemerintahan demokratis.
Tetapi berdasarkan klasifikasi Aristoteles, demokrasi termasuk
dalam pemerintahan yang kurang baik, yang hampir setara dengan
pemerintahan bandit.
Perbedaan sikap budaya Garis-Politik dan Kekuasaan Pemerintahan
Tiongkok dan Barat, mungkin berasal dari perbedaan sejarah dalam
peta tata kelola dikedua pihak. Dipandang dari jumlah populasi,
sebagian besar negara-kota Yunani kuno hanyalah setara dengan desa
dan kota-kabupaten di Tiongkok saja, dan dengan sementara bentuk
pemerintahan tetap saja sudah dapat memecahkan masalah yang mereka
hadapi. Namun, bagi satu negara Tiongkok yang jauh lebih besar,
politikus jarang berpegang pada pemerintahan tertentu, tetapi
berfokus pada tujuan dan konsep pemerintahan, cara pembentukan
pengaturan dan kelembagaan mereka sendiri di sekitar ini. Oleh
karena itu, secara historis, pengadilan kekaisaran Tiongkok
terkadang menekankan aturan hukum, kadang-kadang menekankan
moral-etika, bahkan terkadang Peraturan dengan tidak berbuat
apapun, dan sebaliknya kombinasikan berbagai cara bersamaan, dll
sesuai dengan situasi dan tahapan yang berbeda.
Tetapi secara menyeluruh, Tiongkok jelas menempatkan Garis-Politik
di atas Pemerintahan. Dengan kata lain, pemerintahan negara harus
terlebih dahulu jelas Garis- Politik, dari Garis-Politik berlanjut
mendalami pemerintahan, membangun sistem politik, mereformasi
sistem politik, dan memperbaiki sistem politik, dan bukan
sebaliknya. Metode pemikiran Garis-Politik dan etika semacam ini
tak perlu diragukan lagi merupakan kebijaksanaan utama bagi
Pemerintahan Tiongkok.
Pada 1980-an, pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping pernah mengatakan,
untuk menilai kualitas sistem politik suatu negara tergantung pada
tiga standar utama.
*Pertama,*apakah situasi politik nasional stabil,
*kedua*, bisa tidak meningkatkan persatuan rakyat dan meningkatkan
kehidupan rakyat. Patut dicatat, Kamerad Xiaoping mengaitkan
persatuan rakyat dan peningkatan kehidupan masyarakat. Kesatuan
tersebut sangat penting. Dari pengalaman kebangkitan Tiongkok,
ditengah proses "Musim Semi Arab" ke "Musim Dingin Arab", dari
kekacauan politik yang terjadi di Taiwan dan Hong Kong terakhir
ini, hingga kerusuhan teror merajalela dari "tiga unsur kekuatan"
yang pernah terjadi di Xinjiang negara kami, dapat terlihat bahwa
persatuan rakyat terkait erat dengan kualitas hidup rakyat. Tanpa
persatuan rakyat, yang terlihat adalah penderitaan hidup rakyat
banyak, dan bahkan bencana kepunahan.
Yang *ketiga*, tergantung apakah tenaga-produksi dapat terus
berkembang lebih lanjut.
Saya pribadi berpendapat, 3 standar Deng Xiaoping tersebut juga
bisa dikatakan sebagai standar pemikiran Garis-Politik.
Ketiga standar politik ini bisa juga digunakan untuk perbandingan
internasional. Jika kita menggunakan ini untuk menilai
negara-negara yang mengadopsi model Barat "Musim Semi Arab", maka
kinerjanya akan buruk bahkan menjadi bencana besar. Situasi
politik nasional terus bergejolak, rakyat terpecah belah, mata
pencaharian rakyat lebih sulit, dan beberapa negara terjebak
kedalam perang saudara menyeluruh, bahkan hancur berantakan,
dengan tenaga produksi terpukul rusak parah. Kita juga dapat
menggunakan ketiga standar politik tersebut untuk menganalisis
negara-negara Barat sekarang ini, dimana stabilitasnya sudah tidak
sebaik dahulu. Meskipun sebagian besar dari mereka belum jatuh ke
dalam kekacauan menyeluruh, karena sebagian besar negara-negara
ini masih memiliki simpanan makanan untuk dimakan, termasuk
peninggalan akumulasi kekayaan ratusan tahun lalu, Kekayaan hasil
rampasan sepanjang sejarah koloni yang terakumulasi dll. Kekayaan
lagi.
Tetapi rakyat di sebagian besar negara-negara barat tidak lagi
bersatu dengan baik, masyarakat berubah menjadi terbelah, dan
pendapatan aktual rakyat umumnya tidak meningkat dalam 20 tahun
terakhir ini bahkan lebih lama lagi. Negara-negara mereka telah
jatuh ke dalam krisis keuangan, krisis hutang, dan krisis ekonomi,
dan tenaga produksi menderita kerusakkan. Singkat kata, situasi
sangat buruk.
Kita boleh kembali ke pertanyaan didepan, tentang perbandingan
kemampuan reformasi. Model demokrasi Barat berfokus pada bentuk
dan prosedur, seolah-olah kalau saja bentuk dan prosedur sudah
benar, suatu negara dapat melakukan segala sesuatu dengan
sempurna, selalu beres. Akibatnya, model demokrasi Barat semakin
dogmatis dan kaku, itulah sebabnya sistem demokrasi Barat sekarang
ini sulit untuk direformasi, tidak hanya karena negara-negara
Barat tidak memiliki partai demi kepentingan umum, tetapi juga
karena mereka tidak memiliki tradisi pemikiran Garis-Politik, jadi
kesulitan beranjak dari tujuan yang lebih besar dan lebih tinggi.
Untuk memeriksa berbagai kekurangan sistemnya sendiri, mempersulit
reformasi dijalankan. Dengan perbandingan ini, Tiongkok selalu
berfokus pada tujuan dan hasil, mendasarkan Garis-Politik,
sehingga Tiongkok dapat dengan berani mengungkap bentuk dan
prosedur demokratis yang sesuai dengan kondisi nasionalnya sendiri
dan lebih lanjut meningkatkan reformasi yang dijalankan. Jalan
demikian ini bisa dikatakan makin dijalani makin luas.
Hari ini, modernisasi sistem tata kelola nasional dan kemampuan
tata kelola adalah topik yang sangat hangat. Keputusan Sidang
Pleno Ke-4, Kongres k-19 Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok
tentang masalah ini, dengan sangat baik menampilkan menifestasi
sikap rakyat Tiongkok terhadap Garis-Politik dan pemerintahan. Di
tingkat Garis-Politik, "Keputusan" ini dengan jelas menyatakan
untuk perbaikan sistem sosialisme berkarakter Tiongkok, untuk
merealisasi tujuan besar "dua kali seratus tahun"[1]
<#m_4155672204283210975__ftn1> peremajaan besar bangsa Tiongkok,
untuk menjamin stabilitas politik, perkembangan ekonomi,
Kemakmuran budaya, persatuan nasional, kebahagiaan rakyat,
ketenangan sosial, dan persatuan nasional, kita harus mewujudkan
modernisasi sistem tata kelola negara dan kemampuan tata kelola di
setiap tingkat pemerintahan. "Keputusan" ini sangat menegaskan 13
keuntungan signifikan dari sistem tata kelola nasional Tiongkok.
Setiap kisah itu merupakan tata kelola Tiongkok yang luar biasa
yang dapat bertahan di perbandingan internasional. Atas dasar
sepenuhnya menegaskan manfaat dari sistem tata kelola nasional
Tiongkok, "Keputusan" dengan jelas menyatakan apa yang harus kita
patuhi dan apa yang harus diperbaiki, dan menetapkan jadwal
modernisasi kemampuan tata kelola sistem tata kelola pemerintah.
Singkat kata, dari sudut pandang perbandingan historis, pemikiran
politik Tiongkok berfokus pada lebih dahulu memperjelas
Garis-Politik, dan kemudian dimulai dari Garis-Politik menganalisa
sistem politik. Ini adalah kebijaksanaan yang hebat.
Mengambil contoh demokrasi, Barat nyaris menyamakan demokrasi
dengan demokrasi prosedural, yang disebut sistem multi-partai dan
sistem pemilihan umum. Sedang Tiongkok bagaimanapun, lebih
memperhatikan demokrasi substantif dan tujuan demokrasi melayani,
yaitu mewujudkan pemerintah efektif dan pemerintahan yang baik.
Dimulai dari Garis-Politik, terus menerus menganalisa pengaturan
sistem kelembagaan khusus mengamati kondisi rakyat dan kondisi
nasional. Kebijaksanaan Garis-Politik rakyat Tiongkok ini tidak
hanya memberikan kemampuan melaksanakan reformasi yang jauh lebih
tinggi daripada Barat, tetapi juga memperkaya peradaban politik
manusia.
Semua orang tahu bahwa ada kebiasaan di banyak tempat didunia,
disetiap akhir tahun, memilih satu huruf untuk merangkum situasi
tahun lalu. Belum lama ini, di Taiwan mengumumkan hasil pemilihan
huruf di tahun 2019. Tahukah Anda huruf apa itu? “Kacau”. Nah,
huruf "Kacau" keluar dipringkat atas. Huruf apa diperingkat kedua?
“Bohong”. Lalu huruf apa diperingkat ketiga? "Khawatir" yang
berarti kecemasan. Salah seorang yang merekomendasikan huruf
"Kacau" adalah sutradara film terkenal Li An. Ketika sampai pada
mengapa kata "Kacau" yang dipilih, beliau menyatakan, sudah jelas
kondisi Taiwan sangat tegang. Jadi, beliau berharap semua orang
menarik pelajaran dan akhirnya satu tahun bisa mencapai Kata
"harmoni" jadi harmonis dapat dicapai. Mengenai demokrasi di
Taiwan, kami pernah melangsungkan acara dengan topik tsb, dan
telah disambut dan dipuji oleh banyak penonton. Saya tidak
mengulang lagi sini.
Namun, jika kita melanjutkan topik Garis-Politik, kita dapat
mengatakan suatu masyarakat akan kehilangan kebijaksanaan
Garis-Politik, saat hanya tenggelam dalam pusaran sistem politik,
maka masyarakat akan kehilangan pemahaman menyeluruh tentang
"jalan tepat kemanusiaan". Akhirnya, ditengah masyarakat sering
kali terjadi pengertian 3 huruf itu: "kacau”, “dusta”, “khawatir".
Saat itu, dunia bukan hanya Taiwan, tetapi juga situasi di
negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris serupa.
Sekian saja yang bisa saya sampaikan hari ini. Terima kasih,...
张维为、王绍光:中国人的政道智慧_星火智库
*Wang Shaoguang:*
Baru saja Zhang Weiwei menyatakan bahwa Barat mungkin perlu
reformasi politik. Saya berpendapat, reformasi politik mungkin
tidak akan berhasil, karena cara berpikir telah berubah. Dalam
dekade terakhir ini, saya pernah mengatakan bahwa orang Tiongkok
dalam sejarah ribuan tahun saat berpikir masalah politik, begitu
juga orang Barat dalam sejarah ribuan tahun berpikir masalah
politik, tetapi setelah diteliti lebih lanjut, ternyata ada
perbedaan mencolok dalam cara dan metode berpikir. Prof. Zhang
menyatakan, cara berpikir orang Tiongkok disebut cara berpikir
Garis-Politik, sedang orang Barat disebut cara berpikir
Sistem-Pemerintahan, seberapa besar perbedaan cara berpikir
seperti ini? Mari, saya beri satu contoh pada Anda :
Pada awal abad ke-21, Zhang Jiadun, seorang Tionghoa di Amerika
Serikat menulis buku "Tiongkok Segera Akan Runtuh". Dia meramalkan
bahwa Tiongkok akan runtuh. Mestinya "Segera Akan" dalam hitungan
berbulan-bulan, berhari-hari, atau paling lama juga beberapa
tahun, tetapi ternyata sudah lebih 20 tahun kemudian, "Segera
Akan" itu belum juga terjadi. Dia kemudian berulang kali
meramalkan bahwa Tiongkok akan runtuh pada 2005 dan 2012, tetapi
tidak ada yang runtuh. Zhang Jiadun bukan orang pertama, bahkan
sejak Republik Rakyat Tiongkok berdiri, sudah ada orang yang
meramalkan bahwa Tiongkok akan runtuh.
Baru-baru ini saya melihat laporan di Caixin.com, seorang profesor
terkenal di Institut Teknologi Massachusetts, Daron Asimoglu,
mengatakan bahwa ekonomi Tiongkok baik-baik saja, tetapi jika
sistem politik Tiongkok tidak diubah demokrasi, itu tidak mungkin
berlanjut.
Apa arti pandangan Zhang Jiadun dan profesor MIT itu? Mereka
memakaikan topi pada Tiongkok, sistem otoriter atau diktatur.
Dalam satu kata dan satu topi, sejarah ribuan tahun Tiongkok
dirangkum sepenuhnya, jadi apa gunanya topi ini? Dia merasa bahwa
Anda tidak bisa menjadi lebih baik dengan otoriterisme itu.
Artinya, sistem politik menentukan segalanya dan, segala sesuatu
termasuk negara itu runtuh, juga termasuk apakah ekonomi dapat
tidak tumbuh selanjutnya.
Barat memandang diri sendiri juga dari sudut sistem politik,
yaitu, bentuk sistem politik, yang umumnya diukur dengan satu atau
dua indikator. Baru saja Zhang Weiwei menyebut Aristoteles,
Argumen Aristoteles yang sangat penting adalah menggunakan aturan
beberapa orang penguasa sebagai indikator untuk mengukur sistem
politik, tetapi itu bukan pikirannya sendiri, begitu juga lah
gurunya Plato berpikir. Namun, Aristoteles juga masih ada kriteria
lain, apakah pemikiran orang-orang ini keluar dari kepentingan
publik atau egois. Dua indikator ini membagi semua kebijakan. Dari
Plato dan Aristoteles di Yunani kuno hingga Abad Pertengahan,
termasuk para pemikir sesudahnya, mereka menggunakan analisa
sistem politik.
Cara berpikir demikian ini sangat sederhana dalam melihat dunia,
pada dasarnya adalah terbelah dua, sistem politik demokratis atau
otoriter, sistem demokrasi terbuka dan harmonis, sedang sistem
otoriter adalah penindasan dan penganiayaan. Dengan demikian hasil
pelaksanaan yang terjadi, tidak peduli berapa banyak masalah yang
terjadi di sistem demokrasi, tidak akan runtuh; sebaliknya, tidak
peduli seberapa baik sistem otoriter yang dijalankan, keruntuhan
tidak bisa dihindari, itulah kesimpulan Zhang Jiadun, begitu juga
dengan Profesor Institut Teknologi Massachusetts yang menyatakan
tidak peduli seberapa baik pertumbuhan ekonomi Tiongkok, pasti
tidak akan berlanjut.
Saya berpendapat, cara berpikir sistem politik begini adalah
racun. Berdasarkan logika demikian, yang saya katakan tadi, bahwa
Barat mungkin perlu reformasi, tetapi saya tidak akan berpikir
melakukan reformasi di luar pemerintahan. Dia hanya akan menemukan
solusi dalam kotaknya sendiri, jadi jika dia tidak mengubah cara
pemikiran, reformasi politik tidak akan terjadi perubahan.
Sebaliknya, cara berpikir orang Tiongkok berbeda dari cara
berpikir Barat, yang telah terjadi sejak zaman kuno. Di era
sebelum Dinasti-Qin, apakah itu Konfusianisme, Legalisme, Taoisme,
Mohistisme, atau aliran lain, sebuah kata sering kali disebut
"Tao"(“道”). Mencius, misalnya, berulang kali menyebut "Tao",
"Jalan Keadilan mendapat dukungan, Jalan sesat kehilangan
dukungan." Di satu sisi, "Tao" mengacu pada tujuan akhir
tata-kelola negara dan pemerintahan, di sisi lain, mengacu pada
jalan yang harus ditempuh, jejak-langkah, cara, metode. Dengan
adanya cara dan metode baru ada jalan. Tanpa ada cara dan metode
tak bisa nemukan jalan. Oleh karena itu, Konfusianisme mengatakan
bahwa tujuan tertinggi adalah orang-orang yang mulia, dengan
menempatkan rakyat pada posisi tertinggi; Lalu, apa sarana untuk
mencapai tujuan ini? Etika, Aturan dan Hukum. Namun, kelompok
legalisme berbeda dari Konfusianisme, tujuan legalisme adalah Raja
yang mulia, Raja itu sangat penting, dan sarana adalah aturan
hukum. Kaum Mohisme memiliki tujuan akhir dari kaum Mohisme dan
memiliki sarana untuk mencapainya, demikian pula Taoisme. Dari
zaman kuno hingga sekarang, dari Kaisar ke Pejabat, ke Pemikir, ke
Filosuf, ke Sejarawan, Tiongkok telah memandang masalah politik
selama ribuan tahun selalu menjadikan “Garis”, “Jalan” atau "Tao"
itu sebagai tujuan akhir dan juga sarana.
Jadi dengan cara apa berpikir tentang politik, saya berpendapat
itu sangat menentukan. Sistem-politik/Pemerintahan hanyalah bagian
sangat kecil dari Garis-Politik karena hanya diukur dengan satu
atau dua indikator. Sedang Garis-Politik adalah cara berpikir yang
mencakup sistem pemerintahan yang lebih besar, dengan
mempertimbangkan tujuan akhir dan cara melakukan berbagai hal,
termasuk bagaimana membangun berbagai sistem.
Perusuh HK menguasai jalan dan menyerang Polisi
Sangat disayangkan, dalam beberapa dekade terakhir, tidak hanya
orang Barat yang terbiasa berpikir dengan sistem politik, tetapi
juga sementara orang di Tiongkok atau negara berkembang di Timur
juga berpikir dengan sistem politik, sehingga terjadi apa yang
disebut "Musim Semi Arab". Karena mereka ingin mengubah sistem.
Seperti halnya juga banyak orang Hong Kong merasa ingin terlibat
dalam apa yang disebut "Pemilihan universal sejati". Saya sering
mengatakan selama mengajar ilmu politik puluhan-tahun, tidak
pernah tahu apa artinya "Pemilihan universal sejati" itu. Jika
Anda mengatakan Pemilu Amerika Serikat adalah "Pemilihan universal
sejati" Pemilu Prancis jadi bukan "pemilihan umum sejati"! Pemilu
di negara-negara lain juga bukanlah "pemilihan universal sejati".
Apa itu "Pemilihan universal Sejati"? Tidak ada hal seperti itu!
Dalam hal pemikiran sistem politik, tampaknya meneriakkan slogan
ini sederhana, tetapi dalam hal pemikiran politik, itu hanyalah
omong kosong.
Jadi, mengapa cara berpikir Barat dengan Sistem-Politik, sedang
cara berpikir Tiongkok dengan Garis-Politik? Alasannya mungkin
sangat sederhana: Yunani kuno yang dipahami banyak orang
sebenarnya adalah dua negara kota Yunani kuno, Athena dan Sparta.
Athena relatif besar, dengan sekitar dua hingga tiga ratus ribu
orang. Tetapi pada kenyataannya, ada ribuan negara-kota kecil di
Yunani kuno, dan banyak negara-kota hanyalah sebuah desa di
Tiongkok. Model demikian ini bisa disebut komunitas sederhana.
Setelah lama hidup di desa ini, merasa desa lain tidak enak
dipandang, saya akan mengatakan pemerintahan seperti apa disitu,
dan pemerintahan apa didesa ini. Namun, Tiongkok setelah Periode
Negara Perang, Musim Semi-Musim Gugur, skala dan jumlah
negara-negara lokal telah banyak menurun. Di masa lalu, ketika
Dinasti Xia dan Shang ada 3.000 negara, jadi hanya lebih seratus
negara yang tersisa. Dengan skala yang jauh relatif lebih besar.
Komunitas sederhana menggunakan pemikiran sederhana, sedang
komunitas kompleks juga harus menggunakan pemikiran kompleks.
Faktanya, sudah ada kejadian di Barat yang menggambarkan bahwa
menggunakan pemikiran sederhana untuk mempertimbangkan komunitas
kompleks akan terjadi masalah. Pada periode Romawi, Roma pada
awalnya hanyalah sebuah kota kecil, dan secara bertahap
berkembang. Pada saat itu, seorang Yunani ditangkap dan dikirim ke
Roma. Dia menggunakan metode analisis Yunani untuk menganalisis
Roma, dan dia tidak berhasil menganalisisnya. Ini agak seperti
dikatakan Zhang Weiwei kepada guru Ricci saat memandang Tiongkok
dan tidak berhasil menganalisisnya.
Bahasa Yunani memandang Roma dengan cara yang sama, seolah-olah
segalanya salah, sedikit seperti Monarki, sedikit seperti sistem
Bangsawan, dan sedikit seperti sistem Demokrasi. Kenyataan harus
ditandaskan, saat menganalisa pemerintahan besar, komunitas
kompleks, adalah pemerintahan kombinasi yang juga rumit. Pada saat
Anda harus memandang dengan cara berpikira Garis-Politik yang
kompleks, dengan sendirinya kalau menggunakan pemikiran sistem
politik dan mode berpikir yang digunakan untuk komunitas
sederhana, yang terjadi hanyalah omong kosong. Karena segala
pemerintahan besar dari komunitas yang kompleks tidak bisa
dipandang sederhana. Dunia ini sangat rumit, dan politik juga
sangat rumit. Jika kita ingin memandang dunia, kita harus
memandangnya dengan mata yang rumit, dan kita harus memulihkannya.
Sekian, …. Terima kasih!
------------------------------------------------------------------------
[1] <#m_4155672204283210975__ftnref1>Tujuan besar "dua kali
seratus tahun": maksudnya peringatan 100 tahun berdirinya PKT, di
tahun 2021 ekonomi nasional dan sistem akan mencapai masyarakat
makmur, bebas dari kemiskinan; sedang peringatan 100 tahun ke-2
berdiri tegaknya RRT, tahun 2049 yad, RRT pada dasarnya
ditargetkan akan mencapai negara modern dengan menjadi negara
sosialis yang kuat, makmur, demokratis, dan beradab. - ChanCT