-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-4999760/hari-pendidikan-tanpa-ruang-kelas?tag_from=wp_cb_kolom_list



Kolom

(Hari) Pendidikan Tanpa Ruang Kelas

Fikri Abdilah - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 16:30 WIB
1 komentar
SHARE URL telah disalin
Belajar Online
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

In school, you learn how to learn. Kutipan tersebut menggambarkan betapa 
pentingnya ruang-ruang kelas di sekolah sebagai tempat belajar dan mengajar. 
Namun sayangnya, ruang kelas yang biasanya menjadi tempat bertatap muka dan 
berinteraksi guru dan siswa, mau tidak mau, harus berhenti sejenak dikarenakan 
adanya keharusan social atau physical distancing demi mencegah meluasnya 
penyebaran virus corona.

Bahkan, Hari Pendidikan yang sangat identik dengan sekolah, upacara, dan ruang 
kelas harus beradaptasi dengan adanya pandemi ini. Hampir semua negara di dunia 
yang terdampak memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Akibatnya, proses belajar 
dan mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka di ruang kelas harus 
berpindah ke rumah masing-masing.

Seperti negara lainnya, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Indonesia pun 
harus dilaksanakan dari rumah, merujuk pada Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 
Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan, dan Nomor 
36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran Secara Daring dan Bekerja dari Rumah 
dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus disease. Hal ini mendadak 
menyebabkan banyak sekolah harus bergerak cepat mempersiapkan pembelajaran 
sesuai dengan kemampuan dari sekolah masing-masing.

Dan, pada akhirnya kita semua sedang dipaksa untuk bertransformasi ke dunia 
pendidikan digital yang sebenarnya sudah ada sejak lama, namun cukup sulit 
dilaksanakan sebelumnya. Kini, ketika tidak ada lagi ruang kelas untuk belajar, 
semuanya harus menerima digitalisasi pendidikan.

Keterbatasan Sarana

Berdasarkan data dari We Are Social, pada 2020 disebutkan baru 64% penduduk di 
Indonesia yang sudah menggunakan internet. Data tersebut tidak mencakup 
seberapa banyak masyarakat yang sudah melek dalam penggunaan internet dalam 
dunia pendidikan. Artinya, masih banyak sekolah di Indonesia yang tidak 
melaksanakan pembelajaran daring dikarenakan keterbatasan sarana, baik dari 
guru dan siswa.

Kita ambil contoh dari salah satu guru di Sumenep yang belum lama ini viral, 
Pak Avan Fathurahman. Ia viral setelah banyak posting-an di media sosial yang 
menyebutkan bahwa dirinya terpaksa mengajar dari rumah ke rumah dikarenakan 
siswanya tidak memiliki handphone. Tentu saja Pak Arvan hanyalah salah satu 
contoh dari sekian banyaknya guru di Indonesia yang kesulitan dalam mengajar 
dalam situasi pandemi ini. Artinya, masih banyak sekolah yang kemungkinan tidak 
melakukan pembelajaran sama sekali setiap harinya.

Padahal, Kementerian Pendidikan sedang menyiapkan skenario pendidikan daring 
hingga Desember. Akan sangat disayangkan jika masih banyak siswa tidak 
benar-benar merasakan kegiatan belajar hingga akhir tahun.

Pembelajaran daring memang tidak seefektif sistem tatap muka, terlebih pada 
saat pandemi seperti ini. Oleh karena itu, pemerintah harus mempersiapkan 
infrastruktur dan perencanaan yang baik agar semua guru dan siswa dapat 
melakukan KBM.

Perlu Paksaan

Sebetulnya, internet sudah bukan barang asing bagi banyak guru dan siswa di 
Indonesia. Namun pada pelaksanaannya sebelum terjadi pandemi ini, belum banyak 
guru dan siswa menggunakan gadgetnya untuk kegiatan KBM sehari-hari. Gadget 
digunakan masih sebatas untuk bersosial media, bermain game, membuka online 
shop, hingga menonton video.

Dan saat ini, proses KBM daring sudah berlangsung sekitar dua bulan lamanya. 
Guru dan siswa dalam home learning harus dipaksa siap. Tanpa perencanaan matang 
jauh-jauh hari, KBM berubah dari tatap muka menjadi daring dengan memanfaatkan 
teknologi dan internet.

Guru dan murid yang sudah mendapatkan akses internet dan memiliki teknologi 
pendukung untuk melaksanakan pembelajaran daring atau jarak jauh pun dimudahkan 
dengan banyaknya platform yang dapat digunakan dalam KBM. Tatap muka dapat 
dilakukan dengan platform Zoom, Google Hangout, Webex, Whatsapp, dan lain-lain. 
Pemberian materi dan tugas dapat dilakukan melalui Google Classroom, Edmodo, 
Moodle, Schoology, Zenius, Ruangguru, Quipper, dan lain-lain.

Pada akhirnya, adaptasi digitalisasi pendidikan yang selama ini cukup sulit 
dilaksanakan dalam dunia pendidikan menjadi lebih cepat terbangun. Karena 
sebetulnya, digitalisasi pendidikan merupakan salah satu pemecahan masalah 
pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia yang memiliki kondisi geografis 
kepulauan dan sangat majemuk. Digitalisasi pendidikan di Indonesia sangat perlu 
adanya paksaan agar terjadi secara serentak dan lebih cepat, mulai dari pusat 
hingga guru dan siswa di daerah.

Hari pendidikan di tengah situasi ini sepatutnya menjadi pembelajaran bagi 
pemerintah untuk membuat kebijakan dan mempersiapkan sarana prasarana yang 
merata untuk seluruh guru dan siswa di Indonesia. Harapannya, setelah pandemi 
ini akan tercipta era baru dengan dunia yang semakin maju dan teknologi yang 
semakin canggih dapat membantu percepatan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Fikri Abdilah teacher & education technology enthusiast

(mmu/mmu)






Kirim email ke